KREDIT RUMAH: BNI raih booking baru Rp1,5 triliun

JAKARTA: PT Bank Negara Indonesia Tbk berhasil membukukan baki debet kredit pemilikan rumah Rp19,5 triliun, kartu kredit Rp4,3 triliun dan kredit tanpa agunan Rp750 miliar sepanjang triwulan pertama tahun ini.Direktur Konsumer dan Ritel Bank Negara Indonesia
M. Munir Haikal
M. Munir Haikal - Bisnis.com 12 April 2012  |  19:17 WIB

JAKARTA: PT Bank Negara Indonesia Tbk berhasil membukukan baki debet kredit pemilikan rumah Rp19,5 triliun, kartu kredit Rp4,3 triliun dan kredit tanpa agunan Rp750 miliar sepanjang triwulan pertama tahun ini.Direktur Konsumer dan Ritel Bank Negara Indonesia (BNI) Darmadi Sutanto mengungkapkan per Desember 2011, baki debet [outstanding] kredit pemilikan rumah (KPR) mencapai Rp18 triliun. Sementara kredit tanpa agunan (KTA) mencapai Rp600 miliar pada akhir tahun lalu.Dengan demikian telah terjadi booking baru sebanyak Rp1,5 triliun untuk penyaluran KPR dan Rp100 miliar booking baru bagi penyaluran KTA.Adapun Per Desember 2011 total kredit konsumer BNI mencapai Rp 32 triliun, tumbuh 45% dari posisi Desember 2010. KPR dominan dengan pertumbuhan kredit 50% menjadi Rp18 triliun. Sedangkan kartu kredit tumbuh 34% menjadi Rp4 triliun. Sisanya kredit kendaraan bermotor (KKB) meningkat 5% menjadi Rp6,5 triliun dan kredit wirausaha Rp 3,2 triliun.Selain penyaluran kredit, segmen bisnis ritel perseroan juga menargetkan perolehan dana kelolaan guna menunjang penyaluan pembiayaan. Salah satunya adalah melalui kelolaan dana nasabah kaya melalui layanan BNI Emerald.Noviana C Purnamasari, VP Emerald and Affluent Segment BNI mengungkapkan hingg Februari 2012 perseroan telah mengelola Rp35 triliun dari segmen tersebut. Dana tersebut diperkirakan dapat mencapai Rp46 triliun pada akhir tahun ini."Dari total dana tersebut, 60% masih menyimpan dana di deposito, sisanya melalui tabungan. Meski terbilang tinggi, komposisi dana nasabah prioritas kami itu masih lebih baik dibandingkan bank lain," ujarnya kepada Bisnis, hari ini 12 April 2012.Adapun dari total dana tersebut, hanya Rp5,5 triliun yang masuk ke dalam instrumen investasi. Menurut Noviana, pada umumnya karakter nasabah di Indonesia memang masih konservatif sehingga belum banyak menaruhd ana pada instrumen investasi.Adapun perseroan menargetkan perolehan pendapatan berbasis biaya (fee based income/ FBI) Rp40 miliar yang berasal dari kelolaan dana nasabah melalui instrumen investasi sepanjang tahun ini. Dengan demikian perseroan menargetkan jumlah dana baru yang masuk ke instrumen investasi pada tahun ini dapat mencapai Rp80 miliar dengan rasio komisi bagi BNI 0,5%. (faa)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Dara Aziliya

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top