Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

VALASDana bank banyak parkir di luar negeri, Indonesia kekurangan pasok devisa

 
Saeno
Saeno - Bisnis.com 29 Mei 2012  |  23:58 WIB

 

JAKARTA: Bank Indonesia mengungkapkan bank nasional lebih memilih penempatan dana valuta asing di luar negeri, sehingga membuat suplai di dalam negeri kekurangan. Likuiditas yang ditaruh di pasar uang luar negeri mencapai US$2 miliar per hari.
 
Nilai tersebut jauh lebih besar dari transaksi di pasar uang dalam negeri yang hanya mencapai US$300 juta-US$400 juta per hari. Adapun total dana valas perbankan saat ini sekitar US$43 miliar dalam bentuk giro, tabungan dan deposito.
 
Gubernur Bank Indonesia Darmin Nasution mengatakan bank nasional memilih membawa dananya di luar negeri karena tidak ada fasilitas simpanan di dalam negeri.
 
“Pada umumnya karena di dalam negeri tidak [ada instrumen] mereka menempatkan di pasar uang luar negeri.  Akhirnya valas itu pergi keluar. Dengan melihat perkembangan itu BI membuka term deposit valas,” ujarnya dalam koferensi pers hari ini, Selasa 29 Mei 2012.
 
Tahun lalu, BI menerbitkan ketentuan devisa hasil ekspor. Meskipun hanya sesaat, eksportir diwajibkan membawa kembali dana hasil ekspor ke dalam negeri. Namun, setelah dana ditempatkan di sistem perbankan nasional, belakangan justru disimpan bankir di luar negeri.
 
Darmin menyadari penempatan dana di luar negeri karena untuk menghindari batas maksimal posisi devisa netto (net open position).  Posisi devisa netto adalah selisih antara kewajiban dan aset valas yang tidak boleh lebih dari 20% dari modal bank.
 
Padahal, lanjutnya, penempatan dana di luar negeri terbilang mengalami minus imbal hasil (negative spread). Pasalnya, dari nasabah bank memberikan bunga sekitar 1,7%—1,8%, tetapi penempatan dana di Singapura hanya mendapat yield 0,1%—0,2%.
 
Dia optimistis term deposit valas ini lebih menguntungkan dibandingkan dengan penempatan dana di luar negeri, karena imbal hasil yang diberikan lebih kompetitif. Selain itu, tambahnya, tingkat risikonya rendah. (sut)
 
 
 

BACA JUGA:

 

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top