Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KENAIKAN HARGA BBM: Risiko Kredit Mikro Masih Terkendali

BISNIS.COM, JAKARTA--Pelaku industri perbankan menilai kredit mikro masih memiliki daya tahan dari lonjakan rasio non-performing loan atau NPL di tengah potensi kenaikan inflasi dan harga bahan bakar minyak bersubsidi.Direktur Bisnis Usaha Mikro Kecil
Roberto A. Purba
Roberto A. Purba - Bisnis.com 20 Juni 2013  |  17:54 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA--Pelaku industri perbankan menilai kredit mikro masih memiliki daya tahan dari lonjakan rasio non-performing loan atau NPL di tengah potensi kenaikan inflasi dan harga bahan bakar minyak bersubsidi.

Direktur Bisnis Usaha Mikro Kecil Menengah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk Djarot Kusumajakti mengatakan banknya melihat risiko kredit mikro masih terkendali di tengah ancaman meningkatnya inflasi. BRI menargetkan bisa menjaga rasio NPL kredit mikro pada level 2% sepanjang tahun ini.

"Pengusaha mikro akan merasakan dampak paling akhir, setelah sektor lain atau korporasi tertentu yang terkena lebih dulu. Oleh karenanya, kami yakin bisa menjaga rasio NPL gros pada level 2%," katanya, Kamis (20/6/2013).

Dia mengatakan sebagian besar pelaku usaha mikro tidak terlalu banyak membutuhkan BBM dalam produksinya. Kondisi ini, membuat pelaku usaha mikro relatif aman dari dampak langsung kenaikan harga BBM bersubsidi. Pelaku usaha mikro, lanjutnya, lebih rentan terganggu oleh lonjakan inflasi yang sebenarnya masih terkait dengan harga BBM.

"Karena efeknya tidak langsung dan terkena dampak paling akhir, maka saat pelaku usaha mikro mulai merasakan imbasnya saat kondisi ekonomi sudah stabil," katanya.

Mengutip neraca keuangan BRI per kuartal I/2013, realisasi penyaluran kredit mencapai Rp361,26 triliun atau tumbuh 27,59% dibandingkan dengan Rp283,14 triliun pada periode yang sama 2012.

Dari realisasi tersebut, penyaluran pinjaman untuk sektor ritel dan mikro mencapai 68,52% terhadap total kredit. Khusus kredit mikro, per periode laporan itu tercatat tumbuh 22,3% secara year on year.

"Kami sudah memetakan sektor mikro mana saja yang rentan terhadap kenaikan harga BBM bersubsidi sebagai upaya mitigasi risiko," katanya.

Djarot mengatakan salah satu sektor usaha mikro yang rentan terhadap perubahan harga BBM subsidi antara lain perikanan dengan kegiatan usaha nelayan.

Menurutnya, walaupun nelayan mendapatkan subsidi bahan bakar, namun tetap sangat bergantung terhadap alokasinya dari pemerintah. Selama pengaturan subsidi bahan bakar bagi nelayan lancar, maka profil risiko kredit untuk jenis usaha itu tergolong tetap aman.

"Kami mengklasifikasikan subsektor perikanan ke dalam kategori kredit sektor pertanian. Harus diakui, porsi kredit untuk sektor perikanan belum terlalu besar," katanya. Produk kredit yang disalurkan kepada nelayan antara lain kredit usaha rakyat (KUR).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bbm subsidi bri npl kredit mikro
Editor :

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top