RI-China Bertukar Mata Uang Senilai 100 Miliar Yuan

Bisnis.com, JAKARTA--Pemerintah China sepakat memperpanjang pertukaran mata uang (bilateral currency swap) senilai 100 miliar yuan dengan Pemerintah Indonesia.Hal itu terungkap dalam keterangan pers bersama usai pertemuan bilateral antara Presiden Susilo
Anggi Oktarinda | 02 Oktober 2013 19:25 WIB

Bisnis.com, JAKARTA--Pemerintah China sepakat memperpanjang pertukaran mata uang (bilateral currency swap) senilai 100 miliar yuan dengan Pemerintah Indonesia.

Hal itu terungkap dalam keterangan pers bersama usai pertemuan bilateral antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan koleganya dari China Xi Jinping di Istana Merdeka, Komplek Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (2/10/2013).

"Tadi kami melakukan pertemuan yang berhasil. Kedua pihak menandatangni persetujuan tentang pertukaran mata uang bilateral senilai 100 miliar yuan sekaligus mempertimbangkan memperluas skalanya," ujar Jinping.

Menko Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan pertukaran mata uang dengan pemerintah China terutama untuk mendukung pembangunan dan memfasilitasi perdagangan.

"Jadi ada bilateral swap, itu urusannya Bank Indonesia. Ada currency swap. Kami hari ini tidak bicara bilateral swap. Yang kita bicarakan currency,"
katanya.

Hatta mengatakan fasilitas pertukaran mata uang yang ditawarkan oleh China pada kali ini merupakan lanjutan dari fasilitas serupa yang pernah dilakukan kedua negara pada 2009.

"Iya sama. Dulu kita juga punya fasilitas yang sama. Tapi kurang dimanfaatkan. Ini mereka melanjutkan lagi," katanya.

Hanya saja, Hatta tidak menyebutkan berapa lama jangka waktu perjanjian pertukaran mata uang antara RI dan China kali ini.

Jangka waktu perlu didalami lagi dalam tataran teknis.

Pada Maret 2009, Bank Rakyat Tiongkok dan Bank Indonesia telah menandatangani perjanjian pertukaran mata uang senilai 100 miliar yuan yang berlangsung selama 3 tahun.  (ra)

Tag : china, mata uang
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top