Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ketika Bank Masih Saja Kalah Pamor

Pagi itu sekitar pukul 07.00 ketika Lukas Longa (65) telah bersiap-siap. Lukas nampak rapi, mengenakan sarung tenun tradisional dipadu dengan kemeja dan lega (tas tradisional dari ayaman daun lontar). Sambil merokok, Lukas memanggil keponakannya, Bonny untuk mengojek ke Koperasi, yang berjarak sekitar 45 menit.
Thomas Mola
Thomas Mola - Bisnis.com 27 Januari 2015  |  21:29 WIB
Ilustrasi - Bisnis
Ilustrasi - Bisnis

Pagi itu sekitar pukul 07.00 ketika Lukas Longa (65) telah bersiap-siap. Lukas nampak rapi, mengenakan sarung tenun tradisional dipadu dengan kemeja dan lega (tas tradisional dari ayaman daun lontar). Sambil merokok, Lukas memanggil keponakannya, Bonny untuk mengojek ke Koperasi, yang berjarak sekitar 45 menit.

“Tadi saya orang pertama. Kantor belum buka tapi saya tunggu saja karena saya mau langsung ke kebun. Tadi cicil 100.00 untuk pinjaman saya yang Rp5 juta bulan Juli kemarin. Waktu itu pinjam untuk ke Semarang, hadiri nikah anak,” tuturnya kepada Bisnis setelah kembali dari Koperasi.

Sebagai petani dan tukang besi, Lukas mengaku telah beberapa kali meminjam uang di Koperasi. Keperluannya pun beragam mulai dari membiayai anak sekolah, hingga membeli perlengkapan sebagai tukang besi dan petani.

Lukas adalah salah satu penduduk kampung Nage, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Flores, NTT yang telah beberapa tahun menjadi nasabah koperasi. Menurutnya, saat ini hampir semua kepala keluarga di Kecamatan Jerebuu telah menjadi nasabah koperasi.

“Ada bukunya, layanan juga cepat dan kami tertib cicil. Berapa pun uang yang kami punya mereka terima kadang cicil Rp100.000 kadang Rp500.000 tergantung hasil panen,” paparnya.

Warga Kampung Nage lainnya, Nani Bonge (54) yang juga anggota Koperasi menuturkan beberapa tahun terakhir koperasi telah menjadi bagian penting untuk pengaturan keuangan masyarakat. Pria yang memiliki usaha warung kecil-kecilan itu sering meminjam di Koperasi untuk keperluan anaknya yang sedang kuliah di Pulau Jawa.

“Kadang Rp10 juta, kadang lebih dari itu tergantung kebutuhan anak. Atau kalau ada hajatan adat di Kampung saya juga pinjam. Cicilan saya tertib dan biasa lunas sebelum jangka waktunya,” paparnya.

Om Nani, pria itu biasa disapa bercerita baru-baru ini salah satu pegawai bank pelat merah berkunjung ke rumahnya untuk menawarkan kredit. Namun, tawaran kredit itu ditolak dengan halus karena merasa belum membutuhkan.

Dia menuturkan pegawai bank itu datang dengan tawaran kredit sebesar Rp50 juta. Namun, jumlah itu dirasa terlalu besar, lagi pula dirinya sudah tidak fokus untuk mengembangkan warung karena sudah banyak orang yang membuka usaha sejenis.

“Saya bilang saya belum butuh. Apalagi saya juga bisa pinjam di Koperasi. Kalau di Koperasi, saya datang dan hari itu juga pinjaman saya bisa cair. Uang kemudian saya titip ke keluarga yang PNS untuk kirim melalui rekeningnya ke anak saya,” paparnya.

Om Nani menuturkan selain kemudahan, petugas koperasi umumnya sangat dikenal oleh warga dan rajin untuk bersosialisasi ke masyarakat. Hal itu membantu masyarakat untuk mengenal lebih dekat koperasi dan layanannya.

Kemudahan layanan, kepercayaan, dan keakraban menjadi salah satu keberhasilan koperasi di Kabupaten Ngada. Dus koperasi yang cukup besar di Kabupaten Ngada ialah Sango Sai dan Sinar Harapan.

Merasa terbantu oleh kemudahan meminjam dan mencicil di Koperasi kemudian menjadi buah bibir dari mulut ke mulut sehingga pamor koperasi menjadi sangat positif.

“Bank bukan orang tidak percaya. Hanya lebih mudah saja kalau di Koperasi. Selain itu, kalau kami makin rajin pinjam kami dapat sisa hasil usaha [SHU]. Di bank banyak potongan dan agak sulit kalau kami butuh pinjaman cepat karena ada syarat-syarat kalau mau pinjam.”

Cerita Lukas dan Om Nani mewakili banyak orang di Flores yang lebih tertarik menyimpan uangnya di koperasi. Kisah sederhana itu sedikitnya menggarisbawahi dua hal. Pertama, kehadiran lembaga keuangan entah itu koperasi atau perbankan pada dasarnya sangat dibutuhkan. Menaruh uang di bawah bantal hanya cerita lama karena jika lembaga keuangan ada di tengah masyarakat, maka masyarakat akan memanfaatkan.

Kedua, minat masyarakat untuk menabung dan meminjam uang sangat besar. Namun, image perbankan sebagai lembaga intermediasi seakan-akan tercipta jarak dengan masyarakat kecil '. Persoalan likuditas ketat nampaknya hanya satu perspektif lain dari industri keuangan yang nyaman dalam menara gading.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus mulai menyadari hal itu dengan mendorong layanan branchless banking. Secara sederhana layanan bank tanpa kantor itu sering digambarkan mirip dengan penjual pulsa yang hadir di tengah masyarakat.

Ketua OJK Muliaman D Hadad menuturkan pada tahun ini terdapat 17 perbankan yang mengikuti program branchless banking. Setidaknya kini, perbankan menyediakan kurang lebih sekitar 30.000 agen baru yang bakal tersebar di seluruh pelosok Tanah Air.

OJK memproyeksikan kehadiran agen-agen tersebut dapat menambah likuiditas perbankan dan menjembatani kesenjangan pertumbuhan ekonomi di Indonesia Timur.

“Kami juga masih menyaksikan ketimpangan pendapatan yang bahkan dalam beberapa tahun terakhir cenderung membesar. Ini menjadi peluang bagi sektor jasa keuangan untuk mengatasi ketimpangan tersebut,” ujar Muliaman.

Seperti diketahui branchless banking merupakan bagian dari upaya literasi keuangan mengingat akses masyarakat Indonesia terhadap lembaga keuangan masih sangat kecil. Perbankan sejatinya memiliki semua “peluru” untuk bersaing, baik dari sisi dana, teknologi, hingga keamanan simpanan karena dijamin.

Namun, tidak semua perbankan bisa dekat dengan masyarakat apalagi menjadi mitra masyarakat untuk pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Tantangan besar bagi perbankan justru terletak pada kemampuan mencerahkan masyarakat dengan cara memberikan gambaran peluang usaha dan lainnya bukan sekedar menawarkan kredit.

Menariknya -tanpa bermaksud mencari pembenaran- mengambil contoh hasil evaluasi terhadap program Kredit Usaha Rakyat (KUR) 2014 terungkap bahwa kontribusi peningkatan non performing loan (NPL) banyak berasal dari pinjaman dengan nominal di atas Rp25 juta.

“NPL paling besar itu berasal dari nasabah dengan nominal Rp25 juta. Sekarang KUR tidak membumi,” ujar Menteri Koperasi dan UMKM Puspayoga beberapa waktu lalu.

Niat Puspayoga membumikan KUR seperti mendapat contoh tepat dalam diri Lukas Longa, Nani Bonge, dan masyarakat kecil lainnya di Kampung Nage, Kecamatan Jerebuu pada umumnya. Saya sendiri yakin cicilan kredit bukan masalah ketika masyarakat kecil merasakan bahwa lembaga keuangan berjasa bagi hidup mereka.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top