Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Klaim Askrindo Oktober Bengkak Jadi Rp1,2 Triliun

PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) mencatatkan nilai klaim Rp1,2 triliun atau meningkat 140% per Oktober 2015 dari posisi Desember 2014 lalu (year to date).
PT Askrindo. /Bisnis.com
PT Askrindo. /Bisnis.com
Bisnis.com, JAKARTA – PT Asuransi Kredit Indonesia (Persero) mencatatkan nilai klaim Rp1,2 triliun atau meningkat 140% per Oktober 2015 dari posisi Desember 2014 lalu (year to date).
 
Antonius Napitupulu, Direktur Utama PT Askrindo mengatakan lonjakan klaim masih disumbang oleh segmen mikro, di lini bisnis Kredit Usaha Rakyat (KUR) maupun Non KUR.
 
“Karena mikro ini sebagian besar debiturnya adalah pedagang. Dengan ekonomi lesu, orang yang belanja berkurang membuat kewajiban membayar juga tersendat,” katanya, seperti dikutip Bisnis, (12/11).
 
Dari jumlah klaim itu, Antonius mengatakan klaim KUR mencapai Rp700 miliar sedangkan Non KUR mencapai Rp500 miliar.
 
“Kalau ditotal segmen mikronya, dari Non KUR itu sekitar Rp300 miliar. Sehingga kontribusi mikro mencapai Rp900 miliar [ditambah KUR],” katanya.
 
Sampai akhir tahun, Antonius memperkirakan jumlah klaim bisa akan membengkak hingga Rp1,5 triliun dengan pertimbangan perbaikan ekonomi yang belum cukup menggerakkan daya beli masyarakat.
 
Kendati klaim melonjak, Askrindo masih mampu mencatatkan laba hingga Rp800 miliar atau meningkat 30% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Tahun ini, pihaknya menargetkan dapat mencapai laba Rp1 triliun.
 
Dia mengatakan peningkatan laba didorong oleh peningkatan premi bruto. Untuk segmen non KUR, premi bruto meningkat 50% menjadi Rp1 triliun hingga Oktober 2015. Total premi secara keseluruhan mencapai Rp3 triliun.
 
“Tahun ini Non KUR mengalahkan KUR karena setop moratorium hingga Agustus kemarin,” katanya.
 
Sampai saat ini, mayoritas bisnis perseroan adalah asuransi kredit mencapai 70%. Adapun, premi asuransi kredit mencapai 40% namun berbanding lurus dengan klaim yang dicatatkan.
 
“Nah bagaimana klaim yang berikutnya bisa kami rem, tergantung dari Non Performing Loan Perbankan, yakni memilih debiturnya dan keadaan ekonomi tahun depan,” katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Irene Agustine

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper