Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Margin Bank Bakal Tertekan

Industri perbankan akan menghadapi tekanan terhadap margin bunga bersih (net interest margin/NIM) pada tahun depan. Dalam lima tahun terakhir industri perbankan berhasil menaikan NIM dari level 4% menuju 6%.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 27 September 2016  |  05:58 WIB
Ilustrasi - www.udku.com.au
Ilustrasi - www.udku.com.au

Bisnis.com, JAKARTA—Industri perbankan akan menghadapi tekanan terhadap margin bunga bersih (net interest margin/NIM) pada tahun depan. Dalam lima tahun terakhir industri perbankan berhasil menaikan NIM dari level 4% menuju 6%.

Tekanan terhadap margin bunga bersih pada tahun depan bisa dikompensasi bila biaya pencadangan (provisi) konsisten mencatatkan perbaikan dan perbaikan kondisi operasinal dalam jangka panjang. Pendapatan merupakan komponen yang paling sensitif terhadap tekanan NIM, sebab rasio tersebut berperan 75% pada pendapatan.

Analis BCA Sekuritas Igor Nyoman Putra menuliskan dalam  riset, tekanan terhadap NIM akan berpengaruh terhadap raihan laba. Dia memprakirakan NIM industri perbankan akan turun hingga 32 basis poin (bps) pada 2017-2018, dibandingkan dengan ekspektasi yang bisa turun 22 bps secara tahunan.

Dia mengungkapkan hal yang sering diperdebatkan oleh bank besar yakni kesulitan dalam mempertahankan atau menumbuhkan suku bunga deposito, sebab bunga deposito bank besar lebih rendah dari bank-bank kecil. Meski kelompok bank besar memiliki kekhawatiran, katanya, kondisi tersebut tidak berefek besar.

"Bunga deposito tinggi yang ditawarkan kelompok bank kecil tidak akan bertahan  jangka panjang. NIM bank-bank kecil juga akan terkuras, mereka akan kurang kompetitif dari bunga kredit," tulisnya dalam riset baru-baru ini.

Statistik Perbankan Indonesia Otoritas Jasa Keuangan (SPI OJK) mencatatkan rasio NIM industri perbankan pada Juli 2016 mencapai 5,59%. Sebagai pembanding, rasio NIM pada akhir 2015, 2014, 2013 dan 2012 masing-masing 5,39%, 4,23%, 4,89% dan 5,49%.

Berdasarkan bank umum kegiatan usaha (BUKU), rasio NIM pada kelompok BUKU 1 pada Juli 2016 mencapai 6,19%, BUKU 2 mencapai 5%, BUKU 3 dengan rasio 4,72% dan BUKU 4 mencatatkan NIM tertinggi dari semua kelompok yakni 6,48%.

Untuk memitigasi tekanan terhadap NIM, katanya, industri perbankan bisa menggenjot dana murah. Dia mengungkapkan akhir-akhir ini pemerintah menggenjot industri perbankan untuk menurunkan suku pinjaman, sehingga pada tahun depan sangat berpeluang terjadi penurunan bunga deposito lagi.

Equity Research Mandiri Securitas Tjandra Lienandjaja  mengatakan di tengah perlambatan permintaan kredit, margin bunga bersih bank tengah menunjukkan tren peningkatan. Dia memproyeksikan hingga akhir 2016, NIM bank akan turun sekitar 20 basis poin. 


Dalam rangka menekan NIM, OJK pun menjanjikan insentif dalam beleid terkait kegiatan usaha dan syarat dalam membuka jaringan kantor dengan menurunkan alokasi modal inti. Batas rasio NIM yang dapat memperoleh insentif adalah bank yang memiliki rasio NIM lebih rendah dari 4,5%, yang berlaku bagi semua BUKU.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank margin
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top