Sektor Transportasi Topa Pertumbuhan Uang Elektronik

Sektor transportasi dinilai sebagai penggerak perkembangan uang elektronik terutama di wilayah aglomerasi.
Dini Hariyanti | 02 November 2016 15:41 WIB
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, JAKARTA—Sektor transportasi dinilai sebagai penggerak perkembangan uang elektronik terutama di wilayah aglomerasi.

Hal itu dikemukakan Hastono Bayu Trisnanto, Presiden Direktur PT Aino Indonesia, menjawab Bisnis. Aino merupakan perusahaan teknologi finansial yang fokus kepada usaha pengintegrasian sistem pembayaran nontunai menggunakan uang elektronik.

Hastono menyatakan transaksi uang elektronik atau electronic money di sektor transportasi terbilang laris. Hal ini sejalan dengan berkembangnya suatu wilayah. “Karena perkembangan wilayah bisa dikaitkan dengan perkembangan transportasinya,” kata Hastono.

Wilayah aglomerasi secara umum bisa diartikan sebagai daerah yang perekonomiannya maju. Aglomerasi sendiri merujuk kepada area tempat berpusatnya perusahaan sehingga lokasi ini menjelma menjadi semacam daerah khusus industri.

Aino mengklaim pihaknnya sudah berkontribusi dalam menyediakan solusi uang elektronik khususnya di bidang transportasi publik di wilayah aglomerasi tersebut. Transportasi dinilai cocok dengan karakter uang elektronik, yakni ditujukan untuk micropayment, digunakan setiap hari, dan butuh transaksi cepat.

Menurut Hastono, uang elektronik memiliki solusi inter-usability, inter-modality, inter-availability, dan inter-operability. Selain itu, penggunaan electronic money di dalam kota ini bisa meminimalisir praktik pungutan-pungutan liar.

Daerah dengan perkembangan uang elektronik yang masif, diakuinya, terpusat di Pulau Jawa. Lebih spesifik disebutkan adalah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Oleh karena itu, ke depan harus diupayakan perluasan ke luar Jawa.

Mengingat daerah di luar Pulau Jawa tidak memiliki sarana transportasi publik selengkap di Jabodetabek maka pengembangan e-money di sana strateginya harus diubah. Dengan kata lain tidak bisa semata mengandalkan transportasi.

“Mungkin daerah itu [yang transpotasinya tak semaju Pulau Jawa] bisa lebih fokus menggunakan e-money untuk penyaluran subsidi secara nontunai,” ucap Hastono.

Dia mengemukakan pada dasarnya transaksi uang elektronik harus dibuat lebih beragam. Memang tidak bisa seterusnya hanya mengandalkan transportasi, harus merambah aneka layanan publik lain terutama program-program yang dijalankan pemerintah.

Walaupun transportasi publik didaulat sebagai sektor yang potensial memperkuat kiprah uang elektronik, bukan berarti tanpa hambatan. Salah satu yang digarisbawahi ialah terus dominannya populasi kendaraan pribadi dibandingkan kendaraan umum.

Tag : transportasi, uang elektronik
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top