Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

EKONOMI KORSEL: Bank of Korea Kembali Pertahankan Suku Bunga 1,25%

Seperti dilansir Bloomberg (Kamis, 15/12/2016), suku bunga acuan repo 7 hari (7-day repo rate) dipertahankan di tingkat rendahnya sebesar 1,25% untuk bulan keenam, sesuai dengan prediksi seluruh ekonom dalam survey Bloomberg.
Bank sentral Korea./Reuters
Bank sentral Korea./Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bank of Korea (BOK) mempertahankan tingkat suku bunga acuannya di level terendah, dengan mempertimbangkan risiko dari keinginan parlemen untuk memakzulkan Presiden Park Geun-hye serta dampak kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS Federal Reserve.

Seperti dilansir Bloomberg (Kamis, 15/12/2016), suku bunga acuan repo 7 hari (7-day repo rate) dipertahankan di tingkat rendahnya sebesar 1,25% untuk bulan keenam, sesuai dengan prediksi seluruh ekonom dalam survey Bloomberg.

Pertemuan kebijakan hari ini adalah yang pertama kali digelar sejak skandal politik yang melibatkan Presiden Park. BOK mengindikasikan bahwa risiko terhadap arah pertumbuhan negara telah meningkat.

Penerapan kebijakan pemerintah dan keputusan bisnis dapat melambat hingga ada kejelasan atas masa depan Park serta periode pemilihan Presiden, dengan Mahkamah Konstitusi yang akan membuat keputusan final atas impeachment dalam 180 hari.

“Di saat terdapat pemikiran bahwa rangkaian kenaikan suku bunga The Fed dapat menyebabkan aliran modal keluar dari Korea Selatan dengan menyempitnya gap imbal hasil, atau bahkan pembalikan, saya telah berulang kali menjelaskan bahwa aliran modal hanyalah salah satu pertimbangan dalam menentukan suku bunga acuan. Kami mempertimbangkan situasi ekonomi dan inflasi secara keseluruhan,” ujar Gubernur BOK Lee Ju-yeol, seperti dikutip Bloomberg hari ini.

Data ekonomi akhir-akhir ini menunjukkan gambaran yang mixed. Tingkat ekspor berekspansi pada November dibandingkan dengan setahun sebelumnya. Di sisi lain, skandal politik menekan tingkat kepercayaan konsumen ke level terendah dalam lebih dari 7 tahun. Adapun, produksi pabrikan pada Oktober dilaporkan lebih buruk dari ekspektasi.

Ditambahkan oleh Lee, Korsel mungkin telah melewati titik terburuk untuk ekspor pada kuartal pertama tahun ini, namun kebijakan proteksionisme perdagangan menyusul terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS membawa risiko terhadap ekonomi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper