KREDIT PERBANKAN SUMBAR: Bank Mulai Prioritaskan Sektor Pertanian

Perbankan mulai memprioritaskan penyaluran kredit ke sektor pertanian di Sumatra Barat, menyusul kian pulihnya harga komoditas di tingkat petani, terutama sawit dan karet
Heri Faisal | 20 Maret 2017 14:40 WIB
Ilustrasi. - .Biisnis/Rachman

Bisnis.com, PADANG— Perbankan mulai memprioritaskan penyaluran kredit ke sektor pertanian di Sumatra Barat, menyusul kian pulihnya harga komoditas di tingkat petani, terutama sawit dan karet.

Direktur Utama PT BPR LPN Sungai Rumbai Parman menyebutkan lebih dari 80% penyaluran kredit perseroan diberikan ke sektor UMKM di bidang pertanian dan perdagangan.

“Khususnya pertanian karena memang harga-harga sudah mulai membaik. Harapan kami harga [tinggi] komoditas ini bisa bertahan,” katanya, Minggu (19/3/2017).

Dia menyebutkan sebagian besar nasabah BPR di Sumbar adalah petani, terutama petani sawit, karet, dan pertanian tanaman pangan yang tergantung dengan pergerakan harga komoditas.

Parman mengungkapkan sepanjang tahun lalu industri BPR mengalami tekanan karena rendahnya harga komoditas pertanian, yang menyebabkan banyaknya debitur dari kalangan petani tidak mampu mengembalikan pinjamannya.

“Sebab, pembiayaan BPR memang kepada petani kecil di pedesaan. Kalau harga anjlok, mereka tidak mampu mengembalikan pinjaman,” kata Ketua Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat (Perbarindo) Sumbar itu.

Makanya, dengan mulai pulihnya harga komoditas pertanian, dia meyakini kinerja keseluruhan BPR ikut terdongkrak. Targetnya penyaluran kredit BPR Sumbar tahun ini di kisaran 12%-15%.

Adapun, tahun lalu kinerja penyaluran kredit BPR daerah itu hanya tumbuh 8,89% menjadi Rp1,25 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp1,15 triliun.

Sementara, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) mencapai 11,89% dari Rp1,24 triliun menjadi Rp1,39 triliun. Dengan begitu, aset 98 BPR Sumbar mengalami pertumbuhan 7,81% dari Rp1,62 triliun menjadi Rp1,75 triliun.

Penyaluran kredit ke sektor pertanian juga menjadi prioritas PT BPD Sumbar alias Bank Nagari. Bank milik pemda itu mengalokasikan Rp300 miliar melalui skema kredit usaha rakyat (KUR) yang akan diberikan ke sektor pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan.

“[Kredit] terutama lewat KUR, kalau kurang kami akan ajukan lagi ke pemerintah. Juga lewat program lainnya bekerjasama dengan pemda,” kata Hendri, Direktur Kredit dan Syariah Bank Nagari.

Menurutnya, sektor pertanian yang menjadi salah satu penopang perekonomian Sumbar merupakan prioritas penyaluran kredit perseroan, selain kredit UMKM ke sektor perdagangan dan jasa.

Dia meyakini mulai membaiknya harga komoditas pertanian akan meningkatkan penyaluran pembiayaan ke sektor itu. Apalagi, dari sisi produksi sebesar 24% pembentukan ekonomi Sumbar berasal dari sektor pertanian.

Adapun, sepanjang tahun lalu, data Bank Indonesia mencatatkan penyaluran kredit ke sektor pertanian mengalami perlambatan 5,3% pada kuartal IV 2016, jauh lebih rendah dari pertumbuhan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 15,3%.

Total penyaluran kredit ke sektor pertanian baru berkisar Rp4,76 triliun dengan porsi sektor itu terhadap total penyaluran kredit di Sumbar mencapai 17%.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mendorong perbankan setempat meningkatkan penyaluran kredit ke UMKM di bidang pertanian dan perdagangan guna menstimulus pertumbuhan ekonomi daerah.

“Meskipun NPL-nya [UMKM] cukup tinggi, kami minta bank tetap prioritaskan, tentu dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian,” kata Indra Yuheri, Kepala OJK Perwakilan Sumbar.

Secara keseluruhan, kucuran kredit UMKM di Sumbar tahun lalu, terbilang stagnan atau hanya tumbuh 2,86% menjadi Rp14,03 triliun dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp13,64 triliun.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
sumbar

Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top