Ini Ambisi BTN Bila Masuk Lima Bank Besar

JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. berambisi masuk dalam peringkat bank beraset kelima terbesar di Tanah Air agar dapat bersaing di level internasional.
Ropesta Sitorus | 19 Juni 2017 12:20 WIB
Layanan nasabah di kantor PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) di Jakarta. - JIBI/Dedi Gunawan
Bisnis.com, JAKARTA - PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. berambisi masuk dalam peringkat bank beraset kelima terbesar di Tanah Air agar dapat bersaing di level internasional. 
 
BTN menargetkan aset bertumbuh 18,1% menjadi Rp253 triliun akhir tahun ini. Per akhir 2016, BTN menempati posisi keenam bank beraset terbesar dengan jumlah aset Rp214,16 triliun. 
 
Direktur Utama BTN Maryono mengungkapkan, bila perseroan telah mampu naik kelas menjadi bank kelima terbesar, BTN diharapkan mampu menjadi lembaga pembiayaan terbesar dengan service level skala internasional. 
 
"Jadi service kami harus setara dengan yang dilakukan perbankan di dunia. Ini untuk mengantisipasi integrasi perbankan Asean 2020 sehingga kita akan bersaing dengan bank-bank internasional dengan service yang lebih besar," katanya di Jakarta, Minggu (18/6/2017) malam. 
 
Dia menuturkan, layanan nasabah merupakan salah satu tantangan yang dihadapi tahun ini. Oleh karena itu, emiten bersandi BBTN tersebut melakukan transformasi terutama dalam sistem operasi berbasis teknologi informasi.  
 
"Perubahan tersebut dari branchless operation menjadi sentralisasi, jadi semua layanan kepada nasabah dipusatkan di kantor pusat dengan menggunakan layanan yang canggih," jelasnya. 
 
Perubahan sistem pelayanan tersebut, lanjutnya, akan meningkatkan efisiensi dan memangkas biaya dana yang dikeluarkan nasabah. 
 
"Dengan dana pihak ketiga yang tumbuh rata-rata 20%, tidak tertutup kemungkinan cost of fund kami akan turun. Ke depan kami akan prioritaskan menerima DPK dana murah, bukan dana yang mahal," katanya. 
 
Direktur Bank BTN Adi Setianto menambahkan dengan efisiensi dan loncatan transformasi, rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) diharapkan dapat menurun. 
 
"Dengan digital banking dan segmentasi nasabah secara lebih fokus dan mulai bermain di level menengah atas, maka CASA akan naik. BOPO juga akan turun, minimal sama dengan industri karena saat ini kami masih di atas industri," kata Adi. 
 
Selain efisiensi operasional, BTN juga akan fokus dan lebih agresif di pasar kredit pemilikan rumah. Bahkan, hingga 2022, BTN berambisi menguasai 40% pangsa pasar KPR. 
 
Tahun ini, laju pertumbuhan kredit dan pembiayaan akan dijaga di level 18% secara tahunan. Adapun, hingga Mei 2017, kredit BTN tumbuh 18,7% yoy menjadi Rp173 triliun. 

Berbagai aksi dilakukan dalam memacu penyaluran kredit dan pembiayaan, mulai dari menciptakan pengembang handal dan bisnis properti berkelanjutan lewat Housing Finance Center (HFC), hingga menyalurkan kredit konstruksi. 

Selain KPR, BTN juga menyalurkan pinjaman untuk kebutuhan rumah tangga (home financing), kredit pemilikan apartemen (KPA) dan kredit konsumsi lainnya. 

Dari segi penghimpunan dana pihak ketiga (DPK), ditargetkan tumbuh pada kisaran 22%-24% yoy. Salah satu strateginya, BTN membidik segmen emerging affluent, yakni kelompok masyarakat berpenghasilan Rp7 juta-Rp30 juta, sebagai sumber pendanaan sekaligus debitur pinjaman. 
 
Bank BTN juga berupaya menghimpun DPK dari berbagai nasabah potensial dalam rantai bisnis di segmen usaha kecil dan menengah (UKM), komersial, dan korporasi.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
btn, perbankan

Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top