POTRET INDUSTRI PERBANKAN: Tenaga Besar, Nafsu (Usaha) Kurang

Prospek 2018 diwarnai optimisme. Bank Indonesia menargetkan pertumbuhan kredit bisa tembus 10% sampai 12%. Berbagai kebijakan pendukung untuk optimalisasi intermediasi maupun ketersediaan likuiditas perbankan disiapkan oleh bank sentral.
Surya Rianto | 30 November 2017 11:41 WIB
Presiden Joko Widodo menyampaikan paparan saat Pertemuan Tahunan Bank Indonesia 2017 di Jakarta, Selasa (28/11). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA - Prospek 2018 diwarnai optimisme. Bank Indonesia menargetkan pertumbuhan kredit bisa tembus 10% sampai 12%. Berbagai kebijakan pendukung untuk optimalisasi intermediasi maupun ketersediaan likuiditas perbankan disiapkan oleh bank sentral.

Otoritas moneter itu akan memberikan kemudahan dalam pengelolaan likuiditas perbankan lewat penguatan giro wajib minimum (GWM) rata-rata yang juga akan merambah dana pihak ketiga (DPK) valuta asing maupun perbankan syariah.

Selain itu, Bank Indonesia (BI) akan menyempurnakan GWM rata-rata lewat penyesuaian rasio dan memperpanjang masa pemenuhan giro wajib tersebut.

“Walaupun belum akan langsung sepenuhnya menjadi GWM rata-rata, tetapi kami ingin mengarah ke sana. Lalu, pada semester II/2018 nanti perbankan syariah juga sudah mulai menggunakan GWM rata-rata,” ujar Agus Martowardojo, Gubernur BI, setelah pertemuan tahunan pada Selasa (28/11).

Tidak hanya pada GWM primer, BI juga memberikan fleksibilitas dalam pengelolaan alat likuid pada GWM sekunder. Bank sentral akan mengganti GWM sekunder itu dengan buffer likuiditas makroprudensial, di mana nantinya pengelolaan instrumen likuid perbankan bisa direpokan sesuai dengan ketentuan operasi moneter.

Namun, perbankan memberikan catatan bahwa persoalan utama saat ini bukan pada perbankan atau ketersediaan likuiditas, tetapi upaya untuk menggenjot permintaan kredit pada sektor riil.

Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Kartika Wirjoatmodjo mengatakan, dari sisi moneter saat ini likuiditas masih cukup longgar. Namun, sambungnya, untuk memacu pertumbuhan kredit harus mengeluarkan kebijakan yang bisa mendorong sektor riil.

“Kalau sektor riil sudah naik, permintaan secara perlahan juga akan meningkat. Untuk tahun depan, tidak ada isu untuk likuiditas perbankan,” ujarnya.

Menurutnya, terkait dengan kebijakan BI dalam memberikan perluasan fleksibilitas untuk pengelolaan likuiditas bank tidak akan mempengaruhi pertumbuhan kredit.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk. Jahja Setiaatmadja menilai, kebijakan BI itu tidak bisa menggenjot pertumbuhan kredit. “Namun, dengan potensi dana likuiditas dari fleksibilitas pengelolaan GWM itu pun bukan berarti akan membahayakan perbankan juga,” sebutnya.

Bank berkode emiten BBCA itu pun menargetkan pertumbuhan kredit cukup konservatif pada 2018, yakni sekitar 10%. “Kalau kami mengambil target konservatif saja, nanti kalau ternyata kondisi membaik tinggal menaikkan targetnya saja,” ujar Jahja.

Walaupun, tidak bisa dipungkiri dengan fleksibilitas pada GWM itu bisa memberikan ruang bank untuk mendapatkan dana lebih yang bisa digunakan untuk kebutuhan penyaluran kredit.

Presiden Direktur PT Bank Maybank Indonesia Tbk. Taswin Zakaria mengatakan, dengan fleksibilitas dari GWM rata-rata dan buffer likuiditas makroprudensial pengganti GWM sekunder berarti berpotensi memperlonggar likuiditas yang tadinya terkunci di sana.

“Nah, dana dari sana pun bisa disalurkan kepada kredit seperti, pada sektor infrastruktur,” ujarnya.

Taswin menyebutkan, untuk GWM rata-rata yang berlaku sejak 1 Juli 2017 lalu, perseroan telah merasakan mafaat dari sisi likuiditas.

“Bisa dilihat sekarang likuiditas sedang bagus, walapun didorong oleh momentum pasar juga. Sekarang tinggal bagaimana mendorong pertumbuhan kredit agar bisa mencapai seperti yang diharapkan, sejauh ini perbankan sudah siap,” sebutnya.

Dia melanjutkan, pihaknya berharap proyeksi pertumbuhan ekonomi yang ditargetkan 5,1% sampai 5,5% bisa terealisasi tahun depan. “Investasi pemerintah juga diharapkan tidak hanya berdampak pada BUMN dan korporasi besar, tetapi juga kepada UMKM ,” ujarnya.

Walaupun begitu, Jahja menyebutkan, kebijakan GWM rata-rata yang diperkuat itu tidak akan lantas menekan biaya dana.

“Dampaknya lebih kepada bank enggak akan kaget bila ada pengetatan likuiditas sehingga membutuhkan dana dengan biaya mahal,” sebutnya.

Dengan penurunan biaya dana lebih lanjut berpotensi mendorong penurunan bunga kredit yang diharapkan satu digit. Namun, dalam menggenjot permintaan kredit bukan hanya bicara bunga kredit rendah.

Jahja mengatakan, karakter pertumbuhan kredit itu ada dua yakni, konsumer dan modal kerja.

Menurutnya, kredit konsumen lebih elastis. Apabila bunga turun, sambungnya, permintaan akan naik, sedangkan kredit modal kerja dipengaruhi oleh tingkat penjualan para pengusaha. Jika penjualan tidak naik, berarti tidak ada kebutuhan tambahan kredit untuk ekspansi.

“Ibarat naik mobil, kalau jalanan lagi macet ya jangan di gas terus dong. Jadi, enggak apa-apa lambat yang penting selamat,” ujarnya.

Dengan melihat fenomena itu, apakah tema pada Bankers Dinner, Memperkuat Momentum, bisa mendorong intermediasi perbankan karena sektor riil yang lagi loyo?

Mengingat, pada tahun ini pertumbuhan kredit sebenarnya ditargetkan sama dengan angka serupa pada 2018, tetapi kondisi sektor riil yang masih lemah membuat pertumbuhan pembiayaan perbankan sampai Oktober 2017 baru menyampai 8%.

Tag : perbankan, kredit
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top