Tahun Politik, Industri Asuransi Jiwa Diproyeksi Tetap Tumbuh Positif

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) optimistis industri asuransi jiwa tetap tumbuh positif pada 2018.
Azizah Nur Alfi | 18 Maret 2018 17:37 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) optimistis industri asuransi jiwa tetap tumbuh positif pada 2018, meskipun memasuki tahun politik.

Ketua AAJI Hendrisman Rahim memproyeksikan, pertumbuhan industri asuransi jiwa sepanjang tahun ini akan mengikuti pola yang sama dengan tahun lalu. Oleh karena itu, pada tahun ini, industri asuransi jiwa diproyeksi tumbuh 20%-30%.

AAJI mencatat, total pendapatan industri asuransi jiwa pada kuartal 4 2017 sebesar Rp254,22 triliun. Jika dibandingkan dengan total pendapatan 2016 sebesar Rp208,92 triliun, maka angka 2017 tumbuh 21,7%.

Pendapatan premi menjadi kontributor terbesar yakni 77% terhadap total pendapatan industri asuransi jiwa. Adapun, pendapatan premi pada kuartal 4 2017 sebesar Rp195,72 triliun atau tumbuh 17,2% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp167,04 triliun.

Pertumbuhan pendapatan premi dipengaruhi oleh premi bisnis baru yang meningkat 22,4% dan premi lanjutan 8,4%. Saluran distribusi bancassurance tetap menjadi kontributor utama terhadap pendapatan premi.

Pendapatan premi dari saluran distribusi bancassurance meningkat 24,1%, saluran keagenan meningkat 11,8%, saluran distribusi alternatif meningkat 12,1%, dan saluran distribusi telemarketing meningkat 4,9%. Adapun, jumlah investasi pada 2017 sebesar Rp486,20 triliun atau tumbuh 22,8% dibandingkan tahun sebelumnya sebesar Rp395,96 triliun.

Kenaikan pada sejumlah indikator mempengaruhi pertumbuhan aset sebesar 24,6% menjadi Rp542,61 triliun pada tahun ini. "Dari apa yang kami punya selama 10 tahun, nyatanya tetap growing terus. Sehingga, kami meyakini tahun ini akan ada pola yang sama, meskipun tahun politik," katanya, sebagai dikutip Bisnis.com, Minggu (18/3/2018).

Lebih lanjut, produk tradisional tetap potensial di tengah produk unit linked yang terus meningkat. Data OJK menyebutkan, pendapatan premi unit linked tahun lalu sebesar Rp82 triliun atau berkontribusi 41,9% terhadap pendapatan premi asuransi jiwa.

Hendrisman menyampaikan, tren produk asuransi pada masa mendatang adalah produk yang mudah dimengerti, didapatkan, dan penjualannya yang mudah. Selain itu, saluran distribusi mulai bergerak ke digital. Maka, kata dia, produk yang dikeluarkan harus dibuat simpel dan melalui saluran digital.

"Masih lebih besar [produk] tradisional. Unit linked juga tetap akan bagus," katanya usai paparan.

Tag : asuransi jiwa
Editor : Anggi Oktarinda

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top