Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengurus Bank BUMN Membengkak, Benarkah Ini Pemborosan?

Susunan direksi dan komisaris bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dinilai terlalu gemuk. Hal itu dinilai membebani bank dan dinilai pemborosan. Benarkah demikian?
Ropesta Sitorus
Ropesta Sitorus - Bisnis.com 26 Maret 2018  |  12:10 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA - Susunan direksi dan komisaris bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) dinilai terlalu gemuk. Hal itu dinilai membebani bank dan dinilai pemborosan. Benarkah demikian?

Direktur Riset Center of Reform on Economy (CORE) Piter Abdullah, mengatakan struktur direksi bank BUMN yang semakin melebar sebenarnya dapat dipahami, seiring semakin lebarnya rentang fungsi yang dilaksanakan perbankan saat ini.

Apalagi, tuntutan agar bank mengikuti perkembangan teknologi membuat terbukanya peluang bisnis dan risiko yang baru sehingga bank perlu mengembangkan organisasinya, termasuk menambah fungsi dan juga direktur yang baru.

Namun, tantangannya adalah sejauh mana pengembangan organisasi tersebut benar-benar produktif dan meningkatkan efisiensi bank-bank BUMN, alih-alih menjadi pemborosan belaka.

“Bank-bank nasional kita khususnya bank BUMN terkenal tidak efisien dengan rasio BOPO yang tinggi. Keputusan menambah direktur baru akan terbukti tepat atau tidak setelah kita melihat kinerja bank BUMN seperti berjalannya fungsi intermediasi, naiknya keuntungan bank dan efisiensi. Kalau tidak, keputusan menambah direktur baru hanya merupakan langkah pemborosan,” tuturnya kepada Bisnis.com,  pekan lalu.

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) bank Himbara yang digelar dalam waktu berbeda selama pekan lalu, memutuskan perombakan dan penambahan susunan komisaris dan direksi bank.

Perubahan itu dialami oleh PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk., PT Bank Mandiri (Persero) Tbk., PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk., serta PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.

Misalnya, seperti yang terjadi di BRI yang menetapkan Hadiyanto sebagai komisaris baru menggantikan Vincentius Sonny Loho yang habis masa jabatannya.

Selain itu, BRI juga memberhentikan dua direksinya, yakni Donsuwan Simatupang karena dapat penugasan ke Bank Mandiri) dan Susy Liestiyowaty yang habis masa jabatanya. BRI lantas mengangkat tiga direksi baru yakni Osbal Saragi Rumahorbo, Achmad Solichin Lutfiyanti dan Supari untuk mengisi jabatan yang diganti serta satu nomenklatur jabatan baru.

Secara total direksi BRI kini menjadi 12, bertambah 1 dari tahun 2017. Adapun, jumlah komisaris BRI sebanyak 9 orang, meningkat dibandingkan tahun 2016 sebanyak 8 orang.

Senada, BTN juga menambah satu jabatan direksi yang baru yakni Direktur Strategic Human Capital Yossi Istanto. Jumlah komisaris juga bertambah dengan masuknya Parman Nataatmadja sehingga struktur direksi dan komisaris BTN masing-masing menjadi 9 orang.

Kondisi yang serupa terjadi pada bank BUMN lainnya seperti BNI dengan jumlah direksi 11 orang dan komisaris 9 orang.

Alasan membengkaknya struktur komisaris dan direksi bank BUMN mendatangkan pertanyaan. Pasalnya bila dibandingkan dengan bank swasta nasional, jumlah komisaris tersebut hampir dua kali lipat.

“Jumlah komisaris misalnya di bank swasta BUKU IV rata-rata 4-5 orang, jadi kalau sampai 10 orang komisaris tentu jadi pertanyaan. Jangan karena jelang tahun politik terkesan bagi bagi jabatan tapi tidak inline dengan kinerja bank,” kata Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara, saat dihubungi Bisnis, akhir pekan lalu.

Bhima menyatakan membengkaknya struktur komisaris dan direksi beberapa bank BUMN tidak mencerminkan kinerja perbankan. Kenaikan pertumbuhan kredit bank Himbara pada 2017 dinilai lebih karena faktor penugasan dalam proyek infrastruktur. Adapun, penyaluran kredit sektor riil tahun 2017 belum terlihat naik signifikan dibanding tahun 2016.

“Sebaiknya kementerian BUMN sebagai shareholder terbesar bank BUMN sedikit bijaklah karena ini untuk dongkrak kepercayaan investor lain. Kalau bank BUMN efisien dan dikelola secara profesional,  saham bank BUMN kinerjanya makin baik dan growth kreditnya bagus,” tuturnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank bumn
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top