Ini Sebagian Langkah Strategis Bank BRI Pada 2018

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. terus mempersiapkan beberapa strategi untuk mewujudkan target jangka menengah panjang yakni menjadi the most valuable bank dan home to the best talent.
Ropesta Sitorus | 20 April 2018 19:30 WIB
Direktur Utama Bank BRI Suprajarto (kedua kanan) didampingi direksi lainnya - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. terus mempersiapkan beberapa strategi untuk mewujudkan target jangka menengah panjang yakni menjadi the most valuable bank dan home to the best talent.

Direktur Utama Bank BRI Suprajarto mengungkapkan strategi terebut terdiri dari lima pilar utama, yakni di segmen bisnis mikro, bisnis usaha kecil dan menengah, bisnis konsumer, korporasi, serta memperkuat perusahaan anak.

Dia menyatakan, segmen UMKM selama ini mendominasi fokus bisnis perseroan dengan proporsi 74,6% dari total kredit konsolidasi pada 2017 sebesar Rp739,3 triliun.

Namun, tahun ini, segmen usaha mikro ditargetkan tumbuh dari 33% menjadi 40% sehingga total porsi kredit UMKM menjadi 80%, diikuti dengan kredit korporasi 20%.

“Kami akan perkuat segmen UKM dan juga konsumer khususnya salary loan, KPR dan KKB,” katanya dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR di Kompleks Senayan, Kamis (19/4/2018).

Secara keseluruhan, bank Wong Cilik itu membidik kenaikan kredit pada tahun ini dapat terakselerasi di level 12,5% secara tahunan dengan kualitas kredit terjaga di level 2,1%. Di sisi penghimpunan simpanan ditargetkan tumbuh sebesar 11% sehingga total laba diproyeksikan tumbuh 10%.

Target-target tersebut lebih tinggi dari realisasi kinerja perseroan pada tahun lalu. Sepanjang 2017, emiten bersandi BBRI ini membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp29,04 triliun, tumbuh 10,7% secara year on year (yoy).

Adapun, penyaluran kredit konsolidasi mencapai Rp739,3 triliun atau tumbuh 11,4%  (yoy) dengan total dana pihak ketiga (DPK) mencapai Rp841,7 triliun, tumbuh 11,5% (yoy).

Untuk mewujudkan target pertumbuhan, BRI juga akan memaksimalkan kontribusi perusahaan anak. Penguatan daya saing dan ekspansi perusahaan anak dilakukan perseroan dengan mengantarkan dua anak usahanya di bidang perbankan, yakni BRI Agro dan BRI Syariah naik kelas ke BUKU III dengan permodalan inti Rp5 triliun – Rp30 triliun.

Awal April ini, satu dari rencana itu teralisasi lewat aksi Initial Public Offering (IPO) PT Bank BRI Syariah yang akan resmi listing di bursa efek pada 9 Mei. Perseroan juga akan menambah modal PT Bank BRI Agroniaga Tbk lewat rights issue senilai total Rp2 triliun.

Sedianya pembahasan rights issue itu dilakukan dalam RUPST BRI Agro bulan ini, namun urung dilakukan karena belum ada persetujuan dari Kementerian BUMN.

“Bukan tidak disetujui oleh Ibu (Menteri BUMN), tapi Ibu perlu kajian panjang. Padahal waktunya sudah mepet. [Poin yang perlu dikaji] adalah hal yang tidak begitu prinsip sebetulnya, tapi harus ada kajian panjang. Nanti segeralah,” ujarnya.

BRI juga akan memperkuat permodalan perusahaan anak yang lain, seperti PT Bahana Artha Ventura, lewat peningkatan kepemilikan dari saat ini 35% menjadi 65% pada akhir semester I/2018. Adapun, di bidang sekuritas, BRI masih tengah mengkaji calon anak usaha yang akan diakuisisi.

Pada perkembangan lain, BRI akan menerbitkan global bond senilai US$500 juta pada kuartal III/2018 untuk refinancing surat utang global yang jatuh tempo.

“Rencananya sekitar US$500 juta, untuk menutupi yang jatuh tempo, karena bonds kami ada yang mature,” papar Suprajarto.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank bri

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top