Cara Menyiasati Biaya Pernikahan agar Tak Bokek Kemudian

Di Indonesia, menggelar sebuah acara pernikahan bisa menjadi sesuatu yang sangat menantang. Salah satu yang dapat menjadi kendala utama adalah soal besarnya biaya.
Asteria Desi Kartika Sari | 21 Mei 2018 07:59 WIB
Ilustrasi - Wisegeek

Di Indonesia, menggelar sebuah acara pernikahan bisa menjadi sesuatu yang sangat menantang. Salah satu yang dapat menjadi kendala utama adalah soal besarnya biaya.

Tak dapat dipungkiri, untuk menghelat momen sakral seperti pesta pernikahan membutuhkan biaya yang kadang sangat menganggu keuangan pascapernikahan apabila tidak direncanakan secara matang.

Mulai dari prewedding, gedung pernikahan, katering, dekorasi, hingga membuat undangan pun akan menyedot banyak biaya apabila tidak diperhitungkan dengan sebaik-baiknya.

Perencana keuangan ZAP Finance Prita Hapsari Ghozie mengatakan, langkah awal yang harus dilakukan calon pasangan yang akan menikah adalah membuat anggaran yang terdiri dari bujet untuk setiap rangkaian acara yang akan dibuat.

Prita mengatakan sebaiknya pasangan mempersiapkan diri masing-masing, sehingga saat akan menikah dapat saling berkontribusi. Salah satu cara untuk meringankan beban adalah mulai merencanakan anggaran pesta pernikahan sejak masih pacaran melalui obrolan yang sifatnya santai.

Ajak pasangan untuk membayangkan bagaimana pesta pernikahan nantinya. Apakah inging menggelar pesta pernikahan secara besar-besaran dengan banyak tamu undangan, atau sekedar merayakan bersama keluarga dan teman-teman terdekat?. Selain itu, memikirkan tentang konsep pernikahan yang diinginkan, apakah menggunakan pesta adat atau modern dengan konsep internasional.

“Dari situ dapat dicek apakah memiliki kemampuan finansial untuk mendukung acara tersebut atau tidak,” kata Prita.

Di Indonesia, ada sekitar 2,4 juta pasangan yang menikah setiap tahunnya. Berdasarkan 2017 Indonesia Wedding Industry Report yang dikeluarkan oleh Bridestory, anggaran yang dibutuhkan untuk merayakan pesta pernikahan berkisar mulai dari Rp20 juta – Rp2 miliar. Dalam laporan tersebut, 57,6% dari responden mengaku, biaya pernikahan kini lebih banyak ditanggung olek kedua calon pengantin.

Bridestory mengelompokan tipe pernikahan di Indonesia dalam empat kategori tren, yakni terjangkau, moderat, premium, dan mewah, dengan kisaran tamu mulai dari 50 orang hingga 1.000 orang. Kategori terjangkau, patokan biaya di Indonesia berkisar antara Rp20 juta – Rp400 juta. Sementara itu, untuk moderat antara Rp40 juta – Rp800 juta, dan premium Rp100 juta – Rp2 miliar.

Khusus untuk tipe mewah, biasanya tren pernikahan jenis ini diselanggarakan di luar negeri, mengundang selebritas sebagai pengisi acara, atau menggunakan jasa vendor premium. Patokan harga di Indonesia saat ini adalah Rp350 juta – Rp7 miliar.

Setelah mengatahui perta pernikahan yang diinginkan, Anda beserta pasangan dapat menghitung perkiraan total biaya pernikahan. Selain dapat berkonsultasi dengan wedding organizer, juga bisa bertanya dengan teman atau saudara yang sudah menyelenggarakan pesta pernikahan sebelumnya. Menurut Prita, untuk melakukan penghematan, ia menyarakan untuk mengutamakan acara yang memang penting seperti akad nikah atau sakramen.

“Biaya-biaya kegitan tambahan seperti foto prewedding dan lain-lain bisa dibatasi,” ujarnya.

Setelah mengetahui perkiraan dana yang dibutuhkan, Anda dan pasangan bisa menentukan target waktu pernikahan. Hal tersebut dilakukan supaya menjadi pemacu agar bersemangat untuk mengumpulkan dana bakal resepsi pernikahan.

“Silahkan masing-masing menyiapkan minimal 20% dari gaji hingga acara pernikahan sudah dilaksanakan,” jelasnya.

Selain itu, dana kencan bisa dialokasikan untuk kebutuhan-kebutuhan yang sifatnya ringan. Misalnya untuk biaya foto prewedding, cetak undangan, atau untuk membeli cendera mata pernikahan. Dengan mencicil satu demi satu kebutuhan ini, setidaknya biaya pesta pernikahan nantinya akan terasa lebih ringan.

Selanjutnya, tinggal memikirkan untuk biaya yang sifatnya berat, misalnya untuk membayar gedung pernikahan atau katering.

Selain kiat-kiat tersebut, guna menambah biaya pernikahan, investasi dapat menjadi salah satu solusi, jika ternyata kebutuhan pesta pernikahan nantinya membengkak.

Anda dapat memulai dengan investasi membeli emas batangan antara 1 gram hingga 5 gram. “Investasi diperlukan apabila acara pernikahan masih waktu di atas satu tahun. Namun, jika tinggal beberapa bulan saya sarankan untuk menabung,” jelasnya.

PERTUNANGAN

CEO Bridestory Kevin Mintaraga mengatakan dari total anggaran yang disiapkan, berdasarkan survei Bridestory kebanyakan calon pengantin di Indonesia menghabiskan biaya untuk keperluan venue dan katering (39,2%) dan dekorasi (12,3%). Sisanya adalah untuk busana (4,7%), foto pre-wedding (4,7%), cincin (4,6%), dan sebagainya.

Fakta menarik lainnya, ternyata saat ini semakin banyak calon pengantin yang bisa mengatur pengeluaran mereka sesuai dengan pagu anggaran yang ditetapkan. Sebanyak 49,1% pasangan bisa tepat sasaran dengan anggaran, 45,3% kelebihan dari anggaran, dan 5,7% kurang dari anggaran

“Selain pesta pernikahan, tren perayaan pertautan kedua insan di Indonesia saat ini juga menekankan pada perayaan pertunangan. Pesta pertunangan semakin populer,” katanya.

Adapun, sumber dana utama pernikahan di Indonesia masih didominasi oleh pembiayaan dari mempelai pria (37,6%), orang tua mempelai perempuan (25,9%), mempelai perempuan (20,0%), orang tua mempelai pria (15,7%), dan anggota keluarga lain (0,9%).

Secara umum, faktor-faktor yang menjadi pertimbangan utama para calon pengantin di Indonesia dalam mencari vendor acara pernikahan mereka adalah harga (40,3%), portofolio vendor (25,9%), ulasan (12,9%), keramahan (7,4%), pengalaman (4,5%), dan lokasi (3,4%).

“Kebanyakan calon mempelai di Indonesia memilih vendor berdasarkan rekomendasi dari teman atau keluarga, mencari dari situs Bridestory, mencari di media sosial, pameran pernikahan, pencarian di Internet, rekomendasi dari vendor lain, blog pernikahan, dan majalah pernikahan.”

Adapun, rerata jumlah waktu dalam sepekan yang dihabiskan calon mempelai di Indonesia untuk merencanakan pernikahan mereka adalah 5—14 jam (51,3%), di bawah 5 jam (33,2%), 15—25 jam (10,8%), dan di atas 25 jam (4,7%).

Kevin menambahkan sebagai tahap akhir, sebagian pasangan di Indonesia juga melakukan sesi tes kesehatan atau perawatan kecantikan dan merencanakan bulan madu mereka sejak 1—3 bulan sebelum hari H.

Tag : pernikahan
Editor : M. Taufikul Basari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top