Kredit Naik, Semua Sektor Mulai Bertumbuh

Sejumlah bank melaporkan permintaan kredit pada empat bulan pertama 2018 yang kian positif. Hal ini antara lain disampaikan oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.
Ropesta Sitorus | 24 Mei 2018 17:09 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah bank melaporkan permintaan kredit pada 4 bulan pertama 2018 yang kian positif. Hal ini antara lain disampaikan oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk.

Direktur Konsumer BTN Budi Satria mengungkapkan pertumbuhan kredit perseroan selalu di atas industri dalam beberapa waktu terakhir.

“Untuk BTN memang pertumbuhan kredit sudah kencang sejak bulan pertama. Per Maret kami sudah tumbuh di atas industri, dan April pertumbuhannya lebih baik daripada kuartal awal,” kata Budi kepada Bisnis, Rabu (23/5/2018).

Sebagai gambaran, BTN mencatatkan pertumbuhan kredit 19,34% per Maret 2018, atau naik dari Rp169,68 triliun pada kuartal awal 2017 menjadi Rp202,5 triliun. Begitu juga dengan kinerja pendanaan, total DPK tumbuh 23,54% dari sebelumnya Rp157,41 triliun menjadi Rp194,48 triliun.

Walhasil, total aset bank pelat merah yang core bisnisnya pada pembiayaan perumahan itu terkerek menjadi Rp258,73 triliun, tumbuh 20,73% (yoy) dari sebelumnya Rp214,31 triliun. Begitu juga dengan laba bersih perseroan tumbuh 15,13% (yoy) menjadi Rp684 miliar.

Budi berharap agar tren tersebut dapat terus berlanjut kendati Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga acuan. “Karena sampai saat ini kami masih belum menaikkan bunga KPR,” paparnya.

Dihubungi terpisah, Presiden Direktur PT Bank Mayapada Internasional Tbk. Haryono Tjahjarijadi mengatakan permintaan kredit sudah mulai terasa di hampir semua sektor, terutama bidang perdagangan dan segmen usaha mikro kecil menengah.

“Realisasi kami per Maret 2018 di atas angka 9% secara year on year, mengingat angka nominal kami kan masih relatif kecil. Praktis saat ini di semua sektor sudah menunjukkan tanda-tanda kebangkitan,” katanya.

Kendati demikian, pertumbuhan dinilai masih belum sesuai dengan ekspektasi. Dia berharap agar pertumbuhan dapat lebih terakselerasi pada kuartal II sejalan dengan adanya beberapa momentum khusus, seperti masa Lebaran dan perhelatan Asian Games. Emiten bersandi MAYA itu masih optimistis mampu mencetak pertumbuhan bisnis hingga 16,6% per akhir Desember 2018.

“Apalagi saat ini kan menjelang Hari Raya jadi perekonomian mulai menggeliat dan diharapkan bisa jadi momentum mulai pulihnya sektor riil, apalagi ada momentum lain setelah ini yaitu Asian Games,” paparnya.

Secara terpisah, Presiden Direktur PT Bank OCBC NISP Tbk. Parwati Surjaudaja juga menyatakan kinerja intermediasi sudah berjalan sesuai proyeksi.

“Pertumbuhan kredit kami sampai April masih double digit sesuai dengan rencana. Segmennya cukup terdiversifikasi dari UKM maupun korporasi. Kalau untuk sektor ekonominya juga cukup beragam termasuk pertanian, konstruksi,” kata Parwati.

PT Bank Ina Perdana Tbk. juga menyatakan hal senada. Menurut Edy Kuntardjo, Direktur Utama Bank Ina, kinerja per April 2018 sudah mulai membaik. Sejalan dengan itu, rasio NPL gross tercatat sebesar 3,9%, dengan rasio NPL net di level 2,31%.

Terkait penyumbang kredit bermasalah, lanjut Edy mayoritas atau 75% disumbang oleh sektor pembiayaan yang merupakan warisan dari periode sebelumnya. Hingga saat ini emiten bersandi BINA itu masih terus melakukan penagihan kredit macet ke beberapa perusahaan multifinance.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pertumbuhan kredit

Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top