Aftech Awasi Praktik Predatory Lending

Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) mendorong pengawasan terhadap predatory lending yang dapat merusak industri Peer-to-Peer (P2P) lending.
Nindya Aldila | 31 Agustus 2018 08:33 WIB
Ilustrasi solusi teknologi finansial - flickr

Bisnis.com, JAKARTA -- Asosiasi Fintech Indonesia (Aftech) mendorong pengawasan terhadap predatory lending yang dapat merusak industri Peer-to-Peer (P2P) lending.

Ketua Bidang Pinjaman Cash Loan Aftech Sunu Widyatmoko mengatakan praktik predatory lending adalah sengaja menipu nasabah dengan ketidakjelasan tingkat bunga dan biaya dengan tujuan memeras nasabah. Dia menegaskan setiap stakeholder memiliki tanggung jawab bersama dalam menjaga ekosistem industri.

“Jika ada satu kesalahan yang dilakukan oleh satu perusahaan, maka akan memengaruhi reputasi penyelenggara lainnya,” ujar Sunu, Kamis (30/8/2018).

Lebih lanjut, Direktur Aftech Ajisatria Sulaeman menerangkan asosiasi telah menggunakan jasa pengacara yang berperan sebagai komite etik, yang berperan sebagai tim pengawas jika terjadi pelanggaran oleh pelaku. Hal ini sejalan dengan dikeluarkannya kode etik yang menjadi pedoman perilaku bagi pelaku industri fintech.

CEO PT Digital alpha Indonesia (Uang Teman) Aidil Zulkifli menyatakan sesama pemain industri fintech harus memiliki peran untuk saling mengawasi potensi terjadinya predatory lending.

“Kami bersama asosiasi berperan bersama sebagai watchdog. Predatory lending adalah salah satu praktik bisnis yang menjerat nasabah. Praktik ini membedakan fintech legal dengan yang ilegal,” tuturnya.

Tag : fintech
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top