Denaldy Mulino Mauna: Perhutani Akan Lebih Bermain ke Hilir

Perum Perhutani berhasil mencatatkan kinerja positif yang didorong langkah transformasi dan restrukturisasi. Holding kehutanan itu pun berkomitmen untuk mempertahankan kinerja positif dengan sejumlah strategi.
Pandu Gumilar/Oktviano Donald Baptista/Fitri Sartina Dewi | 12 September 2018 12:09 WIB
Direktur Utama Perum Perhutani Denaldy Mulino Mauna. - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA – Perum Perhutani berhasil mencatatkan kinerja positif yang didorong langkah transformasi dan restrukturisasi. Holding kehutanan itu pun berkomitmen untuk mempertahankan kinerja positif dengan sejumlah strategi. Untuk membahas rencana usaha perseroan, Bisnis mewawancarai Direktur Utama Perum Perhutani Denaldy Mulino Mauna. Berikut petikannya:

Bagaimana kondisi perusahaan pada saat awal Anda mengemban tugas sebagai pimpinan?

Pada saat saya masuk pada September 2016, kondisi perusahaan bisa dikatakan rapornya sedang merah, karena dari sisi pendapatan dan labanya menurun. Pada saat itu, meskipun kami mencoba mendorong pembukuan laba pada 3 bulan terakhir, sudah tidak bisa. Pada akhir 2016, labanya tercatat minus Rp367 miliar.

Mungkin Perhutani belum pernah mengalami laba hingga minus sebesar itu, tetapi kenyataannya memang kondisinya membutuhkan suatu penanganan yang bersifat darurat.

Seperti apa upaya penanganan yang dilakukan?

Pada saat saya masuk, ada beberapa tahap yang dilakukan seperti assessment dan beberap tindakan yang kami sebut sebagai emergency action. Saat itu saya berpikir, agar sebuah perusahaan bisa berjalan, hal utama yang harus diperhatikan ialah cashflow. Jadi hal pertama yang saya lakukan ialah meningkatkan cashflow.

Perusahan yang sedang kolaps memang sudah tidak asing lagi dengan cost reduction program dengan melakukan efisiensi. Salah satu efisiensi yang kami lakukan adalah dari sisi overhead atau biaya tidak langsung, seperti biaya perjalanan dinas. Itulah yang kami perketat pengeluarannya.

Setelah membenahi keuangan, apa program prioritas Anda selanjutnya?

Pada 2017, kami mulai masuk pada tahap business process engineering, yaitu memperbaiki proses bisnis. Hal-hal yang kami perbaiki adalah cost, kualitas, dan kecepatan. Kami ukur kualitas kami di mata konsumen itu seperti apa, apakah kualitasnya bagus,sedang, atau jelek?

Kemudian, kami lihat apakah cost-nya tinggi, cukup, atau bersaing? Yang terakhir adalah speed. Ini penting karena permasalahan sebelumnya banyak keluhan dari para pembeli yang barangnya datang terlambat. Hal-hal itulah yang harus kami perbaiki.

Adakah upaya menaikkan produktivitas lahan Perhutani yang kurang produktif?

Kami juga mulai fokus kepada bisnis-bisnis yang berpotensi meningkatkan kinerja perusahaan. Perhutani punya lahan yang sangat banyak, tetapi kurang produktif.

Saya sempat diajak Menteri BUMN ke Finlandia dan Swedia. Di sana saya bertemu dengan beberapa BUMN yang juga bergerak di bidang kehutanan. Ternyata, mereka mengemas wilayah hutan yang mereka miliki untuk wisata. Pendapatan mereka dari wisata itu bisa mencapai 25%, padahal di Perhutani hanya mentok pada 3%.

Bagaimana strategi untuk mendorong pendapatan dari pengelolaan wisata alam?

Kami melakukan rebranding yang disebut canopy dengan menjalankan dua pilot project. Rebranding itu terdiri dari 3 aspek, yaitu produk, pelayanan, dan pengelolaan.

Saya melihat Kawah Putih sebagai salah satu produk kami sebenarnya wilayahnya sudah sangat cantik, tetapi pengelolaan dan pelayanannya masih kurang.

Oleh sebab itu, kami harus mengubah pelayanan dan pengelolaannya supaya masyarakat yang berkunjung ke sana bisa mendapatkan pengalaman yang luar biasa. Selain Kawah Putih, pilot project kami juga ada di Banyu Nget, Trenggalek.

Bagaimana target kinerja perusahaan pada tahun ini?

Target pendapatan kurang lebih sesuai dengan RKAP yang kami sampaikan ke Kementerian BUMN. Adapun dari sisi laba, capaian pertengahan tahun kami sudah lebih tinggi dibandingkan dengan capaian satu tahun penuh pada 2017. Artinya, program business process engineering, cost, quality, dan speed berjalan baik.

Bagaimana perkembangan mutakhir restrukturisasi yang dijalankan Perhutani?

Ketika saya masuk, organisasi kami memang terlalu besar. Jadi, waktu itu direktoratnya ada tujuh, dan divisinya banyak sekali. Saya lihat seringkali terjadi bentrok, dan berjalan sendiri-sendiri. Padahal, kami melakukan business process yang sama. Jadi kami rampingkan organisasinya agar program yang dirancang bisa berjalan mulus.

Apakah Anda sudah cukup puas dengan restrukturisasi yang sudah dijalankan?

Belum, masih akan jalan terus prosesnya. Saya melihat jenjangnya masih jauh, tetapi pelan-pelan sudah kita rampingkan. Apalagi, dengan adanya sistem teknologi dan informasi yang semakin canggih, proses-proses duplikasi di pusat dan wilayah akan lebih kami ringkas.

Adakah tugas khusus yang diamanatkan Kementerian BUMN kepada Anda?

Pemerintah meminta kami untuk lebih aktif ke industri, main ke hilir, dan tidak hanya fokus ke hulu. Industri kita minus terus karena pengelolaannya belum dilakukan optimal. Untuk industri, kami melakukan reset programnya.

Kita melihat selama ini Perhutani menjalankan bisnis secara B-to-B , artinya produk kami yang setengah jadi atau yang mentah kami jual kepada pengolah untuk diproses selanjutnya.

Akan tetapi, bisnis kami sekarang sudah B-to-C . Apakah kami buat produk kayu yang siap dipakai di rumah, atau mengarah ke industri kayu seperti Ikea? Padahal, Ikea tidak punya bahan baku kayu, tetapi pendapatan mereka dari penjualan produk-produk furnitur kayu bisa berlipat-lipat.

Kami sudah punya bahan bakunya, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Dalam waktu dekat, kami harus lebih intens untuk masuk ke desain, dan merekrut anak-anak muda untuk membuat rancangan produk-produk yang modern.

Sejak kapan skema bisnis B-to-C dijalankan?

Bisnis itu sebenarnya masih dalam proses, tetapi kami sudah menjalankan skema B-to-C untuk penjualan online terhadap produk-produk yang masih mentah, atau yang semi . Untuk produk jadi berupa furnitur masih belum, tetapi akan ke sana arahnya.

Kami masih membutuhkan waktu untuk menuju ke sana , karena industrinya sendiri masih harus dibenahi. Kami juga masih berjuang untuk mendapat margin dan pengelolaan pabrik yang baik.

Sambil proses perbaikan terus dijalankan, kami juga berupaya melakukan penguatan dari sisi marketing. Itu adalah target saya tahun depan. Pada tahun ini, kami perbaiki industrinya.

Bagaimana strategi pengembangan bisnis pada semester II/2018?

Dengan berhasil mengumpulkan profit, kami punya visi sebagai perusahaan di bidang kehutanan yang membangun hutan secara berkelanjutan dengan menekankan pada 3 aspek yaitu ekologi, ekonomi, dan sosial.

Dari sisi ekonomi sudah mulai on the track, dan dari sisi sosial dengan pemberdayaan agroforestry. Selama ini, lokasi-lokasi yang belum ditanami, kami lakukan investasi besar-besaran secara grup dengan alokasi Rp800 miliar. Tanamannya kami perbanyak lagi, produk-produk seperti madu dan kayu putih kami hidupkan lagi.

Pada tahun ini, kami fokus untuk mempersiapkan lokomotif pertumbuhan perusahaan. Ini dilakukan karena cost reduction program itu tidak bisa untuk jangka panjang, tetapi hanya untuk jangka pendek. Kami tidak bisa growth kalau hanya mengandalkan itu, sehingga kami mulai fokus untuk pengembangan.

Adakah bisnis baru yang sedang dikembangkan?

Kami sedang coba mengembangkan lahan kami menjadi rest area. Pengelolaannya nanti seperti canopy, karena rest area sebagai TIP , akan kami jadikan tempat wisata.

Ada satu pilot project yang akan kami kembangkan. Di sana nanti ada tempat istirahat, tetapi di belakangnya ada agroforestry. Jadi, nanti orang bisa istirahat di sana sekaligus berwisata.

Di antara bisnis agroforestry dan konvensional, mana yang lebih potensial?

Dulu, Perhutani bisnis utamanya memang kayu dan sendapan pinus, tetapi kenyataannya bisnis kayu adalah bisnis yang membutuhkan waktu panjang.

Kami melihat bahwa dengan kebutuhan, dan mendukung program pemerintah dalam ketahanan pangan, sepertinya sudah waktunya hutan dioptimalkan tidak hanya untuk penanaman pohon.

Kami harus belajar supaya perkebunan pun bisa masuk ke dalam forest, makanya disebut agroforestry. Ini harus dilakukan untuk membantu pemerintah supaya bisa memenuhi kebutuhan pangan seiring dengan keterbatasan lahan. Meski demikian, kami harus utamakan fungsi ekologi, yaitu hutan sebagai resapan air untuk mencegah bencana alam.

Adakah upaya regenerasi pohon yang dijalankan pada tahun ini?

Salah satu capex yang saya sampaikan Rp800 miliar untuk penanaman pohon 30.000 ha pada tahun ini. Dana itu merupakan dana kami sendiri.

Di luar itu ada juga program kehutanan sosial dari Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup, dan Kementerian BUMN tempat lahan-lahan yang tidak produktif itu dikerjasamakan dengan berbagai stakeholder. Ini agar lahan-lahan yang tadinya kosong berkurang dan meningkat tutupan lahannya.

Apakah Perhutani juga mengembangkan jenis tanaman biomassa?

Kami lihat bisnis ke depan Perhutani memang harus bisa mendukung bioenergi, maka masuklah kami ke biomassa. Untuk menjalankannya, kami menggandeng investor, untuk transfer ilmu dari mitra yang lebih berpengalaman dalam pengembangan tanaman biomassa.

Siapa mitra yang digandeng untuk pengembangan biomassa?

Pada 2014, kami awalnya menggandeng mitra dari Korea. Kami belajar dari mereka, dan ingin melihat apakah mereka bisa menghasilkan produk energi yang sesuai dengan kebutuhan di Korea.

Setelah 3 tahun, ternyata programnya berjalan cukup baik. Saya juga sempat minta feasibility study dari pihak asing dan menyatakan bahwa harganya terus meningkat. Akhirnya, saya melihat ini adalah potensi bisnis kami ke depan.

*) Artikel dimuat di koran cetak Bisnis Indonesia edisi Rabu (12/9/2018)

Tag : perhutani
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top