IMF-Bank Dunia Luncurkan Bali Fintech Agenda

Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia Grup meluncurkan Bali Fintech Agenda, yaitu 12 elemen kebijakan yang bertujuan membantu negara-negara anggota IMF dan Bank Dunia memanfaatkan peluang dari cepatnya perkembangan teknologi finansial (tekfin) sambil mengendalikan risiko-risikonya.
Dwi Nicken Tari | 11 Oktober 2018 16:24 WIB
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (dari kiri) bersama Presiden Grup Bank Dunia Jim Yong Kim, Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde, Gubernur Bank Sentral Afrika Selatan Lesetja Kganyago dan Gubernur Bank Sentral Inggris Mark Carney menjadi panelis saat acara The Bali Fintech Agenda dalam rangkaian Pertemuan Tahunan IMF - WBG 2018 di Mangapura Hall, BICC, Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, NUSA DUA, Bali — Dana Moneter Internasional (IMF) dan Bank Dunia Grup meluncurkan Bali Fintech Agenda, yaitu 12 elemen kebijakan yang bertujuan membantu negara-negara anggota IMF dan Bank Dunia memanfaatkan peluang dari cepatnya perkembangan teknologi finansial (tekfin) sambil mengendalikan risiko-risikonya.

“Tekfin membawa manfaat dan tantangan, manfaatnya bisa membuat kehidupan lebih mudah tapi di sisi lain juga dapat merusak’. Kita harus memastikan tekfin tidak merusak stabilitas ekonomi,” kata Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde dalam seminar Bali Fintech Agenda, Kamis (11/10/2018).

Adapun bersama Lagarde, panelis lainnya yaitu Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim, Gubernur Bank Sentral Afrika Selatan Lesetja Kganyago, dan Kepala Dewan Stabilitas Keuangan sekaligus Gubernur Bank Sentral Inggris (BOE) Mark Carney membicarakan tentang standar internasional dan praktik terbaik untuk fintek yang dapat dimasukkan ke dalam bingkai kerja IMF dan Bank Dunia.

“Mengelola risiko-risiko yang muncul dari tekfin harus dengan regulasi yang baik. Di Sillicon Valley, segala hal bergerak dan berubah dengan cepat, untuk itu diperlukan kebijakan yang dapat beradaptasi dengan cepatnya perubahan,” tutur Jim.

Adapun dengan hampir seluruh negara di dunia masuk dalam IMF dan Bank Dunia, kedua lembaga internasional itu akan mengumpulkan informasi dari seluruh negara dan menganalisis kebutuhan serta tujuan dari perkembangan ekonomi dan teknologi di masing-masing negara.

IMF dan Bank Dunia juga akan bersama-sama menawarkan sebuah forum kepada negara-negara tersebut untuk saling berbagi pengalaman, misalnya cara mengentas praktik cuci uang dan terorisme keuangan, mengintegritaskan pasar, dan juga mengenai keamanan konsumen.

Adapun Dewan Stabilitas Finansial di bawah Mark Carney dan beberapa penentu standar internasional lainnya telah meninjau implikasi dari pengembangan tekfin dan juga telah menunjuk beberapa aturan dan supervisi.

“Kita harus memikirkan praktiknya, menempatkan diri sebagai konsumen dan juga sebagai pembuat kebijakan terhadap teknolog… Kita dapat memberdayakan ide digital dan bekerjasama dalam sistem keuangan,” ujar Carney.

Adapun merespons Bali Fintech Agenda, IMF dan Bank Dunia seterusnya akan fokus menggunakan tekfin untuk memperdalam pasar keuangan, menambah akses yang bertanggung jawab terjadap layanan keuangan, dan meningkatkan pembayaran lintas batas, dan sistem transfer uang (remittance transfer system).

Lagarde menambahkan bahwa Bali FIntech Agenda juga menunjuk langsung risiko belanja daring (online shopping) yang belum teregulasi.

“[Belanja daring] tidak merusak, tapi itu merupakan salah satu agenda yang kuat dari setiap negara, ingin melindungi konsumen atau menghambat konsumen,” kata Lagarde.

Oleh karena itu seluruh panelis menekankan bahwa tujuan inti dari Bali Fintech Agenda adalah untuk mendorong pertumbuhan inklusif dan globalisasi.

Tag : annual meetings IMF-World Bank
Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Top