PABRIK GASIFIKASI: PTBA & Pertamina Bakal Bentuk JV dengan Air Products

PT Bukit Asam Tbk. dan PT Pertamina (Persero) akan membentuk usaha patungan atau joint venture sebagai tindak lanjut penandatangan nota kesepahaman pengembangan pabrik gasifikasi batu bara dengan perseroan asal Amerika Serikat, Air Products and Chemicals Inc.
M. Nurhadi Pratomo | 09 November 2018 00:09 WIB
Direktur Pertamina M. Haryo Yunianto (dari kiri), Dirut Bukit Asam Arviyan Arifin, Dirut Sucofindo Bachder Djohan Buddin, Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN Aloysius Kiik Ro, Dirut Semen Baturaja Bapak Rahmad Pribadi, dan Dirut ASDP Indonesia Ferry Ira Puspadewi bertumpu tangan usai penandatanganan kerja sama dalam Rapimnas RKAP 2019 di Jakarta, Senin (22/10/2018). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA— PT Bukit Asam Tbk. dan PT Pertamina (Persero) akan membentuk usaha patungan atau joint venture sebagai tindak lanjut penandatangan nota kesepahaman pengembangan pabrik gasifikasi batu bara dengan perseroan asal Amerika Serikat, Air Products and Chemicals Inc.

Bukit Asam dan Pertamina baru saja meneken kerja sama strategis dengan Air Products and Chemicals Inc di Allentown, Amerika Serikat, Rabu (7/11) waktu setempat. Kesepakatan yang diteken akan meliputi pengembangan gasifikasi batu bara di Mulut Tambang Batu Bara Peranap, Riau, untuk menjadi dimethylether (DME) dan syntheticnatural gas (SNG).

Saat dikonfirmasi Bisnis.com, Sekretaris Perusahaan Bukit Asam Suherman menjelaskan bahwa selanjutnya perseroan bersama Pertamina dan Air Products and Chemicals Inc akan membentuk joint venture (JV). Langkah tersebut untuk pengembangan pabrik gasifikasi batu bara yang berlokasi Mulut Tambang Batu Bara Peranap, Riau.

“Dalam rencana ke depan memang demikian. Air Products juga berencana untuk turut berinvestasi,” ujarnya kepada Bisnis.com, Kamis (8/11).

Kendati demikian, Suherman belum membeberkan nilai investasi yang akan dikucurkan oleh emiten berkode saham PTBA tersebut. Pasalnya, skema bisnis untuk masing-masing pihak masih akan dibahas lebih lanjut.

Secara terpisah, Direktur Utama Bukit Asam Arviyan Arifin mengungkapkan hilirisasi yang dilakukan perseroan diperkuat dengan sumber daya batu bara sebesar 8,3 miliar ton dan cadangan batubara sebesar 3,3 miliar ton. Pabrik gasifikasi di Peranap ini diharapkan dapat mulai beroperasi pada tahun 2022. 

“Kapasitas pabrik yang akan didirikan dengan kapasitas 400.000 ton DME per tahun dan 50 million standard cubic feet per day (mmscfd) SNG,” jelasnya.

Sementara itu, Direktur Utama Pertamina Nicke Widyawati mengatakan kerja sama yang diteken dengan Bukit Asam dan Air Products and Chemicals sebagai langkah untuk meningkatkan ketahanan, kemandirian, dan kedaulatan energi nasional, melalui pemanfaatan DME dan SNG. Pasalnya, sekitar 70% liquefied petroleum gas (LPG) masih diimpor dan Indonesia mengkonsumsi tidak kurang 7 juta ton pada 2017.

“Pabrik gasifikasi batubara ini adalah proyek yang sangat strategis secara nasional,” ujarnya.

Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini M. Soemarno mengatakan percepatan hilirisasi sektor pertambangan menjadi bagian dari langkah pemerintah mendukung terjadinya nilai tambah produk sektor tersebut. Selain itu, upaya itu diklaim mampu mendukung penghematan devisa negara dan mengantisipasi terjadinya defisit transaksi berjalan.

“Indonesia harus terus mengembangkan industri hilirisasi batu bara bukan hanya dalam mengurangi impor tetapi juga dalam rangka mengembangkan ekspor," jelas Rini.

Tag : bukit asam, pertamina
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top