Bank BUMN Kuasai Jejaring Transaksi Pembayaran

Holding perusahaan jasa keuangan bakal memperkuat jejaring Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) terutama dari sisi layanan transaksi perbankan. Sebanyak empat bank pelat bakal menguasai lebih dari separuh sistem transaksi pembayaran perbankan nasional.
Muhammad Khadafi | 11 Februari 2019 16:40 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Holding perusahaan jasa keuangan bakal memperkuat jejaring Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) terutama dari sisi layanan transaksi perbankan. Sebanyak empat bank pelat bakal menguasai lebih dari separuh sistem transaksi pembayaran perbankan nasional.

Menilik pada postur industri perbankan saat ini, empat bank pelat merah telah menguasai infrastruktur alat pembayaran. Anjungan tunai mandiri (ATM) dan electronic data capture (EDC) bank milik negara berkontribusi sebesar 57,3% dan 64,8% terhadap total mesin yang beredar di dalam negeri.

Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. Achmad Baiquni menyampaikan bahwa langkah pertama yang akan dilakukan dalam holding perusahaan jasa keuangan adalah optimalisasi layanan transaksi pembayaran dalam kerangka integrasi. “Kalau sudah disatukan, nasabah tidak harus punya banyak kartu,” katanya kepada Bisnis di Jakarta, pekan lalu.

Dia mengutarakan, salah satu permasalahan layanan transaksi perbankan adalah sering kali nasabah ‘dipaksa’ memiliki banyak rekening. Setiap rekening memiliki tujuan berbeda sesuai dengan kebutuhan transaksi.

Menurut rencana, satu rekening bank dari holding perusahaan jasa keuangan dapat menikmati layanan transaksional yang dimiliki oleh bank milik negara. “Artinya nanti bebas saja nasabah mau buka rekening di bank yang mana, karena akan sama saja layanan sistem pembayaran yang diberikan,” jelas Baiquni.

Hal tersebut, sambungnya, tidak menutup kemungkinan holding keuangan akan menambah anak usaha terkait dengan sistem pembayaran. Akuisisi perusahaan finansial berbasis teknologi (tekfin) sangat mungkin untuk dilakukan.

Pada akhirnya, lanjut Baiquni, hal itu akan menggenjot laba bank milik negara. Pendapatan nonbunga akan tumbuh tanpa diikuti beban operasional yang naik signifikan.

Seperti diketahui, pasar yang tengah diperebutkan terkait dengan bisnis transaksional adalah uang elektronik berbasis server. Beberapa perusahaan tekfin, seperti PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (Go-Pay) dan Ovo milik grup Lippo telah lebih dahulu melakukan penetrasi.

Mengutip data Bank Sentral, sepanjang 2018, uang elektronik beredar naik 85,8% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi 167,2 juta pengguna. Angka ini sudah melampaui jumlah kartu ATM/debit yang beredar di Indonesia.

Nilai transaksi, bahkan jauh lebih kencang pertumbuhannya. Sepanjang 2018, secara nominal, transaksi uang elektronik sebesar Rp47,1 triliun atau naik hampir empat kali lipat dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Apabila melihat lebih jauh ke belakang, realisasi 2018 melonjak 14 kali lipat dibandingkan dengan posisi 2014. Frekuensi bertransaksi pun tumbuh lebih dari tiga kali lipat menjadi 2,9 miliar per Desember 2018.

TIDAK MUDAH

Baiquni menjelaskan bahwa bersaing dengan perusahaan tekfin yang telah lebih dahulu melakukan penetrasi bukan hal mudah. Menyatukan empat bank pelat merah akan memuluskan jalan untuk menguasai pasar uang elektronik.

“Dengan holding keuangan kami bisa sharing IT [teknologi], jadi tidak perlu membangun masing-masing,” katanya.

Terkait dengan sinergi itu, Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) membetuk platform pembayaran bernama LinkAja yang merupakan transformasi dari T-Cash milik Telkom. Aplikasi pembayaran akan menjadi kanal sistem pembayaran berbasis kode QR (quick response) milik bank BUMN.

Dikonfirmasi terpisah, Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Manajemen Strategis Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Anto Prabowo mengatakan bahwa otoritas memberikan restu selama holding keuangan memberikan nilai tambah untuk kinerja bank BUMN. “Dari text book dan pengalaman negara lain, holding itu sangat bermanfaat dalam hal efisiensi,” katanya.

Sementara itu, Kementerian BUMN menargetkan holding keuangan rampung pada semester I/2019. Rencana ini sudah beberapa kali mundur dari tenggat waktu yang ditetapkan sebelumnya.

Holding perbankan dan jasa keuangan nantinya melibatkan keempat anggota Himbara, PT Pegadaian (Persero), PT Permodalan Nasional Madani (Persero), PT Jalin Pembayaran Nusantara, PT Bahana Sekuritas, dan anak usaha Telkom PT Fintek Karya Nusantara. PT Danareksa (Persero) rencananya akan menjadi induk usaha.

Tag : bank bumn
Editor : Hendri Tri Widi Asworo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top