Bank Indonesia: Sistem Keuangan Kita Aman dari Krisis Turki, Argentina dan Perlambatan di AS

Dari aspek sistem keuangan, Bank Indonesia menegaskan Indonesia aman dari paparan dampak sistemik krisis di Turki, Argentina hingga perlambatan ekonomi yang terjadi di sejumlah negara maju. 
Hadijah Alaydrus
Hadijah Alaydrus - Bisnis.com 29 Maret 2019  |  15:27 WIB
Bank Indonesia: Sistem Keuangan Kita Aman dari Krisis Turki, Argentina dan Perlambatan di AS
Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo memberikan paparan dalam pembukaan CORE Economic Outlook 2019 bertajuk Memperkuat Ekonomi di tengah Tekanan Global, di Jakarta, Rabu (21/11/2018). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA - Dari aspek sistem keuangan, Bank Indonesia menegaskan Indonesia aman dari paparan dampak sistemik krisis di Turki, Argentina hingga perlambatan ekonomi yang terjadi di sejumlah negara maju. 

Deputi Guberur Bank Indonesia (BI) Dody Budi Waluyo menuturkan siste,m keuangan Indonesia berada di level yang aman berdasarkan simulasi yang dilakukan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).

"Aman, kan kita kan selalu lakukan simulasi setiap saat, dan selalu bertemu dalam forum KSSK dan kita selalu amati dampak global, dampak nilai tukar, suku bunga terhadap stabilitas sistem keuangan," ujar Dody, Jumat (29/1/2019).

Kondisi ini juga diperkuat dari data-data keuangan terkait dengan permodalan, return on equity (ROE) serta return on assets (ROA) perbankan di dalam negeri, dan profit perbankan.  "Itu semua terdorong," katanya. 

Tugas KSSK adalah mengawasi dan memantau sejumlah aspek sistem keuangan di dalam negeri dari mulai perkembangan ekonomi, moneter, fiskal, pasar keuangan, lembaga jasa keuangan hingga penjamin simpanan. 

Anggota KSSK yang terdiri atas Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). KSSK merilis hasil rapat reguler setiap tiga bulan sekali.

Bank Indonesia melihat masalah krisis di Turki dan Argentina serta perlambatan ekonomi di Eropa, AS dan masalah Brexit memang berpengaruh terhadap pasar keuangan global. 

Rupiah ikut mengalami depresiasi selama seminggu terahir sebesar 0,5%. Namun secara tahun kalender, rupiah masih berada di posisi menguat sebesar 0,9%. BI melihat sentimen investor terhadap Indonesia masih sangat positif. Hal ini terlihat dari aliran modal masuk ke dalam negeri, termasuk ke pasar surat berharga negara (SBN), Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dan saham. 

Sepanjang minggu lalu, aliran modal ke dalam negeri tercatat mencapai Rp15 triliun - Rp16 triliun. Dengan aliran dana tersebut, total aliran dana secara tahun kalender hingga akhir minggu lalu mencapai sekitar Rp90 triliun. 

Dody menuturkan Indonesia memang harus awal dengan perkembangan di Turki, Argentina, Eropa dan negara lainnya. Namun, dia menegaskan sentimen investor terhadap pasar Indonesia cukup baik.  "Sentimen investor terhadap Indonesia masih sangat positif."

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia

Editor : Fajar Sidik

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup