Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

IoT Dapat Bantu Perusahaan Asuransi Ukur Nilai Risiko

Ketua Umum Asosiasi IoT Indonesia Teguh Prasetya mengatakan sejumlah pemain besar industri IoT telah mengembangkan alat sensor yang dapat membantu perusahaan asuransi mengukur risiko dan nilai pertanggungan.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 02 Juli 2019  |  22:00 WIB
Pengunjung beraktivitas di dekat logo asuransi jiwa di gedung Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Jakarta, Rabu (9/1/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
Pengunjung beraktivitas di dekat logo asuransi jiwa di gedung Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), Jakarta, Rabu (9/1/2019). - Bisnis/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA – Asosiasi IoT Indonesia menilai keberadaan perangkat Internet of Things (IoT) mampu membantu industri asuransi dalam mengukur risiko dan nilai pertanggungan sehingga perusaan asuransi semakin efisien.   

Ketua Umum Asosiasi IoT Indonesia Teguh Prasetya mengatakan sejumlah pemain besar industri IoT telah mengembangkan alat sensor yang dapat membantu perusahaan asuransi mengukur risiko dan nilai pertanggungan.  

Dia mengatakan nantinya dengan perangkat IoT perusahaan asuransi dapat memantau aset yang diasuransikan untuk mengetahui rekam jejak aset tersebut.

Setelah perusahaan asuransi mengetahui rekam jejak aset, sambungnya, perusahaan dapat menentukan nilai premi dan nilai pertanggungan yang sesuai..

Smartwatch yang terhubung dengan ponsel pintar, kata Teguh, adalah salah satu perangkat IoT yang paling sering digunakan di sektor asuransi khususnya asuransi kesehatan.

Teknologi tersebut memungkinkan perusahaan asuransi yang memiliki produk asuransi kesehatan mendeteksi detak jantung dan respirasi oksigen tertanggung, sehingga mereka bisa menentukan nilai premi yang harus dibayarkan oleh tertanggung sesuai dengan risikonya.

Baca Juga : Harga Emas Hari Ini

Artinya semakin sehat detak jantung tertanggung, maka nilai premi yang dibayarkan semakin murah karena risiko terjadinya klaim kecil.

“Dengan mengukur kondisi fit seseorang, perusahaan asuransi dapat menentukan apakah tertanggung masuk dalam kategori low risk, medium risk atau high risk. Itu bisa berdampak polis asuransinya,” kata Teguh kepada Bisnis, Senin (1/7/2019).

Tidak berhenti pada asuransi kesehatan, Teguh berpandangan bahwa alat sensor IoT juga telah masuk di produk asuransi kendaraan.

Dia menjelaskan perangkat sensor IoT membantu perusahaan asuransi dalam memberikan data mengenai usia dan kondisi kendaraan, sehingga perseroan dapat berhitung mengenai nilai premi untuk kendaraan tersebut. 

Berdasarkan data Asosiasi IoT Indonesia diperkirakan pada 2022 terdapat 400 juta perangkat IoT yang beredar di Indonesia. Dari angka tersebut sebanyak 13 persen atau 52 juta diprediksi akan beredar di industri asuransi.

Adapun berdasarkan data Asosiasi Asuransi Umum Indonesia pada kuartal I/2019, pangsa pasar asuransi kendaraan masih yang tertinggi dibandikan dengan lini usaha asuransi yang lain, pangsa asuransi kendaraan sebesar 24 persen.

Selain itu, selama 3 bulan pertama 2019, asuransi kendaraan juga memberi kontribusi premi terbesar yaitu senilai Rp4,74 triliun dan klaim senilai Rp2,02 triliun.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asuransi Internet of Thing-IoT Internet of Things
Editor : M. Taufikul Basari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top