Volatilitas Rupiah Berpeluang Tahan Pelonggaran Moneter

Rupiah yang cukup fluktuatif dalam beberapa waktu terakhir akibat situasi perang dagang dan kurs diprediksi membuat Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan atau BI7-Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 5,75%.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 21 Agustus 2019  |  11:36 WIB
Volatilitas Rupiah Berpeluang Tahan Pelonggaran Moneter
Karyawati beraktivitas di salah satu kantor cabang Bank Sinarmas, di Jakarta, Senin (22/7/2019). - Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA -- Rupiah yang cukup fluktuatif dalam beberapa waktu terakhir akibat situasi perang dagang dan kurs diprediksi membuat Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan atau BI7-Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 5,75%.

Ekonom Bank Danamon Indonesia Wisnu Wardana menyatakan, Bank Indonesia kemungkinan memilih untuk mempertahakan suku bunga acuan pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2019 ini. Alasannya, fundamental rupiah cukup sensitif terbadap isu pasar keuangan global.

"Contohnya dalam 3 minggu terakhir ada perang dagang, devaluasi yuan, dan kondisi politik di Argentina," terang Wisnu kepada Bisnis.com, Rabu (21/8/2019).

Dia menyatakan sebenarnya penurunan suku bunga acuan bisa dilakukan bertahap sejalan dengan spread suku bunga dan imbal hasil antarnegara.

"Terlebih jika suku bunga The Fed juga turun bulan depan seperti ekpektasi pasar," pungkasnya.

Terkait dengan peluang melalui pelonggaran kebijakan makroprudensial, Wisnu menjelaskan bahwa pelonggaran likuiditas juga dapat dilakukan melalui GWM.

Saat ini GWM berada pada level 6% dan berada pada level 5% sebelum 2011. Dia menjelaskan, ruang perbedaan 1% tersebut dapat menambah likuiditas di bank senilai Rp57 triliun.

Namun dia menilai ketimbang kebijakan makroprudensial, yang paling penting justru memperbaiki level fundamental rupiah. Hal ini dikarenakan sensitivitas yang tinggi terhadap gejolak di pasar keuangan global.

"Kondisi saat ini tidak menunjukkan level fundamental rupiah yang sesuai," ungkapnya.

Adapun upaya menyehatkan kondisi neraca transaksi berjalan, Wisnu menambahkan bahwa faktor rupiah juga lebih berperan sehingga upaya meningkatkan permintaan domestik melalui penurunan suku bunga tidak diikuti dengan penambahan defisit transaksi berjalan.

Adapun Real Effective Exchange Rate (REER) rupiah per Juli berada pada level 93bps pada saat SPOT IDR14.000 per US$.

Wisnu pun mengusulkan, sebaiknya ada strategi makro menurunkan suku bunga dan menurunkan REER pada saat yang sama.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Gonjang Ganjing Rupiah

Editor : Achmad Aris
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top