Sinyal The Fed Jadi Kunci Keputusan Bank Indonesia

Sinyal dovish ataupun hawkish The Fed sampai akhir tahun ini masih menjadi kunci untuk Bank Indonesia mengelola kebijakan moneternya.
Gloria Fransisca Katharina Lawi
Gloria Fransisca Katharina Lawi - Bisnis.com 21 Agustus 2019  |  15:37 WIB
Sinyal The Fed Jadi Kunci Keputusan Bank Indonesia
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan penjelasan pada jumpa pers mengenai hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia di Jakarta, Kamis (21/3/2019). Bank Indonesia memutuskan untuk tetap mempertahankan suku bunga acuan BI 7 Day Reverse Repo Rate (BI 7DRR) sebesar 6,00 persen, suku bunga Deposit Facility sebesar 5,25 persen, dan suku bunga Lending Facility sebesar 6,75 persen. Bisnis - Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA -- Sinyal dovish ataupun hawkish The Fed sampai akhir tahun ini masih menjadi kunci untuk Bank Indonesia mengelola kebijakan moneternya.

Direktur Riset Center of Reform on Economy (CORE) Piter Abdullah mengatakan, dalam Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia bulan ini masih akan menahan suku bunga acuan atau BI7-Days Repo Rate.

Piter menyebut ada dua pertimbangan. Pertama, adalah sinyal yang tidak cukup dovish dari The Fed pascapenurunan suku bunga yang lalu.

"BI saya yakin seperti pelaku pasar lain sedang menunggu sinyal yang lebih pasti tentang arah kebijakan The Fed," terang Piter kepada Bisnis.com, Rabu (21/8/2019).

Menurut Piter, arah kebijakan The Fed akan berpengaruh terhadap aliran modal global dan menjadi rujukan kebijakan BI. Dia menyebut jika The Fed memberi sinyal akan menurunkan suku bunga, maka BI juga lebih berani menurunkan suku bunga.

"Aliran modal global akan bergerak ke negara berkembang rupiah ada ruang menguat. Demikian sebaliknya," ungkap Piter.

Pertimbangan kedua, pada saat menunggu arah kebijakan The Fed ini dolar terus menguat, sedangkan rupiah tertekan pelemahan. Sejauh ini pergerakan rupiah adalah rujukan kebijakan suku bunga acuan BI.

"Saya yakin BI akan menimbang bahwa The Fed cenderung menahan suku bunga, tekanan pelemahan rupiah masih tinggi, dan oleh karena itu paling tepat bagi BI adalah menahan suku bunga," ujarnya.

Senada dengan Piter, Ekonomi Bank Central Asia David E. Sumual menyatakan BI diprediksi akan menahan suku bunga acuan 5,75%. Hal ini adalah bentuk antisipasi atas persoalan ketidakpastian eksternal.

"Ini masih soal ketidakpastian eksternal dan dampaknya ke external balance kita," ujar David.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Suku Bunga

Editor : Achmad Aris

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top