Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Direkomendasikan Kaesang Pangarep, Cuan kah Mengoleksi Emiten Saham Batu Bara?

Kebangkitan (sektor) batu bara tidak pernah menembus level tertinggi sebelumnya di pasar modal, sampai dengan tahun 2018 mulai berbalik trennya menurun.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 28 Agustus 2019  |  12:39 WIB
Tempat penampungan batu bara. - Bloomberg/Andrew Harrer
Tempat penampungan batu bara. - Bloomberg/Andrew Harrer

Bisnis.com, JAKARTA - Kebangkitan (sektor) batu bara tidak pernah menembus level tertinggi sebelumnya di pasar modal, sampai dengan tahun 2018 mulai berbalik trennya menurun. 

Demikian disebutkan William, analis dari Indosurya Sekuritas ketika menanggapi stereotipe keuntungan yang didapatkan dari emiten sektor batu bara. 

Sebelumnya diketahui, Kaesang Pangarep memberikan petunjuk harga saham perusahaan batu bara yang dapat diperoleh hanya dengan Rp.9.100/lot-nya kepada pengikutnya di jejaring media sosial Twitter. 

Warganet seakan terheran dengan harga semurah itu, seseorang bisa dilabeli investor di pasar modal terkhususnya saham. 

"Sah-sah saja orang mengambil keputusannya masing-masing. Setiap orang punya preferensi, independensi dan setiap orang punya integritas yang dia bisa pertanggungjawabkan sendiri," katanya saat berbicara dengan Bisnis pada Rabu (28/8/2019). 

Namun melihat data ekonomi makro, menurutnya, sektor pertambangan mulai booming di awal tahun 2011. Batu baru secara khusus, disebutkannya, tidak pernah menembus level tertinggi hingga pada tahun  2018 mengalami tren penurunan. 

"Kalau berbalik turun (emiten batu bara), dengan kenaikan sepanjang dua tahun lebih, apakah itu worth-it kita melakukan pembelian? Atau alangkah lebih baiknya kita menunggu sedikit lebih lama lagi?" lanjutnya. 

Menurutnya, tren emiten sektor batu bara lebih direkomendasikan untuk investasi jangka panjang. Potensi kenaikan tetap tersedia, namun perlu diwaspadai profil risiko ke depannya.

"Semua saham yang ada di pasar modal memiliki potensi naik, tapi mereka juga memiliki potensi turun, dan memiliki potensi di-delisting," sambungnya. 

Maka dari itu, ia menyarankan pemula untuk mengetahui risiko portofolio sahamnya. Salah satunya ia berharap pemula memiliki motif investasi dalam transaksi jual beli saham di pasar modal sebelum akhirnya beralih aktif mengambil keuntungan instan sebagai trader.

"Kenali dulu risiko profile-nya masing-masing. Kalaupun mau trading boleh, tapi awali lah dulu dengan investasi. Kalau tahu-tahunya naiknya melonjak tinggi, ya nggak ada salahnya fleksibel untuk jadi trader. Tapi bukan berarti masuk sebagai trader, babak belur, tapi ngomongnya mending nggak di pasar modal. Karena rugi nggak boleh dilihat dari satu kacamata hanya dari keuntungan sesaat," tutupnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rekomendasi saham
Editor : Mia Chitra Dinisari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top