Mandiri Pastikan Tak Ada Risiko Kredit karena Pemindahan Ibu Kota

PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. memastikan tidak ada peluang risiko baru dari kredit proyek infrastruktur akibat pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke wilayah Kalimantan Timur.
Ipak Ayu H Nurcaya
Ipak Ayu H Nurcaya - Bisnis.com 29 Agustus 2019  |  15:59 WIB
Mandiri Pastikan Tak Ada Risiko Kredit karena Pemindahan Ibu Kota
Direktur Corporate Banking Bank Mandiri Royke Tumilaar (dari kiri) berfoto bersama Dirut Hutama Karya Bintang Perbowo, Dirkeu Anis Anjayani dan SEVP Large Corporate Bank Mandiri Dikdik Yustandi usai penandatanganan perjanjian kredit sindikasi untuk ruas tol Terbanggi Besar - Kayu Agung, di Nusa Dua, Bali, Kamis (11/10/2018). - JIBI/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. memastikan tidak ada peluang risiko baru dari kredit proyek infrastruktur akibat pemindahan Ibu Kota dari Jakarta ke wilayah Kalimantan Timur.

Pasalnya, kredit pada program Nasional percepatan penyediaan infrastruktur saat ini diklaim menjadi fokus utama perseroan.

Direktur Corporate Banking PT Bank Mandiri Tbk. Royke Tumilaar mengatakan saat ini perseroan memang belum menerima pengajuan pembiayaan terkait pemindahan Ibu Kota baru. Namun, dia memastikan kegiatan itu akan menjadi prospek baru bagi perseroan.

"Kami melihat tidak ada perubahan risiko dari kredit yang sudah ada tetapi ini akan lebih prospek. Ini kan proyek baru ada pembangunan, kami akan lihat siapa yang mempunyai proyek dan siapa kontraktornya," katanya, Rabu (28/8/2019).

Royke mengemukakan bahwa prinsipnya perseroan akan siap jika diminta untuk turut membiayai rencana pemindahan Ibu Kota baru. Apalagi jika dilakukan secara sindikasi, dia meyakini baik bank asing maupun bank lokal pasti akan mampu.

Sementara itu, per Juni 2019, kredit perseroan dengan sandi saham BMRI ini naik 22,6% secara tahunan menjadi Rp203,4 triliun.

Adapun tujuh sektor utama kredit Mandiri yakni transportasi Rp39,6 triliun, tenaga listrik Rp43,9 triliun, migas & energi terbarukan Rp37,2 triliun, konstruksi Rp17,2 triliun, Jalan tol Rp17,1 triliun, telematika Rp22,6 triliun, perumahan rakyat & fasilitas kota Rp10,9 triliun, dan infrastruktur lainnya Rp14,7 triliun.

"LRT Rp20 triliun saja bisa kita bagi ramai-ramai, lihat Capex PLN Rp80 triliun, Telkom Rp15 triliun belum Pertamina juga, kita bersama bank lain pasti sanggup," ujarnya.

Direktur Keuangan Bank Mandiri Panji Irawan menambahkan saat ini perseroan masih menunggu kepastian tata ruang dan kota Ibu Kota baru untuk kemudian membuka peluang kredit dari sektor properti atau yang dibutuhkan dalam pembangunan di sana.

"Kami juga akan siapkan banyak hal, yang sudah pasti akan membangun kantor di sana juga berbagai penunjang yang representatif untuk berbagai kegiatan direksi nantinya," ujar Panji.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
konstruksi, bank mandiri, kredit sindikasi

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top