Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

BPJS Kesehatan: Defisit 2019 Sekitar Rp16 Triliun

Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS Kesehatan menyatakan bahwa defisit program Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN pada tahun ini sekitar Rp16 triliun.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 12 Desember 2019  |  16:55 WIB
Petugas pemeriksa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan (kanan) mewawancarai pekerja tenaga kesehatan saat monitoring kepatuhan pemberi kerja di Lhokseumawe, Aceh, Selasa (14/3). - Antara/Rahmad
Petugas pemeriksa Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan (kanan) mewawancarai pekerja tenaga kesehatan saat monitoring kepatuhan pemberi kerja di Lhokseumawe, Aceh, Selasa (14/3). - Antara/Rahmad
Bisnis.com, JAKARTA — Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS Kesehatan menyatakan bahwa defisit program Jaminan Kesehatan Nasional atau JKN pada tahun ini sekitar Rp16 triliun.
Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama BPJS Kesehatan Fachmi Idris dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Pengawas BPJS Kesehatan, Dewan Jaminan Sosial Nasional, dan Menteri Kesehatan, Kamis (12/12/2019) di Gedung DPR.
Rapat tersebut membahas usulan Komisi IX DPR untuk menunda kenaikan iuran peserta mandiri kelas 3. Usulan tersebut ditanggapi oleh Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto dengan alternatif-alternatif solusi agar iuran tetap naik dan tidak membebani peserta, tetapi belum terdapat keputusan.
Selain itu, Terawan pun menjelaskan bahwa terdapat potensi surplus antara pendapatan dan klaim pada segmen Penerima Bantuan Iuran (PBI) seiring kenaikan iuran berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 75 Tahun 2019. Rasio klaim segmen PBI dinilai akan menurun dari proyeksi awal sebesar 117% pada akhir tahun ini.
Fachmi pun menyatakan bahwa memang terdapat potensi surplus segmen PBI yang akan dialokasikan untuk pembayaran klaim rumah sakit. Pembayaran klaim menjadi prioritas karena akan terdapat carry over defisit dari tahun ini ke 2020.
"Surplus [segmen PBI] akan digunakan terlebih dahulu untuk membayar klaim rumah sakit, klaim carry over, karena masih ada carry over ke tahun depan. Proyeksinya [defisit] itu Rp16 triliun," ujar Fachmi pada Kamis (12/12/2019).
Proyeksi tersebut lebih rendah dibandingkan dengan perkiraan awal. BPJS Kesehatan memproyeksikan defisit 2019 dapat menyentuh Rp32,89 triliun jika kenaikan iuran tidak berlaku.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bpjs kesehatan
Editor : Anggi Oktarinda
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top