Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Saham Asabri Rontok, Dirut : Bentjok dan Heru Utang Rp10,9 Triliun

ASABRI menilai kerugian investasi yang ditempatkan pada saham dan reksadana miliki Benny Tjokro (Brntjok) dan Heru Hidayat (HH) sebagai utang.
Wibi Pangestu Pratama
Wibi Pangestu Pratama - Bisnis.com 29 Januari 2020  |  14:17 WIB
Direktur Utama ASABRI Sonny Widjaja (kiri), Direktur Utama Bank Jatim R. Soeroso (tengah), dan Direktur Menengah Korporasi Su'udi (kanan) menandatangani nota kesepahaman kerja sama pembayaran gaji pensiunan TNI, Polri dan ASN Kementerian Pertahanan di Kantor Pusat ASABRI, Kamis (20/12/2018). - Bisnis/Andi M. Arief
Direktur Utama ASABRI Sonny Widjaja (kiri), Direktur Utama Bank Jatim R. Soeroso (tengah), dan Direktur Menengah Korporasi Su'udi (kanan) menandatangani nota kesepahaman kerja sama pembayaran gaji pensiunan TNI, Polri dan ASN Kementerian Pertahanan di Kantor Pusat ASABRI, Kamis (20/12/2018). - Bisnis/Andi M. Arief

Bisnis.com, JAKARTA — PT Asuransi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia atau Asabri (Persero) menyatakan bahwa Benny Tjokro dan Heru Hidayat memiliki utang investasi saham senilai Rp10,9 triliun.

Direktur Utama Asabri Sonny Widjadja menjelaskan akibat penurunan kinerja saham grup bisnis yang dimiliki oleh kedua orang tersebut maka kinerja ASABRI menjadi anjlok. Grup korporasi itu merujuk kepada PT Hanson International Tbk. (MYRX) miliki Benny Tjokro serta PT Trada Alam Minera (TRAM), PT Inti Agri Resources (IIKP), dan PT SMR Utama (SMRU) milik Heru Hidayat.

Utang investasi saham dari Benny Tjokro tercatat senilai Rp5,1 triliun sedangkan dari Heru Hidayat senilai Rp5,8 triliun. Uang dari keduanya, menurut Sonny, akan digunakan untuk pemulihan penurunan nilai aset saham Asabri.

"Penurunan ini terjadi karena nilai saham dan reksa dana yang menurun, khususnya paling besar karena dari dua orang itu, dari Rp400–500 [per lembar] tinggal Rp50 perak. Tanggung jawab beliau sudah kami mintakan pada pertengahan 2019 ketika sahamnya semakin menurun, tidak ada recovery," ujar Sonny di Gedung DPR RI Jakarta, Rabu (29/1/2020).

Dia menegaskan dana tersebut perlu kembali ke kantong Asabri karena merupakan uang milik prajurit TNI, Polri, dan ASN Kementerian Pertahanan. Sonny bahkan menyinggung bahwa dana tersebut milik pihak-pihak yang memegang senjata.

"Kalau enggak tijitibeh, mati siji mati kabeh, saya bilang begitu saja," ujar mantan Komandan Sekolah Staf dan Komando TNI itu.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia per 13 Januari 2020, dari saham yang dimiliki Asabri di atas lima persen, sebanyak 8 dari 13 saham tersebut lebih rendah dari harga saat IPO. Dari delapan saham tersebut, empat di antaranya termasuk dalam saham "gocap" alias saham yang mentok di harga terendah di bursa yaitu Rp50 per saham.

Empat saham gocap tersebut antara lain, Sidomulyo Selaras Tbk (SDMU) di mana harga IPO Rp225 per saham, Inti Agri Resources Tbk (IIKP) harga IPO Rp450 per saham, SMR Utama Tbk (SMRU) harga IPO Rp600 per saham, dan Hanson Internasional Tbk (MYRX) harga IPO bahkan mencapai Rp9.900 per saham.

Empat saham di bawah harga IPO lainnya itu Alfa Energi Investama Tbk (FIRE) dari harga IPO Rp500 per saham menjadi Rp326 per saham, PP Properti Tbk (PPRO) dari harga IPO Rp185 per saham jadi Rp66 per saham, Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) dari harga IPO Rp300 per saham jadi Rp204 per saham, dan Island Concept Indonesia Tbk (ICON) dari harga IPO Rp118 per saham jadi Rp71 per saham.

Sementara itu, lima saham milik Asabri lainnya saat ini lebih tinggi dibandingkan harga saat IPO yaitu Prima Cakrawala Abadi Tbk (PCAR) dari harga IPO Rp150 per saham jadi Rp338 per saham dan Bank Yudha Bhakti Tbk (BBYB) dari harga IPO Rp115 jadi Rp268 per saham.

Selanjutnya ada Indofarma Tbk (INAF) dari harga IPO Rp250 per saham jadi Rp740 per saham, Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) dari harga IPO Rp325 per saham jadi Rp675 per saham, dan Pool Advista Finance Tbk (POOL) dari harga IPO Rp135 per saham jadi Rp197 per saham.

 

Dalam paparannya di DPR, Sonny yang juga purnawirawan bintang tiga itu menyebutkan  perseroan mencatatkan kerugian hasil investasi atau unrealized loss pada 2019 senilai Rp4,84 triliun.

Kerugian tersebut berasal dari investasi dana program Tabungan Hari Tua (THT), Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK), dan Jaminan Kematian (JKm). Sedangkan dari seluruh dana yang dikelola nilai kerugian investasi Asabri pada tahun lalu senilai Rp4,94 triliun.

Sebelumnya, Staff Khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Sinulingga menyatakan bahwa kedua orang tersebut memiliki utang kepada Asabri yang harus segera dilunasi, mengingat Asabri saat ini sedang mengalami masalah keuangan.

 

"Kami harapkan ini ada utang-utang [kepada Asabri] yang diakui juga, dan kami harapkan mereka akan melakukan pembayaran, seperti Benny Tjokro dan Heru Hidayat. Kami harapkan kedua orang ini bisa memenuhi pertanggung jawaban untuk utang-utangnya supaya bisa membantu Asabri," ujar Arya di Kantor Kementerian BUMN, Senin (13/1/2020).

 

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asabri
Editor : Anggara Pernando

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top