Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Konsorsium Ilham Habibie Dapat Restu Ambil Alih Bank Muamalat

Konsorsium Ilham Habibie mendapatkan lampu hijau dari Otoritas Jasa Keuangan untuk mengambil alih PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. Padahal sebelumnya otoritas sempat menolak keinginan konsorsium itu untuk mengakuisisi bank syariah tertua di Indonesia tersebut.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 04 Februari 2020  |  18:17 WIB
Petugas melayani nasabah di kantor cabang Bank Muamalat, Bandung, Jawa Barat, Rabu (7/11/2018). - JIBI/Rachman
Petugas melayani nasabah di kantor cabang Bank Muamalat, Bandung, Jawa Barat, Rabu (7/11/2018). - JIBI/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan memberikan lampu hijau kepada konsorsium Ilham Habibie bersama Al Falah Investments Pte. Ltd. untuk mengambil alih saham PT Bank Muamalat Indonesia Tbk. melalui penawaran saham terbatas. 

Ketua Dewan Komisaris Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso mengatakan penyehatan Bank Muamalat tinggal menunggu waktu eksekusi. Menurutnya, calon investor hanya perlu menyesuaikan proses admistrasi dan memenuhi kelengkapan informasi.

Calon investor tersebut, ungkap Wimboh, konsorsium Al Falah Investments Pte. Ltd. yang dipimpin oleh Ilham Habibie, putra Presiden ke-3 RI BJ Habibie. "Ya konsorsiumnya Al Falah, [Al Falah jadi?] Iya, secepatnya," katanya, Selasa (4/2/2020).

Namun, dia enggan menyebut berapa dana yang diberikan konsorsium Al Falah untuk mengambil alih Bank Muamalat. Namun, dia menegaskan eksekusi tersebut akan dilakukan secepatnya. 

Seperti diketahui konsorsium Ilham Habibie sebelumnya mendapatkan resistensi dari OJK untuk mengambil alih Bank Muamalat. Pasalnya, otoritas waktu itu meminta dana disetor (escrow account) sebagai komitmen minimal separuh dari kebutuhan Muamalat.

OJK menaksir kebutuhan Muamalat adalah Rp8 triliun, sehingga dibutuhkan dana disetor Rp4 triliun. Al Falah kala itu hanya menyetor Rp1,7 triliun.

Sementara itu, kondisi permodalan Muamalat terkendala dengan tumpukan aset berkualitas buruk. Pada 2015 bank menutup buku dengan rasio pembiayaan bermasalah (non-performing financing/NPF) 7,11 persen. Pada tahun selanjutnya turun menjadi 3,83 persen. Namun per kuartal III/2019 kembali naik menjadi 5,64 persen.

Permodalan membuat Bank Muamalat kesulitan melakukan ekspansi bisnis. Pada 2018, portofolio pembiayaan bank tergerus 18,7 persen yoy menjadi Rp33,56 triliun. Pada tahun lalu, per kuartal III/2019, pembiayaan tumbuh 2,4 persen yoy menjadi Rp35,98 triliun.

Hal itu memengaruhi kemampuan rentabilitas perusahaan. Per September 2019, laba bersih bank merosot berkali-kali lipat dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu atau dari Rp111,8 miliar menjadi Rp7,3 miliar.

Anggota Komisi IX dari Fraksi Demokrat Siti Mufattahah mempertanyakan mengenai kondisi Bank Muamalat saat ini. Dia menakutkan jika penyehatan tidak kunjung dilakukan, kerugian Bank tersebut akan semakin bertambah. 

"Ini bagaimana tindakan OJK sendiri, sedangkan saya tahu OJK sangat superbody bisa melakukan perturan apa saja, pengawasan dan penindangkan ada di Bapak [Wimboh Santoso], saya ingin mari kita pikirkan sama-sama kalau seandainya belum dilakukan pengawasan di mana posisi OJK saat ini," katanya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ojk bank muamalat wimboh santoso Ilham Habibie
Editor : Hendri Tri Widi Asworo
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top