Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Menimbang Untung Rugi Bank BJB Selamatkan Bank Banten

Pemegang saham mayoritas BJBR meminta proses due diligence atau uji tuntas terkait rencana penyelamatan harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian.
Annisa Sulistyo Rini
Annisa Sulistyo Rini - Bisnis.com 05 Mei 2020  |  09:51 WIB
Ilustrasi PT Bank Jabar Banten Tbk - Bisnis.com
Ilustrasi PT Bank Jabar Banten Tbk - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Proses penyelamatan PT BPD Banten Tbk. (BEKS) terus berjalan.

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil mengatakan proses teknis penyelamatan Bank Banten saat ini diserahkan kepada jajaran direksi PT BPD Jawa Barat dan Banten Tbk. (BJBR) setelah pihaknya, selaku pemegang saham pengendali terakhir (PSPT) Bank BJB, menandatangani letter of intent dengan Gubernur Banten Wahidin Halim, selaku PSPT Bank Banten pada 2 pekan lalu.

Pemegang saham mayoritas BJBR pun meminta proses due diligence atau uji tuntas terkait rencana penyelamatan harus dilakukan dengan prinsip kehati-hatian.

Bagaimana para analis menilai untung rugi upaya penyelamatan tersebut ke Bank BJB?

Alfred Nainggolan, Kepala Riset Praus Capital, mengatakan jika menengok latar belakang penyelamatan Bank Banten, maka rencana ini merupakan permintaan pemerintah kepada BJBR untuk menyelamatkan Bank Banten, bukan murni business to business.

Latar belakang ini yang menyebabkan persepsi yang ada di pasar adalah Bank BJB berkorban menyelamatkan Bank Banten. Aksi ini juga dipandang pasar bukan dikarenakan BJBR melihat adanya peluang bisnis.

"Apakah ini berimbas ke saham BJBR? Ya, ini akan menjadi sentimen negatif," ujarnya Selasa (5/5/2020).

Kinerja Bank BJB dan Bank Banten

Sepanjang tahun berjalan (year to date), saham BJBR telah melemah 33,76 persen. Pada pembukaan perdagangan hari ini, saham BJBR dibuka pada level Rp780 per saham atau tidak mengalami perubahan dari penutupan perdagangan kemarin.

Saat ini, mekanisme penyelamatan juga belum menemukan titik terang. Kalaupun merger, skema serta nilainya juga belum ada. Jika nilainya sesuai kondisi Bank Banten saat ini, dia menyatakan kerugian BJBR tidak akan terlalu besar.

Berdasarkan hitungan Alfred, mengacu pada nilai akuisisi Pemprov Banten ke Bank Pundi pada 2016 sebesar Rp800 miliar untuk kepemilikan 51 persen, nilai akuisisinya sekitar 2,1 kali price book value (PBV).

Saat ini, ekuitas BEKS berada di angka Rp549 miliar atau dengan harga buku Rp8,5 per saham. Jika asumsi PBV 2 kali, maka nilai akuisisi 51 persen saham Pemprov Banten di BEKS senilai Rp500 miliar.

Sebagai perbandingan, harga akuisisi Bank Permata oleh Bank Bangkok berada di angka 1,6 PBV, sedangkan untuk kelompok bank BUKU I seperti Bank Mitraniaga PBV 2 kali dan Bank Dinar 1,9 kali.

"Selagi harga murah dan sebanding dengan risikonya, bisa jadi sentimen positif," jelasnya.

Alfred menyebutkan jika nantinya kedua bank ini bergabung, maka keuntungan yang bisa dimanfaatkan oleh BJBR adalah pasar Bank Banten yang bisa dioptimalkan. Ekspansi bisnis Bank BJB pun juga bisa semakin leluasa.

"Apalagi, bank daerah kan punya pasar khusus, seperti menyasar pegawai dan kredit komersial."

Gedung Bank Banten/bankbanten.co.id

Sebelumnya, Direktur PT Anugerah Mega Investama Hans Kwee menilai jika langkah merger nantinya yang diambil sebagai penyelamatan, aksi ini tidak akan sulit karena Pemprov Banten juga menjadi pemegang saham Bank BJB sebesar 5,29 persen.

Dia juga menilai langkah merger mempunyai keuntungan karena akan meningkatkan efisiensi bank. Setiap bank, katanya, punya kelebihan sehingga apabila digabung akan menghasilkan sinergi yang kuat.

"Penggabungan pasti menambah jumlah aset bank tersebut, sehingga menghasilkan bank yang lebih besar. Jumlah nasabah baik deposan maupun peminjam juga meningkat," ujarnya.

Selain itu, jumlah cabang utama dan cabang pembantu juga menjadi lebih banyak sehingga dapat melayani nasabah yang lebih luas. Ketika cabang berdekatan, maka kantor dapat digabung untuk mengurangi biaya operasional cabang.

Melihat demografi maka jumlah penduduk Banten pada 2019 adalah 12,96 juta jiwa dan Jawa Barat adalah 49,31 juta jiwa, hal ini tentu menguntungkan bagi kedua bank karena potensial nasabah yang dapat dilayani sangat besar.

Selain itu, BPD biasanya menjadi bank transaksi dan tempat penempatan dana oleh pemerintah daerah. Hans meyakini kinerja Bank BJB akan tetap solid pascaaksi korporasi ini.

"Karena itu pengabungan ini tentu meningkatkan aktivitas bisnis kedua bank karena melibatkan dua provinsi yang besar," katanya.

Adapun, Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldi pada pekan lalu mengatakan pihaknya akan mempersiapkan tahapan-tahapan yang perlu dilakukan oleh kedua belah pihak.

“Sebagai langkah awal kami akan melakukan proses persiapan due diligence yang kami pastikan untuk dilakukan secara cermat, profesional dan independen” ujar Yuddy dalam keterangan resmi.

Menurutnya dalam rencana sinergi bisnis tentunya akan dilakukan dengan teliti dan hati-hati sesuai prinsip tata kelola yang baik dalam upaya penguatan perbankan nasional dan menjaga stabilitas sistem keuangan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank bjb Bank Banten
Editor : Annisa Sulistyo Rini
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top