Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Akibat Pandemi, Perbankan Global Siap Divestasi Besar-besaran

Pandemi Covid-19 membuat perbankan harus berpikir lebih keras ketimbang krisis 2008-2009.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 24 Juni 2020  |  11:29 WIB
Ilustrasi Bank - Istimewa
Ilustrasi Bank - Istimewa

Bisnis.com, PEKANBARU — Perbankan dunia, khususnya di Amerika Serikat, diperkirakan bakal melakukan efisiensi dan divestasi untuk menyesuaikan operasional pada masa pascapandemi virus corona atau Covid-19.

Berdasarkan laporan Ernst & Young LLP., mayoritas perbankan global berencana melakukan divestasi besar-besaran dalam menyambut kenormalan baru.Lebih dari separuh responden akan melakukan divestai paling cepat 12 bulan ke depan.

“87 persen mengatakan mereka [perbankan] akan melakukan divestasi dalam 2 tahun, 60 persen mengatakan dalam 12 bulan,” tulis EY seperti dikutip Bloomberg, Rabu (24/6/2020).

Adapun jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan hasil survei sebelum Covid-19 menyerang yaitu masing-masing sebanyak 61 persen dan 46 persen.

EY menunjukkan divisi perbankan yang paling menekan kinerja akan dipangkas lebih dulu. Sebanyak 51 persen koresponden menyampaikan rencana ingin menghilangkan unit pengiriman (delivering unit) yang kurang memberikan hasil optimal.

Menurut hasil riset EY, krisis keuangan pada 2008—2009 menyebabkan divestasi menjadi pilihan bagi perbankan. Kala itu, perbankan memiliki opsi yang lebih mudah dipilih yaitu divestasi wajib dan divestasi sukarela.

“Krisis saat ini mengombinasikan tantangan digital dan biaya, artinya perbankan harus berpikir keras ketimbang krisis sebelumnya mengenai mana aset yang menjadi fokus dan mana yang tidak,” jelas EY.

Selanjutnya, sebanyak 70 persen koresponden berencana menggunakan dana hasil divestasi untuk menambah modal dalam memperkuat bisnis inti. 

Adapun selama masa pandemi, orang-orang lebih sering memanfaatkan layanan perbankan secara daring. Dengan demikian, beberapa pembaruan seperti pengembangan teknologi, penguatan sistem perbankan, serta digitalisasi menjadi pilihan investasi modal utama perbankan ke depannya.

Adapun survei EY di atas dilakukan secara online terhadap 1.000 orang eksekutif di perbankan global.  Pejabat dewan direksi mewakili 75 persen responden dalam riset tersebut.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perbankan covid-19
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top