Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pelaku Usaha Butuh Go Digital di Era New Normal, Ini Tipsnya

Setidaknya terdapat tiga trik yang bisa diupayakan para pelaku usaha, terutama UMKM, untuk mempersiapkan diri memaksimalkan berbagai layanan digital ketika memasuki era pascapandemi.
Wanita memegang smartphone dengan aplikasi dompet digital. /ANTARA
Wanita memegang smartphone dengan aplikasi dompet digital. /ANTARA

Bisnis.com, JAKARTA - Qasir, platform penyedia kasir digital atau layanan point-of-sale (POS), mengajak pelaku usaha mempersiapkan amunisi, demi menjaring momentum di era new normal.

CEO Qasir Michael William mengungkap bahwa hal ini menilik mulai meredanya pandemi Covid-19 didorong realisasi program vaksinasi, di mana mampu menjadi titik terang dan memberikan optimisme baru bagi pelaku usaha, terutama yang telah Go Digital.

"Usahawan bisa menganggap proses tersebut sebagai periode revitalisasi, yang bisa dimanfaatkan untuk menyiapkan amunisi sebelum industri kembali normal sepenuhnya," ujar Michael dalam keterangannya, Jumat (2/4/2021).

Michael mengungkapkan setidaknya terdapat tiga trik yang bisa diupayakan para pelaku usaha, terutama UMKM, untuk mempersiapkan diri memaksimalkan berbagai layanan digital ketika memasuki era pascapandemi.

"Jika sudah melalui tahap adaptasi ke teknologi digital selama pandemi ini, saatnya kita mulai masuk ke tahap optimalisasi. Pemanfaatannya mesti ditingkatkan, fitur-fitur dan layanan yang belum tersentuh dari platform digital harus lebih dieksplor," tambah Michael.

Pertama, membangun konsistensi penjualan produk atau jasa melalui promosi digital, seperti melalui media sosial atau marketplace.

Pasalnya, menurut Michael, meskipun era pasca-pandemi memungkinkan konsumen untuk mengunjungi toko atau berbelanja langsung, perilaku konsumen dalam mengakses produk secara digital akan tetap bertahan karena kebiasaan ini terbentuk semakin kuat selama pandemi.

Kedua, meningkatkan interaksi dan menjaga  hubungan baik dengan konsumen melalui evaluasi dan pengembangan produk yang dapat dilakukan dengan mudah dan gratis melalui platform survei online demi menciptakan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan target konsumen.

Ketiga, membuat website usaha sendiri apabila belum memiliki. Menurutnya, ini seharusnya dilakukan sejak awal agar nama domain usaha tidak 'keduluan' digunakan orang lain.

"Website usaha menjadi representasi digital yang memberikan kesan terpercaya bagi sebuah brand UMKM. Keberadaan usaha di media sosial dan marketplace dapat sewaktu-waktu mengalami kendala yang malah menghambat penjualan, maka website atau landing page dapat menjadi acuan resmi bagi konsumen baik sebagai akses membeli produk maupun referensi informasi," jelasnya.

Michael berharap jangan sampai usahawan kelabakan karena tidak menyiapkan strategi pasca-pandemi sedari dini, dan akhirnya kehilangan momentum, atau telat adaptasi dan adopsi digital, yang akhirnya malah berpengaruh buruk terhadap penjualan dan pertumbuhan bisnis ke depannya.

Michael pun berharap UMKM yang belum Go Digital untuk memanfaatkan teknologi Qasir, yang bukan hanya memungkinkan pencatatan transaksi, pembayaran digital, atau pengisian kembali stok dari supplier terdekat.

Platform juga melengkapi layanan dukungan brand untuk UMKM, bahkan mengakomodasi pembiayaan modal atau dana talangan lewat kerja sama Qasir dengan beberapa platform fintech peer-to-peer (P2P) lending.

Dari sisi dukungan UMKM, salah satu kemampuan Qasir, yakni menyediakan layanan Website Usaha yang sudah diikuti oleh 2500 usahawan. Inovasi layanan ini ini dapat dieksplor dan dimanfaatkan oleh pelaku UMKM untuk menjangkau konsumen lebih luas. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah yang mendorong gerakan UMKM Go Digital selama beberapa tahun terakhir.

"Kami tidak ingin sekedar menciptakan produk tanpa memberikan dampak yang nyata bagi usahawan mikro. Untuk itu, kami terus memonitor pergerakan konsumen kami, sejauh mana tingkat utilisasi fiturnya, apakah sudah sesuai dengan kebutuhan mereka, serta intens membuka dialog dengan mereka. Terbukti, terjadi peningkatan pengguna aktif sebanyak 47 persen usahawan sejak pandemi melanda di Q1/2020," tutup Michael.

Adapun, transaksi menggunakan POS Qasir tercatat mencapai lebih dari Rp1 triliun dengan jumlah installer 450.000 kali. Lewat jaringan kemitraan dengan banyak wholesaler dan startup pendukung bisnis mikro, Qasir mantap untuk menjadi inkubator bagi bisnis tradisional di seluruh Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Aziz Rahardyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper