Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

OJK Jelaskan Penyebab Laba BRI (BBRI), BNI (BBNI), Mandiri (BMRI), dan BTN (BBTN) Melesat

Sepanjang 2021, BRI (BBRI), BNI (BBNI), Mandiri (BMRI), dan BTN (BBTN) atau bank Himbara meraup laba Rp72,05 triliun atau naik 78,06 persen secara tahunan.
Leo Dwi Jatmiko
Leo Dwi Jatmiko - Bisnis.com 23 Februari 2022  |  11:00 WIB
Karyawan berada di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan di Jakarta, Jumat (17/1/2020).  - Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawan berada di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan di Jakarta, Jumat (17/1/2020). - Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA — Laba Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), yakni Bank Mandiri (BMRI), BRI (BBRI), BNI (BBNI), BTN (BBTN) melesat 78,06 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada 2021. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai hal tersebut tidak lepas dari kerja keras bersama antara perbankan, regulator, dan pemerintah. 

Deputi Komisioner Humas dan Logistik Otoritas Jasa keuangan (OJK), Anto Prabowo mengatakan program restrukturisasi kredit dan penambahan cadangan menggerakan perekonomian, sekaligus menjaga performa kredit di perbankan. 

OJK berfungsi untuk membaca arah industri perbankan ke depan, menciptakan industri yang kondusif melalui regulasi, termasuk dengan  kebijakan restrukturisasi kredit. Pada 2020, laba perbankan anjlok, kemudian pada 2021, laba Himbara melesat seiring dengan pertumbuhan perekonomian. 

“ini merupakan kerja keras bersama atau gotong royong kalau kata Pak Presiden,” kata Anto kepada Bisnis.

Anto mengatakan OJK memberikan program restrukturisasi karena yakin jika ekonomi tidak berjalan, maka kemampuan masyarakat dalam membayar kredit akan terpengaruh. Jika kemampuan membayar kredit terpengaruh maka bank akan rugi. 

Modal bank akan tergerus untuk menutupi keterbatasan masyarakat dalam membayar kredit. 

“Jika bank-bank rapuh secara sistem maka industri perbankan menjadi tidak sustainable. Untuk itu OJK memberikan restrukturisasi. Jika ada debitur yang terdampak Covid-19 maka tidak perlu diklasifikasikan sebagai bermasalah,” kata Anto. 

Dia menjelaskan dengan diklasifikasikan sebagai kredit bermasalah maka tidak perlu membentuk cadangan. Hal ini pun membuat permodalan bank tetap kuat dan masih memiliki kemampuan menggenjot laba. 

Dalam penyaluran restrukturisasi, OJK juga meminta bank melihat aspek manajemen risiko, dengan melihat kemampuan bank dan debitur. 

Kemudian, OJK juga menambahkan unsur pembentukan cadangan. Artinya, ketika debitur sudah tidak mampu maka ada cadangan, sehingga perbankan dapat berhitung debitur-debitur yang berhasil melampaui dengan baik dan yang macet. 

Himbara, selain mendapatkan insentif dari pemerintah mereka juga memiliki kewajiban untuk menyukseskan program pemerintah melalui penyaluran kredit usaha rakyat (KUR). Itu memberikan keyakinan pada bank bahwa UMKM memberikan penghasilan kepada bank. 

Sebelumnya, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI), dan PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) yang tergabung dalam Himbara mencatatkan kinerja positif pada 2021. 

Keempat bank pelat merah ini mampu meraup laba yang tumbuh 78,06 persen dari Rp40,34 triliun pada posisi 2020 menjadi Rp72,05 triliun pada akhir Desember 2021. 

Jika dirinci, BRI mencetak laba bersih Rp30,76 triliun, Bank Mandiri Rp28,03 triliun, BNI Rp10,89 triliun, disusul BTN yang menyumbang laba senilai Rp2,37 triliun sepanjang 2021.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

btn bni perbankan bri bank mandiri OJK himbara
Editor : Muhammad Khadafi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper
To top