Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Efek Perang Rusia-Ukraina, Modal Asing Rp30 Triliun Kabur dari Pasar SBN

Peningkatan persepsi risiko investasi (credit default swap/CDS) negara emerging markets pun tidak terhindarkan, termasuk Indonesia sekitar 40 basis poin. Hal ini mendorong keluarnya aliran modal asing dari pasar keuangan domestik.
Maria Elena
Maria Elena - Bisnis.com 17 Maret 2022  |  16:30 WIB
Efek Perang Rusia-Ukraina, Modal Asing Rp30 Triliun Kabur dari Pasar SBN
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo memberikan keterangan melalui streaming di Jakarta, Kamis (9/4 - 2020). Dok. Bank Indonesia

Bisnis.com, JAKARTA - Eskalasi geopolitik Rusia dan Ukraina turut berimplikasi pada pasar keuangan negara berkembang, termasuk Indonesia.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry Damayanti menyampaikan bahwa peningkatan persepsi risiko investasi (credit default swap/CDS) negara emerging markets pun tidak terhindarkan, termasuk Indonesia sekitar 40 basis poin.

Hal ini mendorong keluarnya aliran modal asing dari pasar keuangan domestik, baik di pasar Surat Berharga Negara (SBN) maupun saham.

“SBN di Maret saja sejak terjadi konflik Rusia dan Ukraina sudah terjadi outflow sebesar Rp30 triliun dan di saham Rp4 triliun,” katanya dalam konferensi pers usai Rapat Dewan Gubernur, Kamis (17/3/2022).

Meski terjadi outflow yang besar, Destry mengatakan dampak ke peningkatan tingkat imbal hasil SBN justru tidak signifikan.

“Kita lihat yield SBN kita memang naik tapi masih sangat perlahan sehingga posisi sekarang 6,7 persen, karena di satu sisi terjadi outflow, di sisi lain, ada investor domestik yang cukup kuat,” jelasnya.

Adapun, pada periode Januari hingga 15 Maret 2022, total aliran modal asing yang keluar dari pasar keuangan domestik mencapai US$400 juta.

Tertahannya aliran modal asing tersebut terjadi seiring peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global.

Nilai tukar rupiah pada 16 Maret 2022 menguat 0,38 persen secara point to point dan 0,01 persen secara rerata dibandingkan dengan level akhir Februari 2022.

Adapun, rupiah hingga 6 Maret 2022 mencatatkan depresiasi sekitar 0,42 persen dibandingkan dengan level akhir 2021.

BI menyebut, level depresiasi tersebut relatif lebih rendah dibandingkan depresiasi dari mata uang sejumlah negara berkembang lainnya, seperti Malaysia yang mencatatkan depresiasi sebesar 0,76 persen (year-to-date/ytd), India 2,53 persen ytd, dan Filipina 2,56 persen ytd.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia sbn Rusia
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top