Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Alasan Leasing Masih Takut Layani Kredit Kendaraan Listrik

Anjloknya harga jual kembali kendaraan listrik masih menjadi sorotan utama. Fenomena ini hanya bisa ditekan, apabila muncul sentimen positif dari produsen baterai.
Aziz Rahardyan
Aziz Rahardyan - Bisnis.com 22 Juni 2022  |  22:34 WIB
Ilustrasi leasing kendaraan bermotor - www.raceworld.tv
Ilustrasi leasing kendaraan bermotor - www.raceworld.tv

Bisnis.com, JAKARTA - Kendaraan listrik, baik mobil maupun sepeda motor, masih belum menjadi prioritas para pemain industri pembiayaan (multifinance/leasing) disebabkan beberapa alasan.

Jodjana Jody, pengamat Industri pembiayaan dan otomotif sekaligus mantan bos Astra Credit Companies, melihat ketakutan para pemain multifinance yang fokus melayani kredit mobil, terutama untuk tipe battery electric vehicle (BEV).

"Harga mobil-mobil BEV itu hampir separuhnya baterai. Jadi untuk jangka pendek, sulit untuk mengetahui used car value, karena baterai ada usianya, dan pasti rusak seiring dengan lamanya waktu pakai," ujarnya ketika dihubungi, Rabu (22/6/2022).

Menurutnya, harga jual kembali yang masih belum jelas merupakan hambatan utama yang membayangi industri pembiayaan. Terlebih, rata-rata tenor cicilan pembiayaan mobil berkisar 3 tahunan, kemudian kebanyakan konsumen terbiasa berganti kendaraan dalam kurun waktu yang sama.

Selain itu, segmen konsumen mobil BEV mirip-mirip konsumen mobil plug-in hybrid (PHEV) dan hybrid (HEV), di mana mereka cenderung sudah punya beberapa unit mobil, alias bukan pembeli mobil pertama. Konsumen jenis ini notabene kurang sensitif terhadap tren harga jual kembali mobil seken.

"Iklim mobil BEV seken di Indonesia mungkin menguat sekitar 5 tahun lagi. Gambaran awalnya bisa benchmark ke AS, karena di sana Tesla sudah berusia di atas 5 tahun. Adapun, sentimen positif mobil listrik seken di sini juga turut ditopang Indonesia Battery Corporation [PT Industri Baterai Indonesia]. Kalau bisa produksi baterai lokal dengan harga murah di 2025, ini bisa menentukan volume penjualan ke depan," tambahnya.

Selain harga jual kembali, isu lain yang menurut Jody masih menjadi ganjalan industri leasing untuk memprioritaskan kendaraan listrik, salah satunya karena dukungan industri asuransi yang belum maksimal. Sebab, risiko kecelakaan yang berdampak langsung ke baterai mobil listrik merupakan potensi kerugian signifikan bagi leasing maupun asuransi.

Senada, PT Mandiri Utama Finance (MUF) merupakan salah satu multifinance yang mulai menyediakan kredit mobil berbasis listrik lewat lini bisnis MUF Premium.

Direktur Utama MUF Stanley Setia Atmadja mengungkap bahwa harga jual kembali bukan hanya jadi sorotan pihaknya, tapi juga menjadi pertimbangan konsumen dalam mengambil keputusan.

"Sekarang dengan harga unit di atas Rp600 juta, konsumen sudah berpikir dua kali, berapa yang harus disiapkan nanti kalau mau ganti atau dijual kembali. Tren mobil listrik memang sudah ada, tapi konsumen yang berminat itu cenderung melihat kesiapan infrastruktur pendukung, juga menunggu teknologi semakin mutakhir, terutama soal jarak tempuh," ujarnya ketika ditemui Bisnis beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Direktur Utama PT Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN) Harjanto Tjitohardjojo optimistis bahwa porsi pembiayaan mobil BEV, PHEV, dan HEV keluaran terbaru akan terus meningkat setiap tahun, walaupun porsinya masih minim.

"Tahun ini proyeksi pembiayaan mobil baru, baik baterai dan hybrid hanya sekitar Rp30 miliar dan kami tidak terlalu agresif, karena dari total target pembiayaan CFI mencapai Rp6 triliun, separuhnya masih ditopang mobil bekas," ujarnya kepada Bisnis.

PT Mandiri Tunas Finance sebagai leasing yang fokus melayani pembiayaan mobil baru menjadi salah satu contoh yang telah mendapat berkah tren kendaraan listrik.

Sebab, realisasi pembiayaan baru tipe mobil BEV, PHEV, dan HEV pada kuartal I/2022 berada di kisaran Rp50 miliar, sudah setara dengan capaian sepanjang tahun lalu.

Namun, Direktur Sales & Distribusi Mandiri Tunas Finance William Francis melihat minat masyarakat masih terganjal tingginya biaya uang muka (DP), karena harga unit mobil pun tergolong lebih tinggi dibandingkan mobil-mobil mesin bakar konvensional.

Beralih ke multifinance yang memiliki portofolio jumbo terkait kredit kendaraan roda dua, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk alias Adira Finance (ADMF) juga menyoroti anjloknya harga jual kembali motor listrik, sehingga penyaluran pembiayaan dilakukan dengan sangat selektif.

Terkini, ADMF telah melayani pembiayaan sepeda motor listrik berbagai merek, seperti Viar, Gesit, Selis, Volta, dan United. ADMF juga mengakomodasi beberapa brand mobil yang mengeluarkan varian elektrik, terutama lewat pameran otomotif besutannya.

Sementara itu, PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) yang baru saja bekerja sama dengan produsen sepeda motor listrik PT Smoot Motor Indonesia juga mengakui masih ragu mengakomodasi kredit kendaraan listrik untuk segmen ritel.

Oleh sebab itu, Direktur Utama BRI Finance Azizatun Azhimah melihat potensi pembiayaan kendaraan listrik saat ini justru berada di segmen korporasi yang berminat memanfaatkan mobil maupun motor listrik sebagai kendaraan operasional.

"Kerja sama dengan Smoot, di mana BRI Finance menggunakan produk mereka sebagai kendaraan operasional ini juga upaya kami edukasi ke khalayak luas bahwa kendaraan listrik semakin relevan untuk digunakan sehari-hari. Kami siap memberikan pembiayaan kepada korporasi yang berminat menggunakan motor listrik sebagai kendaraan operasional," ungkapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Mobil Listrik multifinance mandiri tunas finance leasing BRI Finance
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top