Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Dampak Bangkrutnya Silicon Valley Bank, Gaji Karyawan Nasabah Tertunda

Gaji karyawan Sillicon valey bank tertunda menyusul kabar bangkrutnya perusahaan berusia 40 tahun itu.
Parkiran salah satu cabang Silicon Valley Bank/bloomberg
Parkiran salah satu cabang Silicon Valley Bank/bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Silicon Valley Bank yang menjadi bank penopang pembiayaan startup dunia, kolaps akibat gagal mendapatkan tambahan dana dalam 48 jam. 

Regulator California akhirnya memutuskan untuk menutup akses dan menyita aset bank pemberi pinjaman bagi banyak startup dunia itu, Jumat (10/3/2023).

Dengan ditutupnya Silicon Valley Bank, para nasabah  yang tidak dapat mengakses akun mereka semakin gelisah dengan status modal mereka. Bahkan, kekhawatiran ini kian bertambah, ketika urusan penggajian karyawan harus tertunda.

Salah satunya terjadi pada pendiri Polymath Robotics Stefan Seltz-Axmacher. 

Dia bercerita, saat membaca soal rencana SVB yang menjual sahamnya US$2,25 miliar atau setara dengan Rp34,8 triliun dan membeli US$500 juta atau setara dengan Rp7,7 triliun saham dalam transaksi yang terpisah, membuat dirinya berpikir bahwa ada suatu yang salah. 

Akhirnya, tanpa menghubungi penasihat, Stefan pun segera mentransfer sekitar 50 persen dana startupnya dari SVB ke rekening lain yang ada di Mercury Bank pada Rabu (8/3/2023).

“Sempat ada perasaan ragu saat melihat artikel itu pada Rabu 8 Maret. Tapi keraguan itu tidak sebanding dengan risikonya,” katanya dilansir dari Tech Crunch, Minggu (12/3/2023). 

Menurutnya, tidak penting jika banyak orang melabeli saya sebagai pebisnis yang mudah panik. Namun, akan sangat rugi bagi dirinya ketika dia terlambat untuk memindahkan dana, sampai membuat sebagian dana perusahaan bermasalah. 

Lalu, Stefan dibanjiri dengan telepon, email, dan pesan teks tentang SVB pada Kamis (9/3/2023).

Sama seperti lusinan pendiri perusahaan lainnya, dia kembali mentransfer uangnya dari SVB. Kali ini 25 persen lagi dari sisa dana. Transfer itu berhasil. 

Sayangnya, usahanya untuk memindahkan sisa dana terakhir Jumat pagi senilai US$250.000 atau setara dengan Rp3,8 miliarnya masih tertunda.

Tetap saja, dia adalah salah satu yang beruntung. Karena bergerak cepat memindahkan asetnya sebelum benar-benar terlambat.

Berikut nasib nasabah SVB usai bangkrut:

1. Tidak Bisa Akses Akun

Pendiri Bootstrap Ashley Tyrner, CEO FarmboxRx , mengatakan dirinya tidak bisa mengakses akunnya untuk menarik jutaan dolar yang dia miliki di bank.

FarmboxRx adalah perusahaan berbasis di Boston , yang bermitra dengan perusahaan asuransi kesehatan seperti Medicare dan Medicaid untuk mengirimkan makanan dan obat ke komunitas yang kurang terlayani. Mereka baru menjadi pelanggan Silicon Valley Bank pada tahun 2021. 

Ketika berita SVB muncul pada hari Kamis, Tyrner memutuskan ingin menarik uangnya dari SVB. Tetapi tidak seorang pun dari 63 karyawan di FarmboxRx, dapat masuk ke akun mereka.

Untungnya, Tyrner mengatakan perusahaan telah "berdiversifikasi" dan memiliki uang di bank lain juga sehingga tidak terganggu soal penggajian.

Di sisi lain keluhan juga dialami pendiri perusahaan Arnie, program pensiun Eliza Arnold yang mendistribusikan uangnya ke beberapa bank dan hanya mentransfer secara internal sesuai kebutuhan. 

2. Gaji Karyawan Tertunda

Sementara itu,  sejumlah perusahaan lain yang menaruh dana seluruhnya di SVB dan terlambat mengambil dana itu, kemungkinan besar akan mengalami bangkrut total. 

Hal ini, dialami oleh Ciara May, pendiri perusahaan perawatan rambut Rebundle yang berbasis di St. Louis. 

Dia telah bergabung dengan bank tersebut sejak tahun 2020, dan itu adalah satu-satunya bank yang digunakan perusahaannya. "Ada lebih dari US$250.000 di akun," katanya

Pada saat dirinya baru saja mendarat di Atlanta, ternyata dia mulai menerima email panik dari investor tentang SVB pada Sabtu (12/3/2023). 

Sayangnya, seorang bankir memberi tahu untuk  mengambil dana tersebut sudah terlambat. 

James Oliver, pendiri aplikasi jaringan Kabila yang berbasis di Atlanta, juga bingung dengan apa yang terjadi. Dia menggunakan SVB sejak September 2022 dan mengatakan dia punya beberapa ribu dolar di bank. 

“Dana itu segalanya bagi kami karena hanya itu yang kami punya,” katanya dilansir dari TechCrunch.

Dia mulai berpikir keras soal biaya operasional di perusahaannya, mengatakan jika uangnya tetap macet seperti ini, bisa menimbulkan masalah bagi Kabila, terutama jika harus membayar gaji karyawan secara penuh.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Arlina Laras
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper