Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Investasi Allianz Life ke Efek Beragun Aset Susut, Manajemen Ungkap Penyebabnya

Investasi ke efek beragun aset (EBA) milik Allianz Life Indonesia turun 62,93 persen secara tahunan (year-on-year/yoy).
Nasabah beraktivitas di kantor Allianz Life, Jakarta, Rabu (6/10/2021). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Nasabah beraktivitas di kantor Allianz Life, Jakarta, Rabu (6/10/2021). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan asuransi jiwa PT Asuransi Allianz Life Indonesia atau Allianz Life Indonesia mencatat penurunan yang terjadi pada investasi di Efek Beragun Aset (EBA) pada empat bulan pertama 2023.

Chief Investment Officer Allianz Life Indonesia Ni Made Daryanti mengatakan bahwa sepanjang April 2022 hingga April 2023, penawaran EBA yang ditawarkan cenderung tidak sebanyak periode sebelumnya.

Merujuk laporan keuangan bulanan konvensional perusahaan, investasi EBA milik Allianz Life Indonesia turun 62,93 persen secara tahunan (year-on-year/yoy). Posisinya menyusut dari Rp40,26 miliar pada April 2022 menjadi Rp14,92 miliar pada April 2023.

“Sehingga investasi baru untuk EBA belum kami lakukan karena menurut kami risk-reward yang ada di portfolio kami saat ini sudah cukup memadai,” kata Made kepada Bisnis, Jumat (23/6/2023).

Made menjelaskan bahwa total nilai investasi EBA pada portofolio mengalami penurunan yang disebabkan oleh fitur dari EBA itu sendiri, di mana setiap tiga bulan terjadi partial redemption hingga jatuh tempo.

Meski mengalami penurunan pada April 2023, Allianz Life Indonesia melihat potensi untuk pembelian investasi asuransi jiwa di EBA masih ada. “Namun tentunya hal ini perlu didukung oleh adanya variasi produk EBA yang tersedia di pasar dan juga imbal hasil yang menarik,” ungkapnya.

Made menekankan bahwa perusahaan tetap membuka peluang untuk investasi di EBA. Namun, Allianz Life Indonesia tetap mempertimbangkan beberapa hal saat melakukan pembelian produk EBA.

Dia menjelaskan bahwa penilaian yang Allianz Life lakukan sama dengan saat perusahaan membeli jenis aset lainnya seperti obligasi korporasi. Adapun, pertimbangan tersebut dilakukan dengan cara menganalisa karakteristik produk, termasuk imbal hasil yang ditawarkan.

Selain itu, perusahaan turut mempertimbangkan rating produk dari rating agensi serta kondisi makroekonomi dalam negeri dan global.

Mengutip data Statistik Asuransi yang dipublikasikan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) periode April 2023 pada 5 Juni 2023, penempatan investasi asuransi jiwa konvensional di EBA turun 30,30 persen secara tahunan dari Rp293,1 miliar pada April 2022 menjadi Rp204,3 miliar pada April 2023.

Pada April 2020 misalnya, penempatan investasi asuransi jiwa ke EBA pernah mencapai Rp425,18 miliar. Akan tetapi, pada periode yang sama tahun selanjutnya turun menjadi Rp383,2 miliar. Bahkan, penempatan investasi ke EBA sempat membukukan Rp203,11 miliar pada 2019, meski pada 2020 mengalami pertumbuhan.

Sebelumnya, Kepala Departemen Pengawasan Asuransi dan Jasa Penunjang IKNB OJK Dewi Astuti mengatakan bahwa saat ini belum banyak perusahaan asuransi jiwa yang menempatkan investasinya pada instrumen EBA.

Berdasarkan data OJK per Desember 2022, regulator mencatat saat ini hanya terdapat 4 perusahaan asuransi jiwa yang menempatkan dananya di EBA.

Namun, lanjut Dewi, dari empat perusahaan tersebut secara total investasinya hanya didominasi oleh 1 perusahaan asuransi jiwa, sedangkan 3 perusahaan asuransi jiwa lainnya relatif masih sangat kecil nilai investasinya.

Dewi menjelaskan penyebab pertama dari rendahnya penempatan investasi ke EBA adalah karena dari sisi profil produknya yang masih didominasi oleh produk Produk Asuransi Yang Dikaitkan dengan Investasi (PAYDI) atau unit-linked.

“Investasi EBA [Efek Beragun Aset] belum menjadi pilihan utama dari pemegang polis, karena pemegang polis masih lebih memilih investasi saham dan obligasi,” ungkap Dewi kepada Bisnis, Selasa (20/6/2023).

Kedua, dari sisi penerbit EBA. Dewi menilai bahwa penerbit EBA perlu melakukan sosialisasi yang lebih intens untuk memperkenalkan produk EBA, terutama yield (imbal hasil) yang akan diperoleh, kemudahan pencairan investasi sewaktu-waktu, maupun dari sisi keamanannya.

Kendati demikian, Dewi menjelaskan bahwa penurunan investasi pada instrumen EBA tidak disebabkan karena hal-hal khusus, baik dari sisi instrumen EBA maupun dari sisi makro ekonomi.

“Penurunan investasi pada instrumen EBA melainkan lebih disebabkan oleh strategi investasi masing-masing perusahaan,” jelas Dewi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper