Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kredit Maybank (BNII) Tumbuh 14% pada Kuartal I/2024

Sejalan dengan pertumbuhan kredit, Maybank (BNII) mampu mempertahankan kualitas kredit pada level aman.
Karyawan melayani nasabah disalah satu kantor cabang PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) di Jakarta, Rabu (2/3/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
Karyawan melayani nasabah disalah satu kantor cabang PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) di Jakarta, Rabu (2/3/2022). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA -- PT Bank Maybank Indonesia Tbk. (BNII) berhasil menyalurkan kredit senilai Rp122,28 triliun pada kuartal I/2024, naik 14% secara tahunan (year-on-year/YoY). 

Aset Maybank pun ikut naik 10,01% YoY menjadi Rp177,8 triliun. Sejalan dengan itu, Maybank mampu menjaga rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) gross yang turun dari 3,37% pada Maret 2023 menjadi 2,67% pada Maret 2024. NPL net juga turun dari 2,25% menjadi 1,73%.

Bersamaan dengan pertumbuhan kredit, dana pihak ketiga (DPK) Maybank juga naik 13,13% YoY menjadi Rp117,21 triliun pada tiga bulan pertama 2024.

Dana murah atau current account saving account (CASA) Maybank Indonesia tumbuh 8,26% YoY menjadi Rp58,19 triliun. Rasio CASA terhadap DPK kini berada di level 49,7% per Maret 2024.

Pjs. Presiden Direktur Maybank Indonesia, Steffano Ridwan juga mengatakan bahwa profitabilitas bank dipengaruhi oleh pencadangan yang tinggi pada kuartal I/2024.

BNII mengambil langkah proaktif dengan menyisihkan pencadangan sebesar Rp873 miliar untuk akun korporasi tertentu yang berpotensi mengalami penurunan kualitas aset. Dengan demikian, BNII mencatat kerugian sebelum pajak sebesar Rp265 miliar.

"Meski begitu, pada kuartal I/2024, kami mampu membukukan pertumbuhan kredit sebesar 14,04% di seluruh segmen di tengah momentum pertumbuhan yang membaik," kata Steffano dalam keterangan tertulis pada Selasa (30/4/2024).

Maybank membukukan kerugian bersih sebesar Rp227,93 miliar pada kuartal I/2024, berbalik dari periode yang sama tahun sebelumnya yang meraup laba Rp565,52 miliar.

Kondisi rugi BNII ini didorong oleh penyusutan pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) 2,68% secara tahunan menjadi Rp1,81 triliun pada kuartal I/2024.

Tekanan terhadap NII itu dikarenakan beban bunga yang membengkak 35,7% menjadi Rp1,32 triliun. Beban operasional selain bunga bersih juga naik dari Rp1,11 triliun menjadi Rp2,07 triliun. 

Alhasil, rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) menanjak dari 78,03% pada pada Maret 2023 menjadi 107,5% pada Maret 2024. Semakin menanjak rasio BOPO menunjukkan semakin berkurangnya kemampuan efisiensi perbankan dalam menjalankan usahanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Thomas Mola
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper