Bisnis.com, JAKARTA - Agustus 2025 menjadi tonggak sejarah baru industri perbankan syariah Indonesia dengan berdirinya Bank Syariah Nasional (BSN). Entitas ini lahir dari penggabungan Unit Usaha Syariah (UUS) BTN dan Bank Victoria Syariah (BVIS). Dengan aset awal mencapai Rp63 triliun pada kuartal I/2025, BSN langsung menempati posisi sebagai bank syariah terbesar kedua di Indonesia setelah Bank Syariah Indonesia (BSI).
Status BSN sebagai bank syariah BUMN tidak sekadar simbol, tetapi membawa konsekuensi strategis. Publik menaruh ekspektasi tinggi agar BSN menjadi motor pertumbuhan baru, bukan sekadar tambahan pemain. BTN menargetkan aset BSN dapat mencapai Rp100 triliun dalam 3 tahun, melalui kombinasi pertumbuhan organik dan akuisisi. Jika target itu terealisasi, BSN akan menjadi katalis pertumbuhan pangsa pasar perbankan syariah nasional yang saat ini masih sekitar 7% dari total aset perbankan.
Sebagai pembanding, Malaysia telah mencapai pangsa pasar syariah di atas 30% dari total industri perbankan, sedangkan Arab Saudi bahkan di atas 50%. Gap yang lebar ini sekaligus peluang besar bagi BSN untuk mempercepat konvergensi Indonesia dengan benchmark regional.
FONDASI REGULASI
BSN lahir dalam momentum regulasi yang relatif kondusif. UU P2SK (2023) yang menjadi tonggak arsitektur baru sektor jasa keuangan menegaskan dukungan negara terhadap penguatan perbankan syariah. Roadmap OJK 2023–2027 juga memandatkan konsolidasi, digitalisasi, dan inklusi sebagai pilar utama. Dukungan BUMN dari sisi modal dan jaringan distribusi BTN memberi leverage penting dalam penetrasi pasar.
Namun, dukungan struktural ini harus diimbangi dengan disiplin eksekusi. Tantangan integrasi sistem IT, harmonisasi kultur organisasi, hingga penataan ulang portofolio produk tidak bisa dianggap sepele. Tanpa strategi integrasi yang matang, risiko friksi dan inefisiensi akan membayangi
Dimensi Makroekonomi BSN juga memiliki peran penting dalam konteks makroekonomi. Pertumbuhan sektor keuangan syariah akan mendukung stabilitas sistem keuangan nasional sekaligus memperluas basis intermediasi pembiayaan. Dengan aset Rp63 triliun, kontribusi BSN terhadap total aset perbankan nasional memang masih kecil (<1%). Namun, proyeksi realistis menunjukkan, jika BSN tumbuh rata-rata 15% per tahun, maka pada 2030 asetnya bisa menembus Rp150 triliun—Rp170 triliun.
Baca Juga
Implikasi makro dari pertumbuhan ini adalah peningkatan kapasitas pembiayaan sektor riil, khususnya perumahan rakyat dan UMKM yang menjadi motor pertumbuhan ekonomi domestik. Jika BSN mampu menyalurkan pembiayaan syariah Rp100 triliun dalam 5 tahun ke depan, kontribusinya terhadap PDB bisa mencapai 0,5—0,7 poin. Angka ini signifikan untuk memperkuat resilien ekonomi nasional, sekaligus mengurangi ketergantungan pada pembiayaan berbasis konvensional.
POTENSI TERBUKA
Berdasarkan Survei OJK 2025, tingkat literasi keuangan syariah Indonesia baru mencapai 9,1% dan inklusi 13%. Artinya, lebih dari 80% masyarakat belum tersentuh layanan keuangan syariah. Ini merupakan pasar laten yang bisa menjadi basis ekspansi BSN.
Secara regional, kontribusi perbankan syariah Indonesia terhadap PDB masih rendah. Data IFSB (Islamic Financial Services Board) mencatat pangsa pasar aset perbankan syariah Indonesia di kisaran 7% pada 2024, jauh tertinggal dari Malaysia (30,3%), Uni Emirat Arab (22,1%), dan Qatar (27,8%). Ketertinggalan ini menandakan ruang pertumbuhan yang signifikan.
Selain itu, digitalisasi membuka horizon baru. Proyeksi Google-Temasek-Bain (2024) menunjukkan ekonomi digital Indonesia berpotensi mencapai US$160 miliar pada 2030. Jika 15%—20% dari transaksi digital diarahkan ke produk keuangan syariah, nilai potensi pasar BSN bisa menembus US$25 miliar—US$30 miliar dalam kurun 5 tahun.
INOVASI DIGITAL
BSN perlu menegaskan diferensiasi melalui digitalisasi. Tiga arah strategis dapat dijalankan:
Pertama, hyper-personalization berbasis AI—mengembangkan algoritma layanan sesuai kebutuhan spesifik segmen nasabah, mulai dari pembiayaan mikro hingga pembiayaan haji dan umrah.
Kedua, open banking berbasis API—memperkuat kolaborasi dengan fintech syariah, marketplace halal, hingga penyedia travel ibadah digital. Dengan integrasi API, BSN dapat menguasai ekosistem transaksi berbasis syariah
Ketiga, blockchain dan smart contracts—memperkuat kepatuhan syariah sekaligus transparansi, terutama pada instrumen sukuk digital dan pembiayaan hijau.
Benchmark internasional memperlihatkan urgensi inovasi digital. Malaysia meluncurkan Islamic Digital Bank pada 2023, sementara Dubai memposisikan diri sebagai hub fintech syariah global. Jika Indonesia ingin menjadi pemain utama, BSN harus bergerak lebih cepat dan agresif dalam mengadopsi teknologi frontier.
DIMENSI GLOBAL
Nilai aset perbankan syariah global pada 2024 mencapai US$2,4 triliun, tumbuh 10%—12% per tahun. Kontribusi Indonesia masih relatif kecil, sekitar 6%—10%. Dengan akselerasi BSN, gap ini bisa dipersempit.
Salah satu segmen yang sangat prospektif adalah green finance. Hingga 2024, Indonesia telah menerbitkan sukuk hijau dengan total nilai lebih dari US$7,5 miliar. Tren ESG global memperluas kebutuhan instrumen keuangan ramah lingkungan. BSN berpotensi mengambil posisi pionir dengan mengembangkan portofolio green financing, seperti pembiayaan energi terbarukan, transportasi rendah emisi, maupun kredit perumahan hijau.
Jika mampu menggarap segmen ini, BSN bukan hanya berkontribusi pada pertumbuhan aset, tetapi juga mendukung komitmen Indonesia dalam transisi energi dan pencapaian target Net Zero Emission 2060.
Selain perbankan, BSN juga berpeluang memperluas perannya ke pasar modal syariah. Instrumen sukuk, reksa dana syariah, hingga sekuritisasi aset halal bisa menjadi produk unggulan. Hingga 2024, outstanding sukuk negara Indonesia mencapai lebih dari Rp1.200 triliun, menjadikan Indonesia penerbit sukuk negara terbesar di dunia. Namun, kontribusi bank syariah dalam distribusi dan inovasi produk masih terbatas.
BSN dapat mengambil inisiatif dengan meluncurkan produk sukuk ritel hijau atau asset-backed securities syariah. Kehadiran produk semacam ini tidak hanya memperluas alternatif investasi bagi masyarakat, tetapi juga memperkuat posisi BSN sebagai jembatan antara sektor perbankan dan pasar modal syariah.
Untuk menghindari cannibalization atau overlap dengan BSI, BSN perlu menetapkan fokus segmen yang berbeda. BSI sudah dominan di korporasi besar, sehingga BSN dapat memusatkan diri pada pembiayaan perumahan rakyat berbasis syariah, pembiayaan UMKM dengan pendekatan digital, dan produk green financing dan sukuk retail.
Pendekatan ini tidak hanya memperkuat diferensiasi, tetapi juga mendukung misi inklusi keuangan nasional. Selain itu, BSN dapat membangun aliansi strategis dengan Islamic Development Bank (IsDB) atau bank-bank syariah di Asia Selatan dan Timur Tengah. Kolaborasi ini akan memperluas akses modal internasional sekaligus membuka jalan ekspansi regional.
Peluang besar BSN harus diimbangi dengan tata kelola dan manajemen risiko yang solid. Tantangan digitalisasi mencakup risiko siber, perlindungan data, serta literasi digital nasabah. Kegagalan mengantisipasi risiko-risiko ini berpotensi menggerus reputasi.
Kesiapan SDM juga menjadi faktor penentu. Bank syariah digital membutuhkan kombinasi talenta keuangan, teknologi, kepatuhan syariah, dan manajemen risiko. Dengan bonus demografi hingga 2035, BSN berkesempatan merekrut dan mengembangkan talenta muda sebagai motor inovasi.
Investasi pada human capital akan menentukan apakah BSN dapat menjadi leader inovasi atau hanya sekadar follower.
BSN hadir bukan sekadar hasil merger, tetapi bagian dari strategi negara menghadirkan bank syariah BUMN yang mampu bersaing di tingkat domestik dan global. Jika berhasil menjalankan transformasi digital, menggarap segmen pasar potensial, memperkuat green finance, memperluas keterlibatan di pasar modal, dan membangun tata kelola solid, BSN dapat mempercepat akselerasi keuangan syariah Indonesia.
Dalam perspektif jangka panjang, peran BSN akan berkontribusi signifikan terhadap visi Indonesia Emas 2045. Pangsa pasar syariah diproyeksikan bisa menembus 20%—25% pada 2045 jika konsolidasi, inovasi, dan inklusi berjalan konsisten. Keuangan syariah akan menjadi salah satu pilar kedaulatan ekonomi nasional, dan BSN diharapkan menjadi motor utamanya.
Dengan demikian, BSN bukan hanya bagian dari persaingan domestik, tetapi juga calon pemain global. Sebuah peran yang bukan hanya strategis bagi industri perbankan, tetapi juga fundamental bagi masa depan ekonomi syariah Indonesia.