Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kasus penggelapan dana melalui kartu meningkat drastis

JAKARTA: Kasus penggelapan dana melalui alat pembayaran menggunakan kartu mencapai 401.647 kali kejahatan hingga Juni 2011, dengan  nilai kerugian Rp17,76 miliar.
M. Munir Haikal
M. Munir Haikal - Bisnis.com 24 Agustus 2011  |  13:36 WIB

JAKARTA: Kasus penggelapan dana melalui alat pembayaran menggunakan kartu mencapai 401.647 kali kejahatan hingga Juni 2011, dengan  nilai kerugian Rp17,76 miliar.

 

Merujuk data Laporan Kantor Pusat Bank Umum Bank Indonesia, jumlah kasus kejahatan kartu pembayaran itu naik drastis jika dibandingkan dengan temuan tahun lalu, di mana hanya terjadi 18.122 kasus fraud. Namun demikian, sepanjang tahun lalu nilai kerugiannya jauh lebih besar, mencapai Rp55,22 miliar.

Pada 2009, jumlah kasus fraud kartu pembayaran lebih besar dari tahun lalu, mencapai 110.653 temuan dengan nilai kerugian relatif lebih kecil, yakni Rp44,99 miliar. Sayangnya, tidak tersedia data pada semester pertama 2010 maupun 2009 sebagai pembanding yang lebih tepat.

Menurut Kepala Biro Sistem Pembayaran BI Aribowo, modus kejahatan penggelapan dana melalui kartu yang paling banyak digunakan  adalah dengan berdalih  "kartu hilang dan dicuri".

 

"Lost and stolen card itu paling sering terjadi, sekitar 20% dari seluruh kejadian," katanya seraya menyebutkan modus berikutnya adalah card not present atau kartu pembayaran tidak dapat ditunjukkan.

Dijelaskan, kejahatan yang menggunakan mekanisme transaksi tanpa membutuhkan keberadaan kartu dapat terjadi apabila pelaku telah mendapatkan data lengkap mengenai identitas pemilik kartu.

 

BI telah mendata 11 modus kejahatan penggelapan dana melalui alat pembayaran menggunakan kartu sebagai berikut:

 

1. Kartu hilang dan dicuri,

2. Aplikasi palsu (fraudulent applications/ FA),

3. Pengubahan identitas pemilik kartu (account takeover),

4. Penyalahgunaan (unauthorized use of account numbers),

5. Kartu palsu (counterfeit cards and skimming).

6. Pengecekan akun (account testing),

7. Penipuan ATM (ATM scams),

8. Kartu tidak pernah sampai (not received items/ NRI),

8. Pencurian identitas (identity theft),

9. Phising (pengambilan data melalui peretasan perangkat lunak), dan

10. Pharming (pengambilan hasil kejahatan pada waktu tertentu).(mmh)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Intan Permatasari
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top