BANK MANDIRI ditawari kredit Rp3 triliun oleh 3 bank asing

 
News Editor | 29 April 2012 16:23 WIB

 

JAKARTA: Tiga bank asing  berminat untuk memberi pinjaman senilai total Rp3 triliun ke PT Bank Mandiri Tbk dengan tenor minimal  tiga tahun.                                         
 
Direktur Bank Mandiri Royke Tumilaar mengatakan masing-masing bank tersebut berencana memberi pinjaman senilai  Rp1 triliun ke perseroan. 
 
"Seiring dengan kucuran pinjaman tersebut  kreditur akan membeli obligasi rekapitalisasi [obligasi rekap] yang dimiliki oleh perseroan. Nilai obligasi rekap yang dibeli masing-masing bank tersebut mencapai  Rp1 triliun," ujarnya kepada Bisnis hari ini, Minggu 29 April 2012. 
 
Saat ini, lanjutnya, Bank Mandiri sedang bernegosiasi dengan tiga bank asing tersebut. "Kami segera finalkan rencana pinjaman tersebut. Mengenai tenor pinjaman kami patok minimal tiga tahun."                                  
 
Bank Mandiri memiliki obligasi rekap senilai Rp78 triliun dengan status available to sale sebesar Rp54 triliun dan hold to maturity sebesar Rp24 triliun.
 
Manajemen Bank Mandiri telah menyiapkan sejumlah strategi untuk melepas obligasi rekap, mulai buy back (pembelian kembali)  oleh pemerintah, penjualan kepada Bank Indonesia dan pelepasan ke investor.  
                                  
Saat ini dua bank  BUMN [badan usaha milik negara] yaitu PT Bank Negara Indonesia Tbk dan Bank Mandiri berupaya untuk melepas obligasi rekap yang dimilikinya supaya dapat meraih dana segar.
 
Apabila surat utang tersebut dapat dijual, entitas tersebut memiliki dana lebih besar untuk ekspansi dan tidak perlu bagi bank tersebut memelihara kewajiban dana pihak ketiga yang setara dengan jumlah obligasi rekap.
 
Bank Indonesia (BI) juga menempuh kebijakan menciptakan kondisi supaya bank BUMN dapat melepas obligasi rekap ke pasar keuangan dengan harga yang wajar. Meski, BI memastikan tidak berniat membeli obligasi rekap dari entitas bank tertentu.
 
Apabila opsi membeli obligasi rekap  terbuka, BI akan menyerap dari pasar keuangan dengan berpatokan terhadap harga yang akuntable dan transparan.
 
BI juga telah menggelar pembicaraan dengan Kementerian BUMN mengenai keinginan sejumlah entitas bank BUMN untuk melepas obligasi rekap yang dimilikinya.
 
Dampaknya,  bank BUMN bisa lebih efisien. Obligasi rekap yang dimaksud adalah jenis variable rate dengan tenor yang berbeda-beda.
 
Kontribusi bunga obligasi rekap jenis variable rate terhadap laba bank semakin menurun seiring dengan kebijakan acuan bunga surat utang tersebut yang berubah dari Sertifikat Bank Indonesia (SBI) ke Surat Perbendaharaan Negara (SPN). Saat ini kupon SPN berada pada level sebesar 2,18%.
 
Obligasi rekapitalisasi adalah surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah untuk mendukung modal perbankan pada saat krisis moneter 1997-1998.
 
Jumlah obligasi rekap yang diterbitkan mencapai Rp430 triliun dengan tenor paling panjang sampai 2020. Surat utang ini terbagi dua yaitu obligasi rekap fixed rate (bunga tetap) dengan kupon sekitar 13,175% hingga 14,275%. 
 
Entitas perbankan tentu akan mempertahankan obligasi rekap jenis ini karena kuponnya lebih tinggi dibandingkan dengan BI Rate yang berada di level 5,75% maupun tingkat imbal hasil surat utang negara yang berada di level 2,2% hingga 6,7%. (sut)

Sumber : M. Munir Haikal

Tag :
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top