Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

BUMN PERKEBUNAN: Holding Masih 'Nyangkut' di Presiden

BISNIS.COM, JAKARTA—Pembentukan induk usaha (holding) badan usaha milik negara (BUMN) sektor perkebunan terkendala belum adanya izin dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Herdiyan
Herdiyan - Bisnis.com 25 Maret 2013  |  12:27 WIB
BUMN PERKEBUNAN: Holding Masih 'Nyangkut' di Presiden
Bagikan

BISNIS.COM, JAKARTA—Pembentukan induk usaha (holding) badan usaha milik negara (BUMN) sektor perkebunan terkendala belum adanya izin dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

“Holding perkebunan masih belum bisa terealisasi karena macet di tingkat yang paling tinggi,” ujar Menteri BUMN Dahlan Iskan dalam acara diskusi bertema Peran Industri Semen Indonesia dalam Pembangunan Ekonomi di Indonesia dan Asia di Wisma Bisnis Indonesia, Jakarta, Senin (25/3/2013).

Nantinya, ujar Dahlan, pembentukan holding BUMN perkebunan itu akan diatur dalam Peraturan Pemerintah (PP).

Secara de jure pembentukan holding BUMN perkebunan belum terealisasi, namun secara de facto holding tersebut terbentuk dari gabungan PT Perkebunan Nusantara I (Persero) sampai dengan PTPN XIV (Persero).

“Yang penting, praktiknya sudah jadi holding. Jadi, holding BUMN perkebunan sudah membantu perusahaan-perusahaan di bawahnya,” ujarnya.

Saat ini, Kementerian BUMN masih menunggu pembahasan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) tentang pembentukan holding BUMN perkebunan oleh Sekretariat Negara.
 
Setelah RPP disetujui oleh Setneg, pembentukan holding BUMN perkebunan tinggal menunggu tanda tangan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Dahlan Iskan bumn perkebunan holding bumn perkebunan
Editor : Others
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top