Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

PRODUK ASURANSI Masyarakat Miskin Kalah Sama Rokok

BISNIS.COM, MANADO—Pemerintah mengakui sulitnya membuat produk finansial yang tepat untuk masyarakat miskin, karena terkendala masalah administrasi kependudukan dan pola pikir masyarakat yang harus sulit untuk diubah.Isa Rachmatarwata, Ketua Tim
Yeni H. Simanjuntak
Yeni H. Simanjuntak - Bisnis.com 24 Mei 2013  |  13:36 WIB

BISNIS.COM, MANADO—Pemerintah mengakui sulitnya membuat produk finansial yang tepat untuk masyarakat miskin, karena terkendala masalah administrasi kependudukan dan pola pikir masyarakat yang harus sulit untuk diubah.

Isa Rachmatarwata, Ketua Tim Formulasi Sektor Keuangan Badan Kebijakan Fiskal Kementerian Keuangan, mengatakan tidak mudah membuat produk finansial yang tepat untuk masyarakat miskin.

Dia menyontohkan program Tabunganku yakni produk tabungan yang dirancang untuk masyarakat kurang mampu dan didukung oleh sejumlah bank, setelah dikoordinasi oleh Bank Indonesia.

“Masalahnya adalah Tabunganku itu butuh kartu tanda pengenal, karena bank tetap harus melakukan know your customer [pengenalan nasabah]. Bank Indonesia tengah melakukan kajian untuk ini,” katanya dalam forum Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) Workshop on Financial Inclusion 2013, Jumat (24/5).

Dalam kesempatan itu, dia juga menyebutkan sulitnya meyakinkan masyarakat berpendapatan rendah untuk menggunakan uang mereka membeli produk asuransi murah dibandingkan dengan menghabiskannya untuk konsumsi rokok.

“Tidak mudah untuk membuat mereka mengalihkan uang yang mereka habiskan untuk membeli rokok agar digunakan untuk membeli produk asuransi yang preminya hanya Rp25.000 per bulan dan memberikan manfaat yang signifikan untuk mereka. Padahal mereka bisa menghabiskan Rp40.000 sebulan untuk rokok,” jelas Isa.

Mengutip data Bank Dunia 2010, dia menyebutkan 80% dari rumah tangga miskin tidak memiliki akses ke layanan keuangan formal.

Sejumlah masalah dalam melakukan layanan keuangan menjadi inklusif (financial inclusion) yakni kompleksitas yang dirasakan oleh konsumen saat berurusan dengan lembaga keuangan, sebagian besar masyarakat miskin beranggapan bahwa institusi finansial diperuntukkan bagi masyarakat modern, serta minimnya keuntungan yang diperoleh institusi keuangan yang berurusan dengan konsumen dari segmen ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

asuransi masyarakat miskin
Editor : Fajar Sidik
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top