Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kredit Macet Diyakini Tetap Rendah

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia meyakini peningkatan risiko kredit perbankan nasional akibat pelambatan ekonomi di Tanah Air cukup kecil, meskipun pada krisis 2008—2009 rasio kredit bermasalah sempat meningkat cukup tinggi.
Donald Banjarnahor
Donald Banjarnahor - Bisnis.com 27 Agustus 2013  |  18:07 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia meyakini peningkatan risiko kredit perbankan nasional akibat pelambatan ekonomi di Tanah Air cukup kecil, meskipun pada krisis 2008—2009 rasio kredit bermasalah sempat meningkat cukup tinggi.

Halim Alamsyah, Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), mengatakan pelambatan ekonomi tidak akan meningkatkan rasio kredit bermasalah secara signifikan. Hal tersebut merupakan hasil uji ketahanan (stress test) perbankan nasional dengan berbagai skenario.

“Kalau pertumbuhan ekonomi menurun ada kemungkinan kenaikan NPL terjadi, tetapi cukup kecil,” ujarnya, Senin (26/8/2013) malam.

Dia menjabarkan setiap penurunan produk domestik bruto (PDB) 1% maka akan menaikan NPL sekitar 0,2%--0,3%.  Atas dasar itu, dia berpandangan kenaikan NPL akibat pelambatan ekonomi tidak akan signifikan karena bank sental optimistis PDB akan tumbuh ke batas bawah kisaran 5,8%--6,2%.

“Kalau PDB turun hanya 0,1%--0,2% maka NPL tidak pengaruh atau kenaikan kecil sekali. Risiko NPL yang naik adalah sektor yang berkaitan dengan ekpor dan konsumsi domestik,” ujarnya.

Hingga akhir Juni, rasio kredit bermasalah cukup terkendali dengan posisi NPL gross sebesar 1,9%, jauh di bawah batas tingkat kesehatan bank yang ditetapkan 5%. Sementara itu, pertumbuhan ekonomi sudah melambat hingga menyentuh 5,81% pada triwulan II, jauh lebih rendah dibandingkan dengan setahun lalu yang mencapai 6,3%.

Pelambatan ekonomi juga pernah terjadi pada krisis 2008—2009 lalu. Pada akhir 2009, ekonomi hanya tumbuh 4,5% sementara setahun sebelumnya sempat menyentuh 6,1%. Pada 2009, NPL sempat naik ke 4,14%, padahal pada akhir 2008 masih berada pada 3,2%.

Sementara itu, Direktur Manajemen Risiko Bank Mandiri Sentot A. Sentausa meyakini sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) dapat bertahan dalam menghadapi perlambatan ekonomi nasional karena mengandalkan konsumsi domestik.

Menurutnya, penurunan daya beli masyarakat akibat kenaikan inflasi yang tinggi hanya akan terjadi untuk sementara waktu. Dia meyakini daya beli masyarakat akan kembali pulih.

Bank Mandiri, tuturnya, masih terus memantau perkembangan ekonomi nasional dan hingga saat ini belum terlihat hal yang mengkhawatirkan. "Ya ini sesuatu yang memang harus terus diwaspadai tapi jangan terlalu berlebihan juga. Lakukan bisnis seperti biasa, tetapi  jangan meremehkan risiko,” ujarnya.

Menurutnya, permintaan atas kredit UMKM masih cukup besar meskipun ekonomi sudah mengalami pelambatan. Dia juga menyakini kredit UMKM masih tumbuh selama semester II ini.

Bank terbesar di Indonesia dari sisi aset ini mencatat penyaluran kredit UMKM sebesar Rp170,8 triliun, meningkat 23,41% dari setahun sebelumnya. Ekspansi kredit UMKM lebih tinggi dibandingkan dengan total kredit Bank Mandiri yang tecatat tumbuh 22,3%.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bank indonesia npl

Sumber : Donald Banjarnahor

Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top