Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Jelang Pemilu, Jumlah Uang Palsu di Jabar Membludak

Bank Indonesia Regional VI Jawa Barat dan Banten menyatakan uang palsu yang beredar di Jabar meningkat menjelang Pemilu pada April 2014. Hingga akhir Februari 2014 telah ditemukan uang palsu dari dua percetakan yang jumlahnya mencapai Rp4 miliar.
Target edukasi ini difokuskan kepada para pedagang dan masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang pengetahuan keuangannya masih minim./Ilustrasi
Target edukasi ini difokuskan kepada para pedagang dan masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang pengetahuan keuangannya masih minim./Ilustrasi

Bisnis.com, BANDUNG - Bank Indonesia Regional VI Jawa Barat dan Banten menyatakan uang palsu yang beredar di Jabar meningkat menjelang Pemilu pada April 2014.

Manajer Humas Kantor Perwakilan BI Wilayah VI Jabar dan Banten Dandi Indarto Seno mengatakan hingga akhir Februari 2014 telah ditemukan uang palsu dari dua percetakan yang jumlahnya mencapai Rp4 miliar.

"Dua hari lalu ditemukan uang palsu sebesar Rp1 miliar, sedangkan Rp3 miliar ditemukan pada Januari. Kedua kasus itu terjadi di Bandung," ucapnya kepada Bisnis.com, Kamis (27/2/2014). Dandi merinci uang Rp4 miliar yang dipalsukan terdiri dari pecahan Rp50.000 dan Rp100.000.

Menurutnya, walaupun pengerjaan uang palsu dilakukan oleh usaha percetakan rumahan, kualitasnya sangat baik. Para pelaku, kata Dandi, memalsukan uang dengan mengambil gambar uang pecahan Rp50.000 dan Rp100.000 dari internet, kemudian uang palsu dibuat dengan alat-alat berupa plat aluminium, kertas, tinta, printer, sablon, dan lem.

"Kekurangan uang palsu itu hanya pada gambar timbul pada uang atau water mark yang tidak muncul pada uang palsu, namun kalau malam hari tidak terlihat sama sekali perbedaannya. Para pelaku ini memalsukan uang berdasarkan pesanan," katanya.

Bank Indonesia terus mengintensifkan edukasi mengenai keaslian uang, terutama ke sejumlah daerah terpencil di Jabar yang tidak terjangkau layanan perbankan, seperti Cianjur dan Purwakarta. Di daerah tersebut, sosialisasi dilakukan di tempat-tempat transaksi keuangan, seperti warung dan pasar.

Target edukasi ini difokuskan kepada para pedagang dan masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang pengetahuan keuangannya masih minim. Selain itu, target edukasi juga menyasar masyarakat dan pengusaha kecil yang tidak memiliki alat pendeteksi uang palsu.

"Selama ini, alat pendeteksi uang palsu hanya dimiliki pedagang besar dan di pasar modern sehingga pedagang kecil tidak bisa mendeteksi uang palsu," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Rani

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper