Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pertumbuhan Uang Beredar Melambat

Pada Januari 2014 pertumbuhan uang beredar M2 mencapai Rp3.649,3 triliun atau tumbuh 11,6% (yoy). Angka tersebut melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada Desember 2013 sebesar 12,7% (yoy).
Ismail Fahmi
Ismail Fahmi - Bisnis.com 07 Maret 2014  |  14:05 WIB
Pecahan rupiah - wikipedia
Pecahan rupiah - wikipedia

Bisnis.com, JAKARTA--Pada Januari 2014 pertumbuhan uang beredar M2 mencapai Rp3.649,3 triliun atau tumbuh 11,6% (yoy). Angka tersebut melambat dibandingkan dengan pertumbuhan pada Desember 2013 sebesar 12,7% (yoy).

Bank Indonesia pada  situs resminya, Jumat (7/3/2014) menyebutkan pelambatan perkembangan M2 dipengaruhi oleh komponen Uang Kuasi (Dana Pihak Ketiga yang terdiri dari simpanan berjangka dan tabungan baik rupiah maupun valas serta simpanan giro valas) yang tumbuh rendah  dari 14,8% (yoy) menjadi 12,7% (yoy).

Sebaliknya,  pertumbuhan M1 (Uang Kartal dan Giro Rupiah) meningkat dari 5,4% (yoy) menjadi 7,0% (yoy).

Perlambatan pertumbuhan M2 disebabkan oleh melambatnya pertumbuhan kredit dan kontraksi operasi keuangan pemerintah sebagai faktor yang mempengaruhi. Kredit kepada sektor swasta tumbuh 20,9% (yoy), melambat dibandingkan Desember 2013 sebesar 21,4% (yoy).

Sementara itu, operasi keuangan Pemerintah mengalami kontraksi akibat masih rendahnya realisasi belanja pemerintah sesuai pola di awal tahun.

Suku bunga simpanan di perbankan pada Januari 2014 masih meningkat. Suku bunga simpanan rupiah pada Januari 2014 untuk jangka waktu 3 dan 6 bulan tercatat 8,0% dan 7,9%, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya masing-masing sebesar 7,6% dan 7,5%.

Namun demikian, kenaikan suku bunga simpanan rupiah ini tidak diikuti oleh suku bunga kredit yang selama Januari 2014 tercatat tetap sebesar 12,5%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

uang beredar
Editor : Ismail Fahmi

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top