Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

KINERJA PERBANKAN: 3 Faktor Penyebab Laba BTPN Turun Pada Kuartal I/2014

Laba bersih PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk., mengalami penurunan tipis 8,39% menjadi Rp491,02 miliar pada kuartal I/2014 dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp536 miliar.
Sukirno
Sukirno - Bisnis.com 22 April 2014  |  22:34 WIB
BTPN - Bisnis.com
BTPN - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Laba bersih PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk., turun tipis yaitu 8,39% menjadi Rp491,02 miliar pada kuartal I/2014 dibandingkan periode yang sama tahun lalu Rp536 miliar.

Jerry Ng, Direktur Utama BTPN, memberikan alasan penurunan laba bersih perseroan itu akibat masih terkena dampak dinamika perekonomian yang terjadi sejak semester II/2013. Dampak tersebut berlanjut hingga kini.

"Kami tentu bersyukur tetap bisa tumbuh di tengah situasi perekonomian yang penuh tantangan," katanya dalam keterangan pers, Selasa (22/4/2014).

Menurutnya, kondisi perekonomian nasional masih dibayang-bayangi oleh inflasi tinggi, kenaikan suku bunga simpanan dan pemulihan ekonomi global. Ketiga faktor tersebut penyebab laba bersih BTPN turun.

Situasi tersebut mendorong perbankan melakukan sejumlah penyesuaian termasuk memperlambat laju kredit. "Kami optimistis, setelah itu industri bisa bertumbuh lebih baik," paparnya.

Dia menjelaskan penyaluran kredit triwulan I/2014 yang tumbuh sehat dengan tingkat rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) sangat rendah.

BTPN membukukan pertumbuhan kredit tahunan sebesar 14% (year-on-year/yoy), dari Rp41 triliun pada 31 Maret 2013 menjadi Rp47 triliun pada 31 Maret 2014.

Pencapaian ini diklaim sejalan dengan ekspektasi regulator yang menargetkan peningkatan kredit pada kisaran 15% demi pertumbuhan ekonomi yang lebih sehat dan seimbang.

Kenaikan penyaluran kredit, sambungnya, tetap diimbangi dengan penerapan asas kehati-hatian yang tercermin dari NPL gross 0,7% pada akhir Maret 2014, tidak berbeda dari NPL gross akhir Maret 2013.

Pertumbuhan kredit dan NPL rendah ini, katanya, tidak terlepas dari strategi BTPN yang memberikan pelatihan dan pendampingan berlanjutan kepada debitur. Pelatihan dan pendampingan yang dikenal dengan program daya bertujuan untuk meningkatkan kapasitas nasabah pensiunan, pelaku usaha mikro & kecil (UMK), serta komunitas pra-sejahtera produktif.

“Nasabah yang disiplin mempraktekkan pelatihan keuangan dalam mengelola usahanya, merasakan langsung manfaat program daya,” ungkap Jerry.

Sepanjang tiga bulan pertama 2014, BTPN telah menyelenggarakan 46.233 aktivitas daya, tumbuh 194% dari periode yang sama tahun 2013. Sedangkan jumlah peserta daya mencapai 566.772 nasabah, atau meningkat 101% (y-o-y).

Data ini menunjukkan tingginya minat nasabah mass market untuk mengikuti pemberdayaan yang dapat meningkatkan kapasitas usaha mereka.

Sejalan dengan langkah perusahaan untuk memperlambat laju kredit, BTPN menyeimbangkan porsi pendanaan dengan memperhatikan kecukupan likuiditas. Per 31 Maret 2014, dana pihak ketiga (DPK) BTPN tercatat Rp49,3 triliun, tumbuh 6% dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp46,6 triliun.

“Dengan strategi ini, loan to deposit ratio (LDR) terjaga di level 95%," imbuhnya.

Apabila memperhitungkan pendanaan dari obligasi, rasio likuiditas BTPN mencapai 84%, yang diklaim sangat kuat dan sehat.

Pertumbuhan yang cukup moderat di sisi kredit dan DPK, mendorong peningkatan aset BTPN sebesar 8% (y-o-y) dari Rp62,6 triliun menjadi Rp67,3 triliun pada 31 Maret 2014.

Adapun rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) sebesar 24%, jauh di atas ambang batas ideal yang ditentukan regulator.

Jerry mengaku optimistis terhadap pertumbuhan BTPN kedepan. Menurutnya, dengan CAR yang kuat, dan utamanya dengan bergabungnya Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC) menjadi salah satu pemegang saham pengendali, dirinya yakin akan semakin memperkuat bisnis dan pertumbuhan BTPN kedepan.

Pada 14 Maret 2014 lalu, SMBC telah menyelesaikan proses pembelian saham BTPN. Kini BTPN memiliki dua pemegang saham pengendali yang dinilai kredibel dan terpercaya, yakni TPG Nusantara S.a.r.l (25,88%) dan SMBC (40%).

Keberadaan dua pemegang saham pengendali diyakini akan memberikan dampak positif atas kinerja BTPN.

Pada triwulan I/2014, BTPN membukukan laba bersih setelah pajak sebesar Rp493 miliar. Jika dibandingkan laba bersih selama triwulan IV/2013 (quarter over quarter/QoQ), laba bersih triwulan I/2014 tumbuh 8%.

Lebih lanjut Jerry mengungkapkan bahwa ditengah dinamika ekonomi yang cukup menantang, BTPN tetap konsisten melanjutkan investasi dan ekspansi. Diantaranya dengan mengakusisi Bank Sahabat Purba Danarta, memperluas jaringan distribusi, dan terus mengembangkan unit usaha syariah yang berfokus melayani masyarakat pra-sejahtera produktif.

“Bisnis model syariah yang kami kembangkan sangat padat karya," jelasnya.

Saat ini, unit usaha syariah BTPN memiliki 8.275 karyawan, dan selama triwulan I/2014 kredit yang disalurkan kepada nasabah pra-sejahtera produktif mencapai Rp1,6 triliun, atau tumbuh 161% dibandingkan triwulan I/2013.

BTPN tercatat memiliki total jaringan kantor lebih dari 1.200 dan total karyawan lebih dari 23.000 orang.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

btpn
Editor : Sepudin Zuhri

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top