ORANG TERKAYA INDONESIA: Harta Duo Hartono Menurun

Duo pengusaha tembakau ternama ini kekayaannya menurun. Mereka adalah Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono. Kekayaan Budi merosot hingga 4,8% atau sebesar US$391.1juta, namun dilihat dari YTD, tetap bertambah 20% atau sebesar US$1.3miliar.
Atiqa Hanum | 02 Juni 2014 21:25 WIB
Robert Budi Hartono

Bisnis.com, JAKARTA -- Duo pengusaha tembakau ternama Indonesia, Robert Budi Hartono dan Michael Bambang Hartono dilaporkan kekayaannya mengalami penurunan.

Kekayaan Budi merosot hingga 4,8% atau sebesar US$391.1juta, namun dilihat dari YTD, tetap bertambah 20% atau sebesar US$1.3miliar.

Sedangkan, Michael Hartono tidak jauh berbeda dengan sang kakak, yakni 4,9% atau sebesar US$390.7juta, dan YTD tetap naik 22,7% atau sebesar US$1,4miliar seperti dilansir Bloomberg beberapa waktu lalu.

Tercatat sebagai orang terkaya Indonesia, penurunan kekayaan itu tidak begitu berarti bagi pemilik pabrik rokok PT Djarum ini.

Hal itu karena aset mereka tersebar di mana-mana, seperti pemegang saham terbesar di Bank Central Asia melalui Farindo.

Perusahaan induk mereka memperoleh kendali pada tahun 2007 dari hedge fund AS Farallon Capital.

Aset lainnya termasuk di menara telekomunikasi, real estat dan kelapa sawit.

Kedua kakak beradik ini mewarisi perusahaan Djarum dari ayah mereka, Oei Wie Gwan. Kecerdasan ayahnya membesarkan nama Hartono sekeluarga.

Oei Wie Gwan memulai membuat rokok Djarum dari sebuah bengkel di Kudus, Jawa Tengah.

Dia mencampur tembakau dengan cengkeh yang merupakan rempah asli Indonesia.

Bila tidak mempromosikan dan menjual Djarum di jalan-jalan Kudus, Oei akan menggulirkan rokok—yang dikenal sebagai rokok kretek untuk suara berderak yang dibuat oleh rempah-rempah wangi terbakar—di lantai bengkel.

Budi dan Michael mengambil alih bisnis sesaat setelah ayah mereka meninggal.

Mereka membangun kembali dan memodernisasi Djarum dengan mendirikan pusat penelitian dan pengembangan untuk menciptakan campuran kretek baru.

Pada akhirnya, perusahaan ini mulai melakukan ekspor rokok tahun 1972.

Rokok kretek lintingan itu dibuat oleh 60.000 pekerja. Sembilan puluh persen perokok di Indonesia membeli rokok kretek.

Selain itu, mereka juga tergerak untuk mendirikan Yayasan Djarum yang memberikan lebih dari 500 beasiswa kepada mahasiswa setiap tahunnya.

Pada 2004, mereka memperluas bisnis dengan merambah dunia properti.

Mereka berhak untuk mengembangkan Hotel Indonesia dan hotel lainnya dengan mengubah daerah sekitar menjadi pusat perbelanjaan, perkantoran dan kompleks apartemen yang disebut Grand Indonesia.

Tag : wealth, lifestyle, enterpreneur
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top